
Resti segera memarkirkan mobilnya. Dengan langkah lebar, wanita itu menyusuri lorong rumah sakit. Sebelum turun tadi, Chyntia sudah memberitahukan letak kamar Dimas.
Tegas wanita itu menuju kamar pria yang ia anggap teman. Sayangnya, langkah Resti terhenti, kala seseorang menahan lengan wanita itu. Resti menoleh. Ia terkejut melihat Raka yang berdiri menjulang di hadapannya.
Pandangan Resti tertuju pada wajah Raka yang terlihat lebam. Tanpa sadar, tangan Resti terulur menyentuh lebam-lebam itu. Mengusapnya perlahan dan lembut.
Entah apa yang tengah wanita itu pikirkan. Raka memejamkan mata sesaat. Seakan tengah meresapi sentuhan Resti di wajahnya. Sentuhan, yang begitu ia rindukan.
"Maaf," ucap Resti ketika tersadar. Ia segera membuang wajah dari tatapan Raka. Sebelah tangannya yang bebas, menyentuh pipi yang terasa basah.
Kenapa aku menangis? Tidak! Ini tidak mungkin, sangkal Resti dalam hati.
Ia segera menarik lengannya yang ditahan Raka. Kemudian, melanjutkan langkahnya menuju kamar Dimas.
"Sayang, bisakah kita bicara?" tanya Raka.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Kamu tahu, Mas? Setiap melihatmu, ingatan saat kau memilih menggugurkan anakku, membuatku sakit," jawab Resti.
__ADS_1
Raka terpaku mendengar ucapan Resti. Ia mungkin tak pernah membayangkan sakitnya hati Resti, kala Raka mengambil keputusan itu.
"Tapi, kalau aku biarkan janin itu tetap bertumbuh, justru aku akan kehilangan kalian berdua," elak Raka dengan nada frustasi.
Resti tahu, saat itu Raka berada dalam dilema. Namun, egonya sebagai ibu dan wanita yang tersakiti, tidak bisa terima keputusan yang Raka ambil. Tawa getir terdengar dari Resti. Ia berbalik menatap Raka tajam.
"Tanpa janin itu, kau sudah kehilangan aku. Bukankah kau sudah memilih bersama dengan dia? Kenapa sekarang kau mencariku? Hubungan kita, sudah lama hancur. Ingat ini, kamu adalah penyebab segala malapetaka yang terjadi dalam hidupku!" Resti menunjuk dada Raka dengan nada penuh kegeraman.
Setelah melampiaskan rasa kesalnya, Resti meninggalkan Raka yang masih berdiri terpaku di sana. Menatap punggung Resti yang mulai menjauh.
Tiba di kamar yang ia tuju, Resti mengetuk pintu ruangan itu. Tak lama, terlihat Chyntia membukakan pintu. Wanita itu tersenyum pada Resti.
"Bagaimana kondisi Dimas, Mbak?" tanya Resti setelah masuk.
Matanya menatap sedih pria yang terbaring lemah di ranjang pasien itu. Wajahnya terlihat pucat, dengan banyak luka lebam.
Kenapa wajah Dimas lebam seperti Mas Raka? Apa mungkin ... tidak! Mereka tidak saling mengenal. Mana mungkin mereka berkelahi? Lagi pula, tidak ada yang bisa memicu pertengkaran di antara mereka, monolog Resti.
__ADS_1
"Demamnya mulai turun. Dokter bilang, itu efek dari luka yang ada di tubuh Dimas. Sekarang, kita tunggu dia sadar dulu," jawab Chyntia.
Ia menarik Resti menuju sofa. Di sana, sudah ada Adam yang terlelap. Namun, Resti tak melihat keberadaan sepupu Dimas, yang notabene ayah dari Adam.
"Mas Devan ke mana, Mbak?" tanya Resti lagi.
"Dia sedang memeriksa dashcam mobil Dimas. Siapa tahu, ada petunjuk di sana," jawab Chyntia lagi.
Wanita itu sibuk membenarkan posisi tidur putranya. Resti hanya memperhatikan. Tak lama, terdengar erangan dari arah ranjang pasien. Refleks, Resti menghampiri Dimas.
"Kamu sudah sadar? Butuh sesuatu, atau ada yang sakit?" tanya Resti beruntun.
Dimas menatap Resti intens, tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Kemudian, membuang pandangannya ke arah lain. Sesaat, Resti tertegun melihat Dimas memalingkan wajah.
Dokter dan perawat masuk. Resti bahkan tak sadar, bila seorang perawat mendorongnya mundur. Pikirannya sibuk mencari informasi dengan yang terjadi.
Kenapa Dimas enggan melihatku?
__ADS_1