Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 79 ~ Orang di balik kecelakaan Raka


__ADS_3

Bayu mengangakan mulutnya lebar. Salahkah pendengarannya? pikirnya saat itu. Namun, melihat cara Raka menatapnya, Bayu yakin bila Raka sungguh-sungguh.


"Terus, kenapa Lo bersikap kaya tadi sama Resti?" tanya Bayu bingung.


Raka melepaskan tangannya yang bertengger di pundak sang sahabat. Pandangannya beralih pada jalan di depannya. Helaan napas kasar, terdengar dari bibir Raka.


"Dia benci sama gue. Dia juga gak bisa menerima gue lagi. Jadi, sebaiknya gue lepas dia," jawab Raka.


Angannya melayang pada pertemuan terakhirnya dengan Resti. Meski tak satu pun pertanyaannya dijawab oleh mantan istrinya, Raka berkesimpulan, bila Resti tak lagi mencintainya. Karena itu, ia berjanji dalam hati, bila ia akan membiarkan Resti dengan pilihannya.


"Bay, tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun," pinta Raka.


"Okay!" Bayu pun kembali melajukan mobil ke kantor.


Sepanjang sisa perjalanan, keduanya tak saling bicara lagi. Bayu bisa melihat, bila Raka telah banyak berubah. Dalam hati, pria itu berharap yang terbaik bagi sahabat sekaligus atasannya ini.

__ADS_1


***


Satu bulan berlalu. Resti dan Dimas kini semakin dekat. Dimas, yang sebelumnya tak ingin mengurus perusahaan sang ayah, kini mulai menjalankannya. Selama ini, perusahaan itu dikelola oleh orang kepercayaan sang ayah. Namun, setelah Dimas datang, ia lah yang mengelolanya.


Resti sendiri, tak lagi memikirkan Raka. Bagaimana pun, hubungan di antara mereka sudah lama berakhir. Wanita itu, mencoba menjalani hidupnya tanpa harus menyimpan duka masa lalunya lagi.


Bukan tanpa sebab, Resti melakukan semua itu. Dimas lah yang memberinya semangat, untuk bisa berdamai dengan masa lalunya. Kini, Resti bisa merasakan sedikit kedamaian di hatinya. Baginya, perjalanan rumah tangganya dulu, akan ia jadikan pelajaran yang berharga.


Sebagai ucapan terima kasih, Resti mengajak Dimas makan siang bersama di sebuah restoran yang cukup terkenal. Tentu saja, Dimas menyambutnya dengan senang hati. Selama ini, pria itulah yang selalu mengajaknya keluar lebih dulu.


"Okay!" jawab Dimas. Pria itu pun mengambil ponsel dari sakunya, lalu memainkannya.


Di toilet, Resti tak sengaja mendengar pembicaraan seseorang yang baru masuk. Ia mengenali suara tersebut. Resti pun menajamkan pendengarannya.


"Jadi, Lo yang ngerencanain kecelakaannya Raka?" tanya salah seorang dari mereka.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari orang yang satunya. Resti terus berusaha mendengarkan pembicaraan mereka.


"Lo gila! Kalau ketahuan, karir Lo bakal hancur, Ris," lanjutnya.


"Gue gak punya cara lain. Gue gak mau dia balik lagi sama mantan istrinya itu. Kalau Raka gak pilih gue, ya, dia gak boleh balik lagi sama mantan istrinya itu!"


Resti mengangakan mulut tak percaya. Ia tak menyangka, bila wanita yang selalu menempati hati Raka itu, tega melakukan hal bodoh.


"Ya, gak gitu caranya, dong. Terus, kalau ketahuan gimana?" tanya lawan bicaranya itu.


"Tenang aja! Gak akan ada yang bisa buktiin kalau gue terlibat dalam kecelakaan itu!" ucapnya penuh keyakinan.


Kedua orang itu terkejut, ketika pintu toilet terbuka. Terlebih, Resti muncul dengan wajah tak bersahabat. Ia bisa melihat perubahan di wajah Riska. Ada rasa takut di mata wanita itu. Pupil matanya pun sedikit membesar.


"Jadi, kamu orang di balik kecelakaan yang menimpa Raka? Puas kamu sudah melakukan semua itu?" pekik Resti.

__ADS_1


__ADS_2