
Sejak Resti dipindahkan ke ruang rawat, Raka tidak pernah menemuinya. Bukan tidak ingin, tetapi Dewi, sang ibu, tidak mengizinkannya. Ia juga menaruh bodyguard untuk menjaga, agar Raka tak bisa masuk.
Pada akhirnya, Raka tak mampu melakukan apa pun. Riska juga seakan menghilang, setelah kejadian yang menimpa Resti. Sesuai janjinya, siang itu Dewi pun membantu Resti mengurus perceraiannya dengan Raka. Tanda tangan Resti sudah ada di atas kertas itu. Kini, Dewi akan mendatangi Raka, untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Bukan hanya Dewi yang bertindak. Ibra pun melakukan hal yang sama. Karena kejadian yang menimpa Resti, Ibra menurunkan jabatan Raka. Dari seorang CEO, menjadi manajer pengembangan di perusahaan.
Dewi membuka pintu ruangan Raka. Ia cukup terkejut, melihat kehadiran Riska di sana. Wanita itu segera merapikan pakaiannya.
"Keluar!" usir Dewi.
Riska menatap Raka sesaat. Pria itu pun menganggukkan kepala, meminta Riska menuruti ibunya. Dengan berat hati, ia melangkah keluar dari sana.
"Tanda tangani ini!" titah Dewi, begitu pintu ruangan Raka tertutup.
Raka mengambil map yang ibunya berikan. Ia terkejut, melihat isi dalam map tersebut. Semakin terkejut, saat melihat tanda tangan Resti sudah ada di sana.
__ADS_1
"Kenapa harus, Mama, yang minta tanda tangan? Biarkan Resti yang mendatangiku," ujar Raka santai.
Raut wajah Dewi mengeras mendengar ucapan sang putra. Melihat kemarahan di wajah ibunya, Raka segera merubah raut wajah.
"Maaf, Ma. Bukan maksud Raka menyinggung, Mama. Tapi, ini masalah antara Raka dan Resti. Raka bahkan tidak bisa menemui Resti lebih dulu. Bagaimana pun, kami harus bicara," jelas Raka.
"Bicara apa? Tentang poligami? Dengar baik-baik, selama kamu masih berhubungan dengan Riska, jangan panggil saya mama!" tegas Dewi.
"Ma! Apa, Mama, tidak perduli dengan perasaan Raka? Kalau memang harus bercerai dari Resti, akan Raka lakukan. Tapi tolong jangan halangi kebahagiaan Raka, Ma," pinta Raka. Pria itu mendekati sang ibu.
Helaan napas terdengar dari mulut Raka. Sepertinya, ia bersikeras menginginkan Riska menjadi pendamping hidupnya.
"Tapi Raka mencintai Riska, Ma."
"Cinta? Hanya kamu yang mencintai dia, tapi tidak dengan wanita itu. Apa kurangnya Resti? Dia juga mencintaimu, baik, lembut, tulus. Kenapa kamu justru lebih memilih ular itu?"
__ADS_1
"Masalahnya, Raka tidak bisa mencintai Resti. Raka sudah berusaha, tapi hati ini tidak bisa menerimanya." Wajah Raka terlihat frustasi.
"Kamu terlalu dibutakan oleh cinta, sampai rela membuang permata demi mengambil batu kali!"
Raka kembali ke kursinya. Ia meraih surat perceraian itu, lalu menandatanganinya. Kemudian, kembali memasukkan lembaran itu ke dalam amplop.
"Sudah selesai. Raka tidak ingin mendengar, Mama, menghina Riska. Bagaimana pun, dia sumber kebahagiaan Raka," ucap Raka.
Dewi mengambil amplop itu dengan kasar. "Suatu saat, kamu pasti akan menyesali keputusan ini! Saat itu tiba, semua akan terlambat!"
Tanpa menoleh lagi, Dewi segera meninggalkan ruangan sang putra. Raka hanya menatap punggung sang ibu hingga menghilang. Tak lama, Riska kembali masuk.
"Kok, mukanya suram begitu, sih, Sayang? Ada apa?" tanya Riska lembut.
Raka tersenyum pada wanitanya. Ia mendekati Riska, lalu memeluknya. Riska menyambut pelukan sang kekasih.
__ADS_1
"Aku sudah bercerai dari Resti. Kau, tidak akan meninggalkanku, 'kan?"