Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 22 ~ Resign


__ADS_3

Tanpa sadar, Resti menggigit bibir bagian dalam. Ada rasa was-was yang menghinggapi hatinya. Sudut matanya melirik sang suami. Memastikan ekspresi yang Raka tunjukkan pada mantan kekasihnya.


Resti hanya melihat tatapan datar Raka, tanpa mampu melihat sinar matanya. Jika saja Resti bisa membaca hati, mungkin ia akan mengetahui jawabannya. Tatapan Riska beralih pada Resti.


"Kamu sakit?" tanyanya.


"Tidak Istriku baik-baik saja!" jawab Raka.


Senyum manis ditunjukkan Riska. Tatapan kekecewaan, terlihat jelas di mata wanita itu. Resti bisa melihatnya dengan jelas. Raka bahkan tidak bertanya tentang keperluan Riska di sana. Ia segera berlalu dengan menggandeng tangan Resti.


"Mas," panggil Resti.


"Ya, Sayang," jawab Raka.


"Dia kenapa?" tanyanya.


"Entah. Mas gak peduli juga. Sudah, biarkan saja. Lebih baik kita pulang. Kamu harus istirahat," jawab Raka.


Raka pun merangkul pinggang Resti. Membukakan pintu mobil untuk sang istri. Tak lama, mereka meninggalkan rumah sakit. Dari balik jendela, Riska menatap kepergian pasangan itu.


Keesokkan harinya, Raka pergi ke kantor dengan binar bahagia. Sejak kemarin, ia sudah membujuk Resti untuk resign dari pekerjaannya. Namun, Resti terus menolak. Setelah perdebatan yang cukup panjang, Resti pun menyetujui keinginan sang suami.


"Bahagia banget, Bos," sapa Bayu.


Raka tak menjawab. Ia hanya tersenyum tanpa menjelaskan apa pun. Bayu menatap tingkah aneh atasannya itu. Saat Raka menghilang di balik pintu, Bayu hanya mengendikkan bahu tak mengerti.


***

__ADS_1


Entah sudah berapa kali Resti menatap ruangan atasannya. Jelang jam makan siang, Resti pun memberanikan diri menemui beliau. Tangannya terangkat, hendak mengetuk pintu. Namun, seseorang dari dalam lebih dulu membukanya.


"Ada apa, Res?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Maaf, Pak, saya mengganggu," ucapnya lirih.


"Tidak masalah. Ayo, masuk!" ajaknya.


Mereka pun duduk di sofa. Dengan tangan gemetar, Resti menyerahkan surat pengunduran dirinya. Pria itu menatap amplop yang Resti berikan.


"Ini apa?" tanya pria paruh baya itu.


"Saya, ingin mengundurkan diri," jawabnya lirih.


Pria paruh baya itu menatap Resti lembut. "Boleh saya tahu alasan kamu?" tanyanya.


"Suami?" ulangnya.


Resti menganggukkan kepala. Dahi pria itu terlihat berkerut dalam. Memang tidak ada teman sekantor Resti yang mengetahui pernikahannya. Saat Raka dan Resti menikah, hanya keluarga yang hadir.


"Memang kau sudah menikah?" tanya pria itu tida percaya.


"Sudah, Pak."


"Kapan? Saya tidak pernah menerima surat cuti menikah dari kamu." Pria itu terdiam sesaat. Ia teringat saat Resti meminta cuti selama satu minggu beberapa waktu lalu, "apa waktu kamu minta cuti kemarin?" cecarnya.


"Sebenarnya, saya sudah menikah sejak awal masuk kantor ini," jawab Resti jujur.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu sudah menikah lebih dulu, sebelum bekerja di sini?"


"Saya menikah, setelah bekerja kurang lebih dua minggu, Pak."


"Kenapa dirahasiakan? Perusahaan tidak pernah melarang karyawannya untuk menikah. Apa kamu punya masalah?"


"Tidak ada, Pak. Hanya saja, saya tidak memiliki orang tua lagi saat itu. Jadi, saya tidak menginginkan pesta besar. Cukup keluarga dari pihak suami yang hadir," jawab Resti jujur.


"Bukannya saat wawancara, kamu bilang ingin membahagiakan orang tuamu?"


"Beberapa hari sebelum saya bekerja, sebuah insiden terjadi dan merenggut nyawa kedua orang tua saya."


Ada nada kesedihan yang bisa pria itu tangkap dari ucapan Resti. Ia pun menghela napas dalam.


"Lagi pula, semua ini demi kebaikan anak kami," ucap Resti dengan senyum bahagia.


"Kamu hamil?"


Resti tersenyum bahagia seraya menyentuh perutnya yang masih rata. Pria itu tak punya alasan untuk menahan Resti lagi.


"Sebenarnya, saya sangat suka dengan kinerjamu. Kamu cekatan. Akan tetapi kondisi yang kamu hadapi, membuat karir yang sedang kamu bangun berantakan. Saya tidak bisa menyalahkan siapa pun. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, saya akan menerima kapan pun kamu ingin kembali," ucap pria itu panjang lebar.


"Terima kasih banyak atas kepercayaan, Bapak, pada saya. Semoga, dilain waktu, saya bisa kembali bekerja dengan, Pak Darma," jawab Resti.


"Jadi, mulai kapan kamu akan resign?"


"Besok!"

__ADS_1


__ADS_2