
Sejak hari itu, Resti tak pernah lagi makan di luar kantor. Ia juga menutup diri dari rekan kerjanya yang lain. Resti sadar, ada banyak pertanyaan yang mungkin ingin mereka tanyakan padanya.
Pada akhirnya, hanya desas-desus yang terdengar tentang dia dan Raka. Resti tak peduli akan hal itu. Bagi wanita itu, hubungannya dengan Raka bukanlah konsumsi publik. Lagi pula, pernikahan mereka dulu tidak diketahui banyak orang.
Di luar hal pribadinya, Resti tetap bersikap profesional. Ia tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik. Siang itu, telepon mejanya berdering mengalihkan fokus Resti.
Resepsionis mengatakan, bila seseorang bernama Dimas mencarinya. Senyum Resti terkembang mendengar nama itu. Jadi, Dimas sudah kembali?
Resti melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Karena waktu sudah mendekati makan siang, Resti mengambil bekal makannya dan menemui Dimas.
"Dimas," panggil Resti saat ia sudah berada di lobby.
"Hai!" Dimas mengacak rambut panjang Resti. "Makan siang di restoran biasa, yuk!" ajak Dimas.
"Gak ah. Aku bawa bekal." Resti mengangkat kotak bekalnya.
Kedua alis Dimas terangkat tinggi. "Sejak kapan kamu bawa bekal?" tanya Dimas heran.
"Sejak kamu ke Bali," jawab Resti. "Yuk, kita ke kantin aja." Resti menarik lengan Dimas.
__ADS_1
Pria itu pun mengikuti langkah Resti. Mereka ke kantin yang ada di belakang gedung kantor. Resti menuju stand dan memilih makanan untuk Dimas.
Ia kembali, setelah mengambilkan makanan untuk pria yang menjadi temannya itu. Dimas menatap heran pada Resti. Sepertinya, pria itu merasakan sesuatu yang lain dari temannya.
"Serius, deh! Ada kejadian yang gak aku tahu?" Dimas melipat tangannya di depan dada. Matanya menatap Resti intens.
Resti tetap fokus pada makanan di depannya. "Gak ada. Kenapa? Gak percaya?"
Wanita itu tak menatap Dimas sama sekali. Resti sadar, Dimas masih menatapnya dengan penuh pertanyaan. Entah mengapa, rasa sesak mulai mendera dadanya. Sekuat tenaga Resti menahan diri untuk tidak menangis.
"Udah, deh. Habisin makanan kamu! Sayang tahu!" Resti tetap tak menatap Dimas.
"Kamu lagi ngomong sama siapa? Aku?" Melihat Resti mengangguk, Dimas kembali berkata, "Lihat orang yang kamu ajak bicara!"
"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan!" Dimas menahan lengan Resti.
Mau tidak mau, Resti menatap Dimas. Ia mencoba meyakinkan temannya itu, bila tidak ada yang ia sembunyikan saat ini.
"Tidak ada. Percayalah!" Resti melepas pegangan Dimas di lengannya. Kemudian, ia pun berlalu meninggalkan kantin.
__ADS_1
"Aku akan menunggu sampai kau siap menceritakannya," ujar Dimas dengan sedikit berteriak.
Resti tak lagi menghiraukan ucapan Dimas. Ia terus melangkah kembali ke divisinya. Wanita itu menghela napas lega, begitu ia mendudukkan diri di kursi kerjanya.
Berkali-kali Resti menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang sempat mendera. Kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya.
***
Pekerjaan Resti selesai dengan cepat. Ia pun merapikan meja kerjanya untuk kembali pulang. Setelah tiba di lobby, ia segera memesan ojek online. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya saat melihat Dimas.
"Kamu masih nungguin aku?" tanya Resti.
"Iya. Aku lupa kasih ini ke kamu. Yuk, sekalian aku antar pulang," tawar Dimas.
Resti pun menganggukkan kepala setuju. Resti akan menutup pintu mobil, saat seseorang menahannya. Wanita itu menoleh pada orang tersebut.
Raka berdiri di sana menatap dia. Mata mereka saling bertemu selama beberapa saat. Dari mana dia tahu aku kerja di sini?
" Ayo, kita bicara!" ajak Raka.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Semua sudah selesai!"
Dimas menatap Resti dan pria itu bergantian. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya.