
Satu bulan berlalu. Raka benar-benar mengabaikan Riska. Setiap pesan dan panggilan darinya, tidak satu pun yang Raka gubris. Dunianya, seakan hanya dipenuhi oleh Resti dan calon anak mereka.
Pagi itu, sudah waktunya Resti kembali memeriksa kandungannya. Ia pergi bersama dengan sang suami. Raka dengan setia menemaninya. Di tempat yang sama, Riska juga baru saja tiba untuk melakukan perawatan. Ia melihat kedatangan Raka dan Resti.
"Raka," gumamnya.
Riska pun mengikuti mereka dengan menjaga jarak. Matanya menatap nama poli yang tertera di dinding.
"Poli obgyn? Apa mereka sedang merencanakan kehamilan?" gumam Riska.
Tak ingin tertangkap oleh Raka maupun Resti, Riska segera meninggalkan tempat itu. Meski sejujurnya, ada rasa ingin tahu yang kuat. Namun, ia mengurungkannya.
***
Entah ini keberuntungan bagi Riska, atau hanya sebuah kebetulan. Setekah pagi tadi mereka tak sengaja bertemu di pelataran parkir, kini mereka kembali bertemu di sebuah cafe.
Kali ini, Riska lebih dulu berada di cafe itu. Sama seperti pagi tadi, Riska menyembunyikan diri dari mereka.
"Kenapa aku harus sembunyi dari mereka? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada mereka," gumamnya.
__ADS_1
Ia pun menaruh kembali buku menu, yang sebelumnya menutupi wajah cantik gadis itu. Akan tetapi, pasangan itu seakan tak melihat dirinya sama sekali. Melihat itu, Riska akhirnya menghampiri mereka.
Raka dan Resti yang sedang bersenda gurau, menghentikan kegiatan mereka. Keduanya menatap Riska penuh tanya.
"Boleh gabung?" tanyanya.
Raka dan Resti saling bertukar pandang. Kemudian, Raka memberikan isyarat dengan anggukkan kepala pada Riska. Gadis itu pun duduk di kursi kosong di hadapan mereka.
"Aku, ingin minta maaf atas kejadian di apartemenku," ucap Riska.
"Tidak masalah. Semua sudah berlalu," jawab Resti.
Riska hanya tersenyum pada mereka. Suasana canggung seketika terjadi. Ketiganya tidak tahu harus membahas apa. Berkali-kali Raka berdeham untuk meredakan suasana canggung.
"Ya, karena sebentar lagi, kami akan menjadi orang tua," jawab Raka dengan binar bahagia.
Pria itu menatap sang istri penuh cinta. Sementara senyum di wajah Riska pudar. Beberapa detik kemudian, ia kembali tersenyum. Semua itu tak luput dari dari pandangan mereka.
"Selamat, ya. Semoga, calon bayi kalian sehat sampai lahir ke dunia," ucap Riska.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Raka dan Resti bersamaan.
Sebagai wanita, Resti bisa melihat kesedihan yang mendalam dari tatapan Riska. Senyum wanita itu pun, terlihat dipaksakan. Tak lama, Riska berpamitan dari hadapan mereka.
Ada rasa bersalah yang mendadak muncul dalam hatinya. Raka menyadari perubahan wajah sang istri. Ia menggenggamnya lembut. Resti menoleh dan tersenyum.
"Tidak perlu memikirkan orang lain. Tidak masalah bila kau harus berbuat egois sesekali, demi diri sendiri," nasihat Raka.
"Iya, Mas."
Raka mengusap rambut Resti lembut. "Habiskan. Setelah ini, ikut aku ke kantor, ya," ajak Raka.
Resti menganggukkan kepala dan tersenyum manis. Kemudian menghabiskan jus yang ia pesan.
***
Riska tengah mengatur napasnya yang memburu. Meredakan emosi yang sempat memenuhi dadanya. Matanya kembali menatap Raka dan Resti dari dalam mobil yang ia kemudikan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia! Raka adalah milikku!"
__ADS_1
Seringai jahat muncul di sudut bibir Riska. Ia menggenggam erat roda kemudi. Menatap mobil yang Raka dan Resti gunakan hingga menghilang.
"Tidak sekarang, Raka. Tunggu aku kembali," gumam Riska.