
Setelah kepergian Raka, Ibra dan Dewi mulai dilanda dilema. Mereka ingin memberitahu Raka tentang keberadaan Resti, tetapi tak ingin mengingkari janji pada wanita yang telah dianggap sebagai putri sendiri.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pa?" tanya Dewi dengan helaan napas gusar.
"Papa juga tidak tahu, Ma." Ibra memijit pelipisnya yang berdenyut.
Keduanya kembali terdiam. Sepertinya, memikirkan cara terbaik untuk menyatukan pasangan yang telah terpisah itu. Seseorang membuyarkan lamunan mereka.
"Selamat sore, Om, Tante," sapa Bayu yang datang ke sana.
Kedatangan Bayu, membuat Dewi dan Ibra tersenyum. Mereka saling bertukar pandang. Kemudian, mereka berpindah ke ruang kerja.
"Jadi, ada laporan apa?" tanya Ibra setelah mereka duduk di sofa ruang kerjanya.
"Sepertinya, Riska ingin membantu Raka mencari Resti.
Kerutan di dahi Ibra dan Dewi terlihat jelas. Mungkin, mereka merasa tak percaya dengan apa yang Bayu katakan.
"Kau yakin?" tanya Ibra.
__ADS_1
Bayu menganggukkan kepala yakin. Ibra menghela napas kasar. Ketiganya terdiam sesaat.
"Aku tidak yakin wanita itu tulus. Dari hasil penyelidikanku, dia mengincar harta kita. Jadi, sangat tidak mungkin dia ingin membantu Raka," asumsi Dewi.
Ibra membenarkan ucapan sang istri dengan anggukan kepala. Begitu pun dengan Bayu.
"Kalau begitu, kita harus menghalangi mereka sebisa mungkin. Lain hal bila takdir yang mempertemukan mereka," cetus Ibra.
"Ya, saya setuju. Saya akan tempatkan beberapa orang untuk memantau pergerakan mereka," timpal Bayu.
"Terima kasih, Bay. Kami tidak tahu bagaimana caranya untuk membantu Raka lepas dari jerat wanita itu. Dia seperti ular yang membelit anakku!" Dewi terlihat sangat marah.
Mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka tentang pekerjaan. Bayu, melaporkan semua dokumen pada Ibra. Semua itu dikarenakan Raka telah mengambil cuti, untuk mencari keberadaan mantan istrinya.
Selama hampir tiga jam mereka bicara, hingga akhirnya Bayu berpamitan. Pria itu pun segera memasuki mobil dan meninggalkan rumah orang tua Raka.
"Hah! Dulu, disia-siakan. Giliran sekarang, dicari-cari," gumam Bayu pada dirinya sendiri. Ia tak habis pikir dengan tingkah polah sahabatnya itu.
Namun, ia pun ikut bahagia, saat Raka telah menyadari perasaan yang sebenarnya untuk Resti. Meski kini, Raka harus berjuang keras mendapatkan cinta mantan istrinya.
__ADS_1
***
Raka mengelilingi ibu kota dengan seksama. Namun, ia tak juga menemukan keberadaan Resti. Pria itu bahkan rela meninggalkan perusahaan demi mencari keberadaan sang istri.
Tak sampai disitu, ia juga meminta bantuan teman-temannya yang bekerja di kepolisian. Sayang, sudah lebih dari satu minggu, jejak Resti sama sekali tidak diketahui.
"Jadi, menurutmu Resti sudah meninggalkan kota ini?" tanya Raka pada temannya yang ikut membantu mencari Resti.
Pria itu mengatakan, bahwa kemungkinan besar Resti sudah tidak berada di kota itu. Nomor ponselnya, bahkan tidak lagi aktif.
"Ya. Mungkin, kau harus memperluas area pencarian hingga ke luar kota. Bahkan, luar pulau,"sarannya.
Raka mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia sadar, Resti pasti tidak ingin tinggal di kota ini lagi setelah perceraian mereka.
"Apa mungkin dia ke luar negeri?" tanya Raka.
"Bisa jadi."
Rasa frustasi semakin mendera. Ia mulai tak yakin bisa menemukan Resti. Apa aku punya kesempatan untuk meminta maaf pada Resti? Apa aku bisa meyakinkannya, bila aku sungguh mencintainya?
__ADS_1