
Sejak hari itu, Resti dan Raka memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka. Namun, mereka tidak ingin terburu-buru untuk menikah lagi.
Pasangan itu, bak ABG yang tengah dimabuk asmara. Sementara itu, pagi hari di hotel tempat Dimas menginap, terdengar suara isak tangis.
Dimas yang masih terlelap, mulai membuka mata. Ia merasa terusik dengan suara tersebut. Perlahan, pria itu menoleh ke sumber suara. Seketika, Dimas terlonjak kaget.
"Si-siapa kamu?" tanyanya terbata.
Sesekali, pria itu meringis merasakan nyeri hebat di kepalanya. Tak sengaja, tatapan matanya menatap bagian tubuh yang tersembunyi di bawah selimut.
Astaga!! Apa yang sudah terjadi? tanya Dimas dalam hati.
Dimas segera beranjak dari ranjang, setelah menggapai pakaiannya. Saat itu, matanya tertuju pada noda merah yang menghiasi seprai. Pria itu menggaruk rambutnya.
"Bersihkan dirimu! Setelah itu, mari kita bicara!" titah Dimas.
Wanita itu tak membantah. Ia menuruti apa yang Dimas katakan. Sementara Dimas, menunggunya selesai. Ia menghubungi room service, untuk menyediakan pakaian ganti wanita tadi.
__ADS_1
***
Kini, Dimas dan wanita yang telah ia renggut kehormatannya, duduk di sofa ruangan itu. Sang wanita, duduk di ujung sofa. Sementara Dimas, berada di sofa lainnya.
"Aku minta maaf. Jujur, aku tidak tahu apa yang terjadi semalam." Dimas mengangkat pandangannya.
Wanita dihadapannya ini, masih terus meneteskan air mata. Ia bisa melihat, bagaimana wanita tersebut terus menghapusnya.
"Aku pasti akan bertanggung jawab," putus Dimas.
Ia merasa, bila apa yang terjadi adalah salahnya. Karena itu, Dimas memilih untuk bertanggung jawab.
Dahi Dimas mengerut dalam mendengar penjelasan wanita itu. "Apa maksudmu?" tanya Dimas.
"Semalam, aku juga dalam kondisi mabuk karena patah hati. Saat kamu membawaku ke sini, aku juga tidak menolak. Anggap saja, kita melakukan hal itu atas dasar suka sama suka. Jadi, kamu tidak perlu menjadikannya beban." Kembali, wanita itu menjelaskan.
"Tapi ...." Ucapan Dimas terpotong.
__ADS_1
"Kamu tidak mencintaiku. Hubungan yang dibangun atas dasar rasa tanggung jawab, tidak akan pernah kokoh. Suatu saat, pasti akan hancur. Anggap saja, kita tidak pernah bertemu." Wanita itu menatap Dimas penuh keyakinan.
Melihat pendirian wanita itu, membuat Dimas tidak bisa memaksakan kehendaknya. Pria itu pun mengambil kartu namanya, lalu memberikan benda tersebut pada si wanita.
"Jika suatu saat terjadi sesuatu, kamu bisa hubungi aku!" ucap Dimas.
Wanita itu terkekeh. "Memang, apa yang mungkin terjadi dengan hubungan satu malam? Sudahlah, simpan saja. Jika suatu hari kita bertemu lagi, semoga dalam kondisi yang baik," ucap sang wanita.
Tak begitu saja menerima keputusan si wanita, Dimas tetap menaruh kartu nama tersebut di telapak tangannya.
"Simpan saja." Setelah itu, Dimas keluar lebih dulu dari kamar hotel.
***
Hari berganti hari. Resti dan Raka kian terlihat lengket. Namun, hari itu Resti terlihat sedikit murung. Raka yang tengah menyambangi rumah sang kekasih, menatapnya bingung.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Raka.
__ADS_1
"Mas, Dimas ke mana, ya? Udah lebih dari dua minggu dia menghilang. Ditelepon, gak diangkat, dikirim pesan, gak dibales. Kenapa dia begitu, ya?" tanya Resti.
Seketika, raut wajah Raka berubah. Ada kilat kecemburuan di mata pria itu. Namun, ia memilih diam untuk menetralisir rasa cemburunya.