Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 20 ~ Mencari sebuah jawaban


__ADS_3

"Kamu tidak mencintai dia. Sampai sekarang, hatimu hanya untukku."


Suara Riska kembali terngiang-ngiang di telinga Raka. Ia memejamkan matanya sesaat. Mencoba mencari nama Resti di hatinya.


Bagaimana perasaanku yang sebenarnya pada Resti? Apa benar aku masih mengharapkan Riska? Bukankah Riska sudah menyakitiku? batin Andra.


Pria itu menopang kepalanya dengan kedua kepalan tangan. Berharap menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya. Raka sadar, sejak kejadian satu minggu yang lalu, hubungan mereka tak seperti sebelumnya.


Apa ini sebuah ujian? Kenapa kami hanya bisa merasakan kebahagiaan selama dua bulan? Jika aku berpaling, ini tidak adil untuk Resti. Tapi, hati tidak bisa dipaksakan. Raka menghela napas berat.


"Apa sebaiknya aku pulang lebih awal? Mungkin saja, saat bersama Resti di sisa hari ini, aku bisa menemukan jawabannya," gumam Raka.


Raka pun mulai membereskan pekerjaannya. Ia meminta Bayu untuk mereschedule jadwal hari ini. Dengan senang hati, Bayu melakukan perintah atasannya. Raka pun segera pulang.


***


Resti menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat lebih tirus. Mata wanita itu beralih pada kalender yang terletak di sana. Tangan Resti terulur mengambil benda tersebut.

__ADS_1


"Ini sudah tanggal sepuluh," gumamnya, " tunggu! Seharusnya, tamu bulanan ku sudah datang. Ini, sudah terlambat satu minggu." Resti mengingat-ingat terakhir kali ia mengalami menstruasi.


Ia pun membuka laci meja rias. "Masih utuh," gumamnya.


Resti segera mengambil dompet dan keluar dari rumah sebentar. Ia menuju apotik terdekat, yang ada di ujung komplek. Wanita itu bahkan membeli beberapa testpack untuk mengujinya.


Tiba di rumah, Resti segera menuju toilet. Jantungnya berdegup cepat menunggu hasil dari testpack tersebut. Hampir sepuluh menit kemudian, Resti mengambil salah satu dari mereka. Matanya terpejam, takut hasil yang terlihat tidak sesuai dengan perkiraan.


Perlahan, Resti membuka matanya. Garis dua muncul di sana. Tak percaya dengan hasil itu, Resti melihat hasil dari alat yang lain. Alat kedua belum bisa meyakinkan hatinya. Kembali, ia mengambil alat ketiga, keempat dan kelima.


"Aku hamil," gumamnya bahagia.


Lamunannya buyar, saat terdengar pintu kamar terbuka. "Siapa yang masuk?" tanya Resti.


Ia pun membuka sedikit pintu kamar mandi. Hampir saja ia terjatuh, bila tak berpegangan pada wastafel. Pasalnya, wajah Raka muncul di depannya tiba-tiba.


Raka menahan tawanya melihat Resti yang terkejut. Ia teringat, akan kondisi Resti belakangan ini.

__ADS_1


"Kamu benar-benar tidak perlu ke dokter?" tanya Raka.


"Gak, kok, Mas. Aku baik-baik saja," tolak Resti kesekian kalinya.


"Tapi wajahmu pucat," tunjuk Raka.


Tanpa sadar, Resti memegang wajahnya. Resti tersenyum pada sang suami.


"Aku pucat, bukan karena sakit, Mas." Wanita itu membuka pintu lebar. Kemudian, keluar dari sana.


Raka mengikuti langkah Resti. Mereka duduk di pinggir sofa. Raka terus menatap Resti. Tangan Resti terulur, menyerahkan salah satu alat uji kehamilan pada Raka.


Mata Raka mengamatinya dengan seksama. "Ini ... apa?" tanya Raka.


"Aku ... hamil, Mas," bisik Resti.


Kedua mata Raka membelalak lebar. "Kamu apa?" tanya Raka ulang.

__ADS_1


"Aku hamil. Kamu ... gak suka, ya?" tanya Resti lirih.


Tak bisa ia pungkiri, ada kekecewaan saat melihat ekspresi Raka yang seakan tak senang dengan berita itu.


__ADS_2