
Dokter itu mengerutkan dahi dalam. Selama beberapa menit, ia hanya terdiam menatap Raka. Terlihat, ada ketahuan di wajah itu.
"Saya mungkin tidak ada hubungan dekat dengan Riska. Tapi, saya mengenal keluarganya. Setidaknya, saya bisa menjelaskan kondisi dia, saat mengabari mereka," jelas Raka.
Apa yang Raka katakan bukanlah suatu kebohongan. Ia memang mengenal keluarga Riska. Sejak kecelakaan tersebut, Resti sengaja menutupi identitas Riska sebagai artis, agar tidak ada yang mengganggunya.
"Hah! Kemungkinan besar ... pasien tidak akan bangun. Saat ini, dia bertahan hanya karena ditopang oleh alat." Dokter menunjukkan hasil CT scan yang diambil beberapa hari lalu.
Dokter juga menjelaskan, bahwa aktifitas otak Riska semakin menurun dari hari ke hari. Jika sampai berhenti, maka Riska bisa kapan saja meninggal dunia.
Raka terdiam lagi. Mendengar penjelasan dari Dokter, ia tahu jika Riska hidup Riska, bisa dipastikan berakhir. Mungkin, ini bayaran yang pantas Riska terima atas semua kejahatannya, batin Raka.
"Baik, Dok. Terima kasih atas penjelasannya. Saya akan segera menghubungi keluarga pasien," ucap Raka kemudian. Ia segera bangkit berdiri, lalu berjabatan tangan dengan Dokter yang menangani Riska.
***
Resti baru saja tertidur, saat Dimas keluar dari kamar. Wanita itu sebelumnya sudah berjanji, bila ia akan merawat Dimas hingga tangannya pulih kembali. Karena itu, Dimas mengajaknya ke apartemen yang ia tinggali saat ini.
__ADS_1
Dimas menatap wajah Resti yang terlelap. Ada gurat kelelahan di sana. Cukup lama ia menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Perlahan, jemari Dimas terangkat untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Resti.
"Bisakah aku memilikimu?" gumam Dimas.
Lambat laun, rasa kantuk mulai menyerangnya. Ia pun ikut terlelap di seberang sofa, dengan wajah menghadap Resti.
Dua jam berlalu. Resti mulai menggeliatkan tubuhnya. Sesaat ia terdiam menatap langit-langit. Kemudian, tersadar bila dirinya tidak berada di rumah.
"Dimas," gumamnya saat menatap Dimas yang terlelap di depannya. "Astaga! Aku, 'kan harusnya jagain Dimas. Kenapa malah tidur?" Resti memukul kepalanya.
Resti menghentikan gerakannya. Pandangannya terangkat ke arah Dimas. Ternyata, pria itu sudah terbangun dan tengah menatap dia. Wajah Resti berubah merona malu, kala melihat Dimas tersenyum padanya.
"Maaf, ya, aku malah gak bantu sama sekali," sesal Resti. Wanita itu, bahkan memanyunkan bibirnya.
"Gak apa, kok! Lagian, kamu pasti capek ngurusin Riska." Dimas menggelengkan kepalanya. "Kamu itu terlalu baik. Padahal, dia berniat mencelakai kamu. Tapi, kamu justru menemani dia," lanjut Dimas.
"Aku hanya ingin tahu alasan dia melakukan itu."
__ADS_1
"Res, jelas dia melakukan itu karena Raka. Apalagi, Raka sudah mengingat dirimu. Riska pasti takut dia akan lebih memilih kamu dibanding dirinya," ucap Dimas seraya mendudukkan diri.
Resti hanya menganggukkan kepala mengerti. "Sebentar lagi waktunya makan malam. Kamu mau aku buatin apa?" tanya Resti. Ia bangkit berdiri dan merapikan rambutnya. Mengikatnya asal, hingga berbentuk cepolan.
Sesaat, Dimas terlihat berpikir. "Apa saja. Aku tidak pemilih, kok!" jawabnya.
"Okay!" Resti pun beranjak ke dapur.
Wanita itu melihat isi kulkas Dimas. Di sana, ada beberapa jenis sayuran. Ada juga daging ayam, telur, dan bahan masak lainnya.
"Wow, kamu sepertinya rajin memasak," teriak Resti dari dapur.
Sebagai wanita, ia cukup kagum melihat isi kulkas dari pria yang tinggal seorang diri. Kebanyakan pria, tak ingin direpotkan dengan urusan dapur.
"Kamu tahu, aku juga jago masak, loh!" bisik Dimas.
Entah sejak kapan, pria itu sudah berdiri di belakang Resti. Hal itu membuat jantung Resti berdegup dengan cepat. Tatapan mereka pun saling bertemu.
__ADS_1