
Dimas dan Resti saling menyelami melalui tatapan mata. Tanpa keduanya sadari, interaksi mereka dilihat oleh Raka dan Bayu.
Ada gejolak amarah yang menggelegak di dada Raka. Namun, ia sadar bila hubungannya dengan Resti telah berakhir. Tidak mungkin bagi Raka untuk ikut campur atau sekedar melarang Resti dekat dengan pria lain.
Raka pun beranjak meninggalkan kafe tanpa berpamitan. Bayu yang menyadari hal itu, meminta maaf pada Haris, atasan Resti, lalu menyusul Raka.
Sayangnya, Raka tak menunggu Bayu sama sekali. Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Bayu pun mengumpat kesal melihat sahabatnya yang pergi begitu saja.
"Ini bukan salah Resti, Bay. Semua salah Raka sendiri. Di yang terlambat menyadari perasaannya. Hingga Resti memilih jalan ini." Bayu meyakinkan hatinya sendiri. Berulang kali ia menarik napas dalam dan menghelanya perlahan.
***
Malam hari, Riska baru tiba di Yogyakarta. Ia langsung menuju rumah yang ditempati Raka. Sayang, saat tiba di sana, lampu rumah itu masih gelap. Mobil Raka pun tak terlihat. Ia pun menghubungi nomor Raka.
Sampai dering terakhir, Raka tak juga mengangkat panggilannya. Wanita itu berdecak kesal. Dengan menghentakkan kaki, ia pun kembali ke dalam mobil.
Sementara itu, Raka yang dicari, tengah berada disebuah klub malam. Ia memilih melepas stressnya di tempat itu. Sudah banyak wanita yang mencoba menghampiri dia. Namun, tak satu pun dari mereka ia gubris.
Pria itu seakan tak peduli dengan sekitarnya. Ia terus menenggak gelas demi gelas.
__ADS_1
"Ternyata kamu di sini. Aku telepon kenapa gak diangkat?" tanya seseorang.
Raka menoleh dan tersenyum pada wanita itu. "Kapan kamu kembali ke Yogya?" tanya Raka balik.
"Baru aku sampai. Tadinya, mau melepas lelah sebentar di sini. Bagaimana usahamu menemui Resti?" tanya Riska lagi.
Ya, wanita yang menghampiri Raka adalah Riska. Raka menelungkupkan wajahnya di atas meja. Bahunya bergetar hebat. Seketika, Riska bingung harus berbuat apa.
"Raka, sebaiknya kita kembali ke rumah sekarang. Ada banyak orang yang melihatmu di sini. Ayo." Riska membantu Raka untuk berdiri.
Susah payah Riska menolong Raka berjalan Ia pun membawa Raka ke mobilnya. "Mobil kamu di mana?" tanya Riska begitu mereka keluar dari klub.
Wanita itu menarik napasnya dalam. "Hampir aja gue mati," gumam Riska yang kelelahan.
Ia pun mengambil kunci Raka dan membawa mobil tersebut. Beberapa kali, Riska menoleh pada pria itu. Terlihat kesedihan menggelayut di mata Raka.
"Resti nolak kamu?" tanya Riska setelah mereka saling terdiam.
"Ya. Aku tahu, tida akan mudah bagi Resti memaafkan aku. Apalagi, sekarang ada pria yang berdiri di sampingnya." Raka menjawab pertanyaan Riska.
__ADS_1
"Kelihatannya, dia suka sama Resti. Apa aku salah?"
"Tidak. Dia memang menyukai Resti. Aku tahu itu," jawab Raka lemah.
Ih, apa sih cantiknya cewek kampung itu! Apa mata kalian para laki-laki buta? Jelas jauh lebih cantik aku dibanding dia! Riska hanya mengucapkannya dalam hati.
Tak lama, mobil memasuki pekarangan rumah Raka. Riska kembali membantu Raka untuk keluar. Namun, seseorang mendorong dirinya.
"Brengsek!" maki Riska saat melihat Bayu di sana.
"Jauhi Raka!" ucap Bayu tegas.
"Kamu gak ada urusan dengan hubungan kami!" ujar Riska.
"Bayu benar. Sebaiknya, kau jauhi aku. Aku tidak ingin Resti salah paham. Bagaimana pun, aku akan kembali memperjuangkan cintaku untuk Resti. Sekali pun dia menolak, aku tidak akan mau kembali bersamamu Riska."
Bayu segera membawa Raka masuk ke rumah. Meninggalkan Riska yang terdiam mematung menatap mereka.
Tidak! Aku tidak akan biarkan kalian kembali bersama!
__ADS_1