Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 19 ~ Ancaman Dewi


__ADS_3

Hampir satu minggu Resti merasa tidak enak badan. Kepalanya sering merasa pusing mendadak. Terkadang, ia juga merasa perutnya seakan diaduk-aduk. Namun, Resti memendamnya seorang diri.


Sementara Raka, terlihat lebih banyak termenung. Bahkan, saat Resti menceritakan kondisinya yang kurang sehat, Raka seperti tak mendengar ucapannya.


Pagi itu, Resti meminta izin untuk tidak bekerja. Tubuhnya terasa sangat lemas sejak bangun tadi. Raka yang melihat Resti masih bergelung di bawah selimut, menghampirinya.


"Kamu sakit?" tanya Raka.


Tidak ada nada khawatir dari caranya berbicara. Membuat Resti merasa sedikit kecewa. Sebisa mungkin ia menekan perasaannya.


"Gak apa, Mas. Aku lagi gak enak badan aja. Istirahat sebentar juga, pasti baikkan," jawabnya lemah.


"Mau ke dokter?" Raka menawarkan.


Hanya gelengan kepala yang Resti berikan sebagai jawaban. Ingin rasanya Resti menahan Raka untuk tetap di sisinya. Namun, itu tida mungkin. Raka memiliki tanggung jawab yang besar pada perusahaannya.


"Ya, udah. Aku buatin sarapan, ya." Raka bangkit berdiri.


Pria itu segera meninggalkan kamar mereka. Saat Raka menghilang di balik pintu, air mata Resti pun jatuh tak tertahan. Rasa sesak kembali menghimpit dadanya. Resti tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Kamu berubah, Mas. Apa kamu kembali berpaling dariku?" tanya Resti pada dirinya sendiri.


"Aku kenapa gampang sedih, ya?" Resti menghapus air matanya.

__ADS_1


Tak lama, Raka masuk dan meletakkan sepiring nasi goreng. Aroma yang menusuk, membuat Resti semakin pusing. Perutnya semakin terasa diaduk-aduk.


"Makan dulu, ya," pinta Raka.


"Nanti aja, Mas. Taruh di atas meja rias aja," ucap Resti.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Raka heran.


"Gak apa, Mas. Aku mau ke toilet dulu." Resti segera berlari cepat menuju toilet.


Ia memutar keran hingga full, baru memuntahkan isi perutnya. Resti bahkan menahan suaranya, agar Raka tak mendengar Resti yang muntah. Selesai mengeluarkan isi perutnya, Resti menyandar ke dinding. Tubuhnya terasa semakin lemas.


"Sayang, aku berangkat, ya," teriak Raka.


"Iya, Mas," balas Resti dengan teriakan.


"Gak usah, Mas."


"Ya, udah. Aku jalan dulu, ya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."


Resti tak lagi menjawab. Setelah mendengar suara pintu tertutup, Resti keluar. Ia menatap nanar nasi goreng yang sudah Raka siapkan untuknya. Dengan menahan napas, Resti membawa nasi goreng itu ke dapur. Membuangnya ke dalam tempat sampah, lalu mencuci wadah.


***

__ADS_1


Raka tak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Kata-kata Riska masih terngiang di telinganya. Lamunannya buyar, saat seseorang membuka pintu ruangannya.


"Mama," ucapnya terkejut.


Dewi mendudukkan diri di sofa. Raka menghampiri sang ibu dan duduk di seberangnya. Wajah Dewi terlihat serius.


"Apa ada hal penting, yang membawa, Mama, ke sini?" tanya Raka.


"Ini perusahaan mama! Apa mama hanya boleh datang dalam rapat saja?" tanya Dewi ketus.


Raka tak menjawab. Melihat cara ibunya bicara, ia sadar ada sesuatu yang salah.


"Kenapa Riska kembali?" tanya Dewi tanpa tedeng aling-aling.


"Tidak tahu," jawab Raka jujur.


"Apa dia ingin kembali padamu?"


"Tidak!"


"Bagus! Kali ini, jika kau membuat Resti menangis lagi, mama sendiri yang akan memisahkan kalian!" ancam Dewi.


Dahi Raka mengerut. "Maksud, Mama?"

__ADS_1


"Tanya hatimu, apakah kau lebih mencintai Resti atau Riska. Tegaskan sikapmu. Mama tidak mengajarimu untuk bersikap plin-plan. Mengerti?" Dewi segera meninggalkan ruangan Raka.


Menyisakan Raka dengan berbagai pertanyaan di hatinya.


__ADS_2