
Raka kembali ke rumah yang ia tinggali bersama Resti. Matanya menelisik hingga ke sudut ruangan. Sepi, itu yang Raka rasakan saat ini. Ia menghela napas perlahan. Langkahnya menuju kamar utama. Kamar yang ia tempati bersama Resti, yang kini sudah menjadi mantan istrinya.
Pandangan Raka tertuju pada ranjang besar, yang mereka gunakan dulu. Terbayang dalam benak Raka, kegiatan yang selalu mereka lakukan beberapa waktu sebelum berpisah. Berbicara sebelum tidur, saling bercanda, membicarakan masa depan, bahkan Resti selalu melayaninya dengan baik.
Raka menggelengkan kepala, mengusir kenangan yang melintas tadi. Bunyi ponsel dalam saku, menghentikan langkahnya. Terlihat nama Riska di sana. Raka memejamkan mata sesaat, kemudian meletakkan ponsel itu di atas nakas. Mengabaikan panggilan yang Riska lakukan.
Kembali ia melangkahkan kaki menuju ruang wardrobe. Meletakkan jas serta tas kerjanya. Terlihat, pakaian Resti masih tergantung di sana.
"Maaf," ucap Raka sendu menatap pakaian itu. Air mata jatuh menetes dari sudut matanya.
Sementara itu, Dewi yang sud mendapatkan tanda tangan Raka, menyerahkan dokumen itu pada Resti.
"Tante, sudah dapatkan tanda tangan Mas Raka?" tanya Resti.
Dewi menganggukkan kepala dan tersenyum kecil. "Boleh mama minta sesuatu?"
__ADS_1
Resti menganggukkan kepalanya. Dewi pun mendudukkan diri di kursi samping ranjang Resti. Menggenggam jemari Resti dan menepuknya lembut.
"Mama ingin, kamu menganggap mama sebagai ibumu," pinta Dewi.
"Tapi, Resti dan Mas Raka sudah akan bercerai. Rasanya, akan canggung bila saya tetap memanggil, Anda, dengan panggilan 'mama'." Resti menjelaskan alasannya menolak permintaan Dewi, ibu mertuanya.
"Mama tahu. Sejak awal, mama sudah menganggapmu seperti putri mama sendiri. Hanya ini keinginan mama." Dewi terus mencoba membujuk Resti.
"Tapi ...." Ucapan Resti terpotong.
"Jangan khawatir! Mama tidak akan meminta kamu kembali pada Raka. Jika suatu hari Raka menyadari kesalahannya, mama tidak akan memaksa kalian untuk kembali."
***
Resti menatap langit dari kamar rawatnya. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Sebentar lagi, ia akan diizinkan pulang. Kemanakah ia akan pergi, setelah keluar nanti? Bagaimana pun, Resti harus memikirkan langkah yang akan ia ambil.
__ADS_1
Apa aku sanggup tinggal di kota ini? Suatu saat, aku pasti akan bertemu dengan Mas Raka dan wanita itu. Apa aku akan siap dengan hal itu?
Resti menghela napas dalam. Ia kembali teringat pada anak yang pernah tinggal dalam rahimnya. Namun, ia tak sempat melihat dunia ini.
"Andai kau ada di sini," gumam Resti seraya mengusap perutnya.
Pintu terbuka, menampakkan Dewi yang masuk ke ruangannya. Resti melangkah ke ranjang, lalu duduk di pinggir.
"Besok, kamu sudah bisa pulang. Apa kamu ingin tinggal di rumah mama?" tanya Dewi.
"Tidak. Aku belum ingin bertemu dengan Mas Raka." Resti menundukkan kepalanya.
"Oke! Kalau begitu, katakan tempat tujuanmu. Mama dan papa sendiri yang akan mengantarmu pulang besok."
Resti menggelengkan kepala. Ia juga tidak tahu, harus ke mana. Tidak mungkin ia kembali ke rumah di mana Raka tinggal.
__ADS_1
"Rumah ibu," jawabnya lirih.
Satu-satunya tempat yang terbersit dalam benak Resti, hanya rumah itu. Rumah yang ia tempati bersama orang tuanya.