Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 64 ~ Raka dan Bayu


__ADS_3

Sudah beberapa hari, bunga yang Raka kirim untuk Resti, kembali padanya. Entah apa yang terjadi. Ia pun mencoba menghubungi bagian resepsionis, untuk memastikannya.


"Mohon maaf, Pak. Bu Resti sendiri yang menolak kiriman bunga selain dari klien yang beliau pegang."


Mendengar jawaban itu, seketika Raka kehilangan kata. Ia pun mengucapkan terima kasih, lalu memutus panggilan. Kini, ia tahu alasan kembalinya bunga yang ia kirimkan.


Namun, pria itu tak mudah menerima penolakan Resti. Ia pun mencaritahu, bagaimana supaya mereka bisa menjalin kerja sama.


"Tolong minta Bayu ke ruangan saya sekarang," ucap Raka begitu interkom tersambung.


Tak lama, pintu ruangannya diketuk. Raka pun mempersilakan orang tersebut masuk. Bayu segera berdiri di hadapan Raka.


"Bay, kira-kira, perusahaan butuh tambahan modal gak?" tanya Raka tanpa menatap Bayu.


Pria itu ternganga mendengar pertanyaan atasan sekaligus sahabatnya itu. "Lo lagi kenapa?" tanya Bayu.


"Udah, jawab aja. Butuh atau gak?" cecar Raka.


"Sejujurnya, gak." Bayu terlihat yakin dengan jawabannya.


"****!" umpat Raka.


"Emang kenapa?" tanya Bayu lagi.


"Tadinya, gue pengen mengajukan penanaman modal dari perusahaan Resti ke sini. Atau, penanaman saham mungkin."

__ADS_1


Bayu menepuk dahinya kuat. Ia bahkan menghela napas kasar. Beberapa waktu, Bayu terdiam membisu. Seolah tengah memikirkan apa yang harus ia katakan.


"Apa ini salah satu rencana Lo untuk mendekati Resti?" tanya Bayu tepat sasaran.


Raka menatap sahabatnya datar. Kemudian, menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Ya, kenapa Lo gak cari tahu aja, perusahaan dia butuh tambahan modal gak? Mau jual sahamnya, gak? Kenapa justru Lo pertaruhin perusahaan sendiri?" Bayu terlihat kesal pada Raka.


Entah Raka lupa atau tidak, bila perusahaannya adalah perusahaan besar. Tidak semudah itu mencari mitra yang bisa mengalirkan dana untuk perusahaan mereka.


"Ah, kenapa gue sebodoh itu, ya?" gumam Raka.


"Dasar manusia aneh! Emang Lo jadi bodoh sejak tahu perasaan Lo ke Resti!" umpat Bayu.


Pria itu pun meninggalkan ruangan Raka dengan perasaan dongkol. Setelah Bayu pergi, Raka segera menghubungi anak buahnya untuk mencari informasi.


Resti tengah mengerjakan tugasnya yang menumpuk di meja. Saat itu, ekor matanya menangkap keberadaan Raka di luar ruangannya.


Seketika, Resti menoleh pada pria itu. Namun, Raka tak menghiraukannya. Pria itu terus berjalan menuju ruangan sang atasan.


"Ngapain dia di sini?" tanya Resti pada dirinya.


Ia berusaha untuk tak mempedulikan kehadiran Raka. Ia kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Sayang, fokusnya sudah terpecah.


"Ah! Kenapa aku gak bisa konsen, sih?" maki Resti.

__ADS_1


Wanita itu pun menuju pantry, untuk melepas penatnya sementara. Di sana, tidak ada orang yang berjaga. Saat ia tengah membuat kopi, telepon pantry berbunyi.


"Dengan pantry," jawabnya.


"Tolong buatkan kopi hitam satu, ya. Antarkan ke ruangan saya."


"Baik, Pak." Resti membuatkan kopi tersebut.


Sampai kopi selesai dibuat, tidak ada seorang office girl atau boy yang ke ruangan itu. Tidak mungkin untuk menunggu, Resti pun mengantarkannya ke ruang atasan.


"Mbak, aku mau antar kopi pesanan Pak Haris," ucap Resti.


"Oh, iya. Langsung bawa masuk saja, ya. Saya harus menge-print ini dulu," pinta sekretaris Haris.


"Iya, Mbak." Resti pun mengetuk pintu ruang atasannya.


Setelah terdengar perintah masuk, ia melangkah menuju sofa. Pandangannya yang ke bawah, tak melihat keberadaan Raka di sana.


"Loh, Res, ke mana para OB atau OG?" tanya Haris.


"Sedang di ruangan lain sepertinya, Pak," jawab Resti.


Ia menghidangkan kopi tersebut pada tamu atasannya. "Silakan di ... minum ...," ucapnya terbata.


Raka tersenyum manis pada mantan istrinya. Bahkan, ia melambaikan tangannya. Di sebelah Raka, ada Bayu yang menemani. Pria itu pun tersenyum ramah pada Resti.

__ADS_1


Untuk apa mereka ke sini?


__ADS_2