
"Kau sudah tah, tapi kenapa masih mengulangi hal itu?" tanyanya sinis.
Terlihat Riska gelagapan dalam menanggapi pertanyaan Raka. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Melihat hal itu, sudut bibir Raka terangkat.
"Kau tidak bisa menjawab?" Raka membuka laci mejanya. Kemudian, melemparkan sebuah amplop coklat ke arah Riska.
Banyak foto berhamburan di hadapannya. Kedua mata Riska membola saat melihat sebuah foto tak senonoh dirinya dengan seorang pria. Riska pun mulai memunguti setiap lembar foto dengan cepat.
"Dari mana kamu dapatkan semua ini?" tanya Riska dengan emosi yang mulai menguasai. "Ini pasti palsu! Seseorang pasti sudah menjebakku!" lanjut Riska.
"Bukti itu asli! Aku yang meminta seseorang, untuk mengawasimu!" tegas Raka.
Riska mengepalkan tangannya hingga foto-foto itu tertekuk. Tubuhnya terlihat gemetar menahan amarah. Namun, mulutnya tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kau bilang, kau ingin kembali merajut cinta denganku, tidak bisa melupakan aku. Tapi, kau bermain dengan banyak pria, membuatku mual!" ungkap Raka.
__ADS_1
"Kau tahu kenapa aku bersedia menceraikan istriku?" Raka beranjak dan mendekati Riska.
Wanita itu tak bergerak dari tempatnya barang sedikit. Ia hanya menatap Raka dengan rasa takut yang tersirat dari matanya.
"Itu karena aku masih mencintaimu. Saat itu, aku pikir ... tidak ada salahnya memberimu kesempatan. Tapi ... ternyata aku salah. Apa yang orang tuaku katakan memang benar." Nada suara Raka sedikit bergetar.
"Apa kau ingin bilang, kala kau menyesalinya?" tanya Riska.
"Ya! Itu benar. Aku sangat menyesal. Tapi, semua sudah tak berarti lagi."
Raka terkejut melihat sikap Riska. Ingin ia melepaskan diri dari wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya itu. Namun, Riska lebih dulu memeluk kakinya.
"Aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu. Aku tahu, aku tidak berhak meminta kesempatan lagi. Sekarang, kalau kau ingin mengakhiri hubungan kita, aku akan menerimanya." Riska menangis tersedu.
Melihat tindakan Riska, Raka memilih diam. Satu hal yang ia ketahui, wanita di depannya ini, tengah bersandiwara. Raka pun menarik kakinya.
__ADS_1
"Lepas. Tidak perlu bersandiwara di depanku! Sebaiknya, kau pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku!" titah Raka lirih.
"Raka, maafkan aku. Aku sungguh menyesal. Tapi, aku akan membantumu mencari Resti dan menjelaskan semuanya," janji Riska.
Mendengar nama Resti disebut, Raka menoleh cepat. "Apa maksudmu?" tanya Raka bingung.
"Iya. Aku akan membantumu mencari Resti, dan bilang kalau kau hanya mencintai dia. Aku akan mengembalikan hubungan kalian seperti dulu lagi. Asalkan, kau memenuhi permintaanku."
Kerutan di dahi Raka terlihat dalam. Ia mencoba menebak permintaan yang akan dikatakan Riska.
"Maksudmu, kau akan menyatukan hubungan kami lagi?" Riska mengangguk. "Apa permintaanmu?" lanjut Raka.
"Jika Resti sudah tak ingin kembali padamu, atau dia sudah memiliki pendamping yang lain, kau akan memberi aku satu kesempatan lagi. Jika aku bisa membuktikan diri, kau harus menikahiku."
Raka tertegun. Bukan karena permintaan Riska, tetapi dengan pengandaian yang wanita itu buat. Benarkah Resti tak ingin kembali padanya? Ataukah ada pria lain yang berhasil meraih hatinya? Pertanyaan seperti itulah yang muncul dalam benaknya.
__ADS_1
Resti adalah wanita yang baik. Tidak sulit bagi pria lain untuk jatuh cinta padanya. Seperti diriku. Tapi ... aku tidak yakin dia akan memaafkan aku. Aku terlalu sering menyakitinya, gumam Raka.