Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 77 ~ Pertemuan di makam


__ADS_3

Resti menatap Dimas dengan dahi berkerut. Ia merasa, bila Dimas tidak memiliki pendirian. Sesaat, pria itu menyerah, sesaat kemudian, ia kembali berjuang.


"Bukankah kau sudah menyerah?" tanya Resti.


"Aku tidak pernah menyerah. Hanya butuh waktu untuk memikirkan keputusan yang harus kuambil!" jawab Dimas tegas.


"Dasar bodoh! Plin-plan!" maki Resti lirih.


Dimas mendekat, dan memegang pundak Resti lembut. Hal itu membuat Resti terkejut. Sesaat, keduanya saling bertatapan. Resti merasa, tatapan dari pria di depannya ini, mampu menenggelamkan ia11 ke dalam jurang tak berdasar.


Wanita itu sempat terseret arus dalam, yang tercipta dari tatapan Dimas. Resti bahkan tak berkedip sedikit pun. Sampai sepasang bahunya di sentuh.


"Aku akan membuatmu berpaling padaku," ucap Dimas dengan penuh keyakinan.


Namun, Resti menanggapinya dengan senyuman getir. Tidakkah Dimas tahu, bagaimana reaksi orang tuanya saat mengetahui status Resti? Apakah ia harus memaksakan kehendaknya? Bagaimana bila Resti kembali merasakan kehancuran sebuah hubungan?

__ADS_1


"Apa kau tahu reaksi ibumu, saat tahu aku seorang janda?" tanya Resti. "Dia kecewa," lanjutnya.


Dimas diam termangu. Dari matanya tersirat, bila ia tidak tahu mengenai hal itu. Melihat reaksi Dimas, Resti hanya menggelengkan kepala dan memilih pergi dari sana.


Namun, Dimas menahan lengan Resti. "Mama mungkin kecewa. Tapi ... bukan berarti mama tidak menyetujui pilihanku." Tatapan Dimas, terlihat begitu yakin.


Resti menghela napas dalam. Ia kembali membuang tatapannya. "Beri aku sedikit waktu. Sekarang ini, aku ingin kembali ke Jakarta."


"Biar aku yang mengantarmu ke sana. Aku tidak mau kehilangan dirimu untuk kesekian kalinya!" tegas Dimas. "Tidak ada penolakan!" Dimas lebih dulu menyela, ketika melihat Resti membuka mulutnya.


***


Menghirup udara yang tak sebersih kota Yogyakarta adalah hal pertama yang Resti lakukan, begitu menginjakkan kaki di ibu kota. Kondisi jalanan yang selalu padat, menjadi awal rutinitas yang akan Resti jalani.


Dimas sendiri, selalu mengikuti kemana Resti melangkah. Meski sedikit tak nyaman, Resti hanya bisa diam. Ia memilih bungkam, dan membiarkan Dimas melakukan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Hari ini, Resti berencana mengunjungi makam kedua orang tuanya. Ia baru saja melangkah keluar, saat mobil yang ditumpangi Dimas berhenti di depan rumahnya. Pria itu bahkan melambaikan tangan pada Resti.


"Sampai kapan kamu akan mengikuti aku kaya gini?" tanya Resti saat Dimas menghampirinya.


"Sampai kamu membuka hati, dan melihat hatiku," jawab Dimas dengan senyum manis. "Kamu mau ke mana hari ini? Biar aku yang antarkan." Dimas membukakan pintu samping untuk Resti.


"Aku mau ke makam orang tuaku dulu," jawab Resti lirih.


Dimas pun segera menuju TPU, tempat kedua orang tua Resti disemayamkan. Hampir satu jam kemudian, mobil tersebut memasuki wilayah TPU.


Langkah mereka terhenti seketika, saat melihat dua orang pria yang juga tengah mengunjungi makam orang tua Resti. Resti tak bisa mencegah rasa haru, saat mengetahui Raka mengingat tentang kedua orang tuanya.


Dia ... masih ingat tentang kematian bapak dan ibu? Resti pun mulai berjalan mendekati kedua pria itu.


Bagas yang melihat kehadiran Resti segera membungkukkan badan, sebagai salam. Raka juga mengangkat pandangannya. Sesaat, ia menatap Resti dengan intens.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?" tanya Raka.


__ADS_2