Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 50 ~ Dia?


__ADS_3

Raka mengirim nama-nama kota yang akan ia kunjungi, untuk mencari Resti, pada Riska melalui pesan singkat. Wanita itu pun membalas pesan Raka dengan kata 'ya'.


Setelah itu, Raka segera menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa. Tidak banyak, hanya beberapa potong pakaian dan berkas serta laptop untuk bekerja.


Selesai mengepak barang-barang yang ia butuhkan, Raka segera menuju mobilnya. Dalam hati ia terus berdoa untuk dipertemukan dengan mantan istrinya.


Kurang lebih empat jam perjalanan Raka lalui hingga tiba di kota tujuan. Ia melajukan kendaraannya ke rumah milik keluarganya di Bandung. Selama perjalanan, tatapan Raka selalu menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Hah!" Raka menghela napasnya. "Tidak! Aku harus tetap semangat mencari keberadaan Resti," gumam Raka.


***


Tiga minggu sudah Raka berada di kota Bandung. Namun, tidak ada sedikit pun menemukan petunjuk tentang keberadaan Resti. Seluruh kota Bandung sudah ia jelajahi, tetapi Resti tidak ada di sana.


"Kamu tidak ada di sini," gumam Raka.


Ia pun bersiap untuk beralih ke kota berikutnya. Tak lupa, menempatkan orang terpercaya di kota tersebut, untuk mencari Resti.


Keesokkan harinya, ia tiba di kota Surabaya. Sama seperti di Bandung, Raka juga mengelilingi kota tersebut. Namun, lagi-lagi Raka tak menemukan Resti.


"Di mana kau, Sayang?" tanya Raka pada dirinya sendiri. Ia benar-benar semakin putus asa.

__ADS_1


Sementara itu, Riska sedang berada di kota Yogyakarta. Saat Raka memberikan daftar kota yang akan ia tuju, Riska memilih kota ini sebagai tujuannya. Kebetulan, ia memiliki sedikit pekerjaan di kota tersebut selama satu minggu ke depan.


"Semoga saja, aku yang menemukan Resti lebih dulu," gumam Riska.


Manajer yang mengikutinya, sampai menoleh saat mendengar gumaman Riska. Namun, ia tak berani mengatakan apa pun pada wanita itu.


***


Resti dan Dimas kini sudah menjadi teman. Sesekali, mereka menghabiskan waktu untuk sekedar hang out. Kadangkala, Dimas membawa Adam—keponakannya—ikut serta.


"Besok, aku ada pekerjaan di luar kota. Mau titip sesuatu?" tanya Dimas.


"Apa, ya?" Resti terlihat berpikir. "Memang mau ke kota mana?" tanya Resti.


"Bali," jawab Dimas singkat.


"Wow. Pengen deh ikut. Tapi, aku gak bisa," ucap Resti sendu.


"Kenapa?" Dahi Dimas terlihat berkerut.


"Berat diongkos." Resti menjawab dengan berbisik.

__ADS_1


Dimas terkekeh mendengar jawaban wanita itu. Sementara Resti tersipu malu. Ya, keduanya tak lagi canggung karena kini mereka sudah berteman. Dimas bahkan sering menitipkan Adam pada Resti.


"Aku yang bayarin gimana?" tawar Dimas.


"No! Aku gak terima hal itu!" tolak Resti tegas.


Dimas menghela napas lelah. "Dikasih enak kok gak mau," gerutu pria itu.


"Bukan gak mau, tapi membiasakan diri untuk tidak bergantung pada orang lain. Nanti, kalau kamu punya pacar, terus cemburu karena aku sering dibantu kamu gimana?"


Tak ada tanggapan dari pria yang berdiri di hadapan Resti. Ia hanya menatap Resti dalam. Membuat wanita itu tak bisa membaca isi hatinya. Apa yang dia pikirkan, ya? batin Resti.


"Om Dimas!"


Suara teriakan itu, membuat Resti menoleh. Terlihat, Adam yang berlari mendekati mereka. Bocah itu hampir terjatuh, jika saja seseorang tak menangkapnya.


"Adam!" teriak Resti dan Dimas bersamaan.


Keduanya berlari menghampiri Adam. Namun, langkah Resti terhenti seketika, saat melihat orang yang menolong Adam.


Kenapa dia ada di sini?

__ADS_1


__ADS_2