Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 24 ~ Kedatangan Riska


__ADS_3

Resti tengah mencoba membuat masakan barat, setelah Raka pergi bekerja. Sebenarnya, Raka melarang dia untuk melakukan pekerjaan rumah, termasuk memasak. Namun, Resti tak bisa hanya duduk diam melihat orang lain sibuk dengan pekerjaan.


Sejak resign, ia tidak tahu harus melakukan apa. Pada akhirnya, membuat berbagai macam hidangan adalah sebuah pilihan. Resti mempelajari berbagai resep masakan itu dari internet. Sesekali, ia akan pergi berbelanja ditemani asisten rumah tangganya, yang bernama Mbak Sumi.


Tengah asyik dengan kegiatannya, seseorang datang mengetuk pintu rumah. Mbak Sumi segera membukakan pintu. Ia mengerutkan dahi, saat melihat orang tak dikenal di depan rumah majikannya. Ia pun menghampiri hingga ke pagar.


"Cari siapa, ya?" tanya Mbak Sumi sopan.


"Resti atau Raka ada?" tanyanya.


"Mbak, siapanya ibu?" tanya Mbak Sumi lagi.


"Temannya," jawab wanita itu ramah.


"Ah, iya. Silakan masuk." Mbak Sumi segera membuka kunci pagar.


Wanita itu pun melangkah masuk mengikuti langkah asisten rumah tangga Resti dan Raka. Ia berjalan mendahului tamunya. Mengatakan pada Resti bahwa temannya datang.


"Teman?" tanya Resti memastikan pendengarannya tak salah.

__ADS_1


"Iya. Dia bilang, dia teman, Ibu," kata Mbak Siti.


"Siapa?" gumam Resti, "ya, sudah. Saya akan ke sana. Tolong dirapikan, ya, Mbak," pinta Resti kemudian.


Ia segera mencuci tangannya, lalu berjalan ke ruang tamu. Terlihat seorang wanita duduk membelakanginya. Resti mengerutkan dahi melihat kehadirannya. Tak lama, wanita itu berbalik menatap dia dengan sebuah senyuman.


"Hai," sapa wanita itu ramah.


Riska! Bagaimana dia tahu rumah ini? tanyanya dalam hati. Resti memaksakan sebuah senyuman. Ia pun, mempersilakan tamunya untuk duduk. Riska menatap bagian ruang tamu itu dengan mata berbinar.


"Maaf, apa kau punya janji dengan Mas Raka?" tanya Resti mengawali pembicaraan.


Resti tersenyum lembut padanya. Sebagai tanda terima kasih. Tepat saat itu, Mbak Sumi datang menaruh minuman untuk tamu yang datang.


"Tolong bawa sekalian ke meja makan, ya, Mbak," pinta Resti.


Mbak Sumi pun membawanya sesuai perintah Resti. Setelah Mbak Sumi pergi, Resti melihat Riska tersenyum menatap sekeliling rumah. Ingin rasanya ia mengetahui isi hati Riska.


"Rumah ini, seperti impianku dulu," ucap Riska tiba-tiba.

__ADS_1


Dahi Resti mengerut mendengar ucapan Riska itu. Belum sempat ia bertanya, Riska kembali mengatakan sesuatu tentang rumah itu.


"Rumah sederhana, tetapi hangat. Desain rumah ini, aku sendiri yang memilihnya. Apa kamarnya bergaya minimalis? Apa ...."


Riska terus menceritakan tentang desain rumah yang ditinggalinya bersama sang suami. Resti tak menjawab sedikit pun. Ia biarkan Riska terus berbicara tentang rumah itu. Semua yang dia katakan benar. Apa rumah ini, dipersiapkan Mas Raka untuknya? Setahuku, mereka sempat menjalin hubungan yang sangat dekat.


Tanpa sadar, Resti menyentuh dadanya. Ada sesuatu yang terasa menusuk jantung. Sakit, tetapi tak berdarah. Salahkah aku menerima Mas Raka saat itu? Salahkah aku tinggal di tempat ini?


Sebuah tangan menyentuhnya, menyadarkan Resti dari lamunannya. Ia menoleh pada Riska. Terlihat jelas wajahnya yang penuh rasa khawatir.


"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Riska khawatir.


"Aku baik-baik saja," jawab Resti pelan. Ia berusaha untuk tetap tersenyum. "Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Resti.


"Silakan."


"Apa kau masih mencintai Mas Raka?"


Sakit. Hatinya terasa sakit menanyakan hal itu. Dasar bodoh! Kenapa aku justru menanyakan hal itu padanya?

__ADS_1


__ADS_2