Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 74 ~ Di rumah sakit


__ADS_3

"Seandainya bisa, sudah kulakukan sejak awal!" Dimas segera meninggalkan tempat itu tanpa berpaling.


Resti hanya mampu menatap punggung Dimas yang terus menjauh. Ia sadar, telah mengecewakan pria yang selalu berbuat baik padanya. Salahkah ia yang tidak mampu berpaling?


"Maaf," gumam Resti. Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.


Wanita itu pun turut beranjak, meninggalkan restoran. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Resti berusaha memfokuskan diri, tetapi pikirannya tetap tertuju pada Dimas.


"Hah! Aku harus menuntaskan masalah yang terjadi di antara kami. Paling tidak, Dimas tidak perlu mengharapkan aku lagi. Masih banyak wanita yang menyukai dirinya." Resti berbicara pada dirinya sendiri.


Ia pun mengirimkan pesan singkat pada pria itu. Kemudian, kembali bekerja.


***


Sesuai dengan rencananya, Resti segera menuju tempat yang sudah ia kirimkan pada Dimas. Tiba di sana, Dimas belum terlihat sama sekali. Resti mengambil ponsel yang tersimpan dalam tasnya. Melihat pesan yang tadi ia kirimkan.


Dahinya berkerut, saat mengetahui Dimas tak kunjung membuka pesannya. Ia pun mencoba mengirimkan pesan sekali lagi. Satu menit, dua menit, pesan itu masih tak juga Dimas baca.


Jemarinya tak sengaja menggulir aplikasi pesan itu ke arah status. Mata Resti tertuju pada status yang dibuat oleh Chyntia, ibu dari Adam. Dia juga adalah kakak ipar dari Dimas.

__ADS_1


"Apa Dimas sakit? Sebaiknya, aku hubungi Mbak Chyntia dulu," gumam Resti.


Tanpa membuang waktu, Resti segera menghubungi Chyntia. Tak butuh waktu lama bagi Chyntia untuk mengangkat panggilan dari Resti. Mereka saling menanyakan kabar sebagai basa-basi. Ia tak segera menanyakan Dimas.


"Oh, iya, Res. Kamu tahu gak kalau Dimas dirawat?"


Akhirnya, Chyntia memberitahu apa yang ingin Resti ketahui. Wanita itu memang sengaja tak langsung menanyakan tentang Dimas.


"Dirawat? Siang tadi kami bertemu, dia baik-baik saja, Mbak," jawab Resti.


"Dia hanya berpura-pura, kalau dia itu baik-baik saja. Sebenarnya, sudah hampir satu minggu Dimas dirawat di rumah sakit. Waktu asistennya bilang ada pertemuan dengan kamu, dia memaksakan diri untuk datang. Sekarang, dia kembali terbaring lemah."


"Boleh aku tahu Dimas dirawat di mana, Mbak?" tanya Resti.


"Rumah sakit xxx."


"Makasih, Mbak. Sekarang, masih jam besuk, 'kan?" tanya Resti.


"Kebetulan sudah habis. Aku beritahu letak kamarnya saja, ya. Lantai sepuluh, kamar VIP 1 . Jam besuk berlaku dua kali sehari. Pagi, jam sembilan sampai sebelas. Sore, jam lima sampai jam tujuh."

__ADS_1


"Iya, Mbak. Terima kasih informasinya." Mereka pun mengakhiri panggilan itu. Tak lupa, Resti menitipkan salam untuk Adam. Kemudian, Resti menyimpan kembali ponsel tersebut.


Keesokkan harinya, Resti pergi ke rumah sakit lebih dulu. Sebelum itu, ia sudah meminta Chyntia untuk tidak memberitahu Dimas, bila dirinya akan datang menjenguk. Kini, ia sudah berdiri tepat di depan ruang rawat Dimas. Berkali-kali Resti menarik napas dalam dan menghelanya perlahan.


Tepat saat Resti akan membuka pintu, Chyntia keluar. Ibu satu anak itu tersenyum senang melihat kedatangan Resti. Dengan isyarat matanya, ia meminta Resti masuk ke dalam. Dengan perlahan, Resti masuk ke dalam.


Di sana, ada dua orang paruh baya yang kemungkinan orang tua Dimas. Sementara yang dikunjungi, menatap Resti datar.


"Dari mana kau tahu aku di sini?" tanya Dimas datar.


"Dimas! Kamu gak boleh kayak gitu sama tamu!" ujar wanita, yang Resti duga ibu dari Dimas.


Dimas memilih memalingkan wajahnya. Perlahan, Resti menghampiri mereka. Ia mencium punggung tangan orang tua Dimas. Keduanya tersenyum ramah pada Resti.


"Saya Resti, Tante, teman Dimas." Ia memperkenalkan diri.


"Oh, jadi kamu gadis yang ditunggu Dimas?" tanyanya.


Resti tak mampu menutupi rasa terkejutnya. Menunggu? Aku? Untuk apa?

__ADS_1


__ADS_2