
Dimas mendekati Raka dan menarik kerah baju pria itu. Matanya menatap Raka geram. Raka mengerjap cepat melihat kemarahan Dimas.
Tak terima dengan yang Dimas lakukan, Raka melepas tangan pria itu dari kerah bajunya. Bahkan mendorong Dimas dengan kasar.
"Aku hanya bertanya tentang keberadaan Resti. Kenapa kau justru memukulku?" tanya Raka.
"Kenapa? Kau tidak terima?" Dimas seperti sengaja memprovokasi Raka.
"Jelas aku tidak terima!" Raka pun melayangkan bogem mentahnya pada pipi Dimas.
Perkelahian pun tak terelakkan. Entah apa sebenarnya yang mendasari kejadian itu. Keduanya saling berteriak dan memaki. Tidak ada seorang pun yang melerai mereka. Entah itu sebuah kebetulan, atau tidak. Satpam yang biasanya berjaga, bahkan tak terlihat.
"Dengar! Resti itu milikku, Bang*at!" maki Raka. Ia kembali melayangkan pukulannya.
Mendengar ucapan Raka, Dimas balik menyerang. "Milikmu? Siapa kau berani mengakui dia milikmu?" teriak Dimas.
Dari caranya memukul, ia terlihat tak terima dengan ucapan Raka. Namun, kata-kata Raka selanjutnya, menghentikan gerakan Dimas yang akan memukulnya lagi.
"Aku lebih dari berhak! Dia istriku!"
Raka segera mendorong Dimas menjauh. Ia pun menyadari, bila pria yang memukulnya itu menyimpan rasa pada Resti. Jadi, dia menyukai Resti?
__ADS_1
"Istri?" ulang Dimas dengan nada rendah.
"Ya. Resti istriku." Raka menjawab dengan penuh keyakinan.
Ia sengaja, menekankan kata terakhirnya. Berharap, pria itu membuang jauh perasaannya. Bukan tidak mungkin, Resti akan memilih dia. Apalagi, melihat masa lalu mereka.
Sadar bila Resti tak mungkin memilihnya, Raka lebih dulu menjauhkan pria itu dari sang mantan istri. Bagaimana pun, Resti hanya bisa menjadi milikku. Maaf, tapi aku tidak akan memberimu kesempatan! ucap Raka dalam hati.
"Kau pasti bohong," ucap Dimas tak percaya. Tubuh pria itu terlihat bergetar hebat.
"Aku tidak bohong. Sayangnya, aku tidak membawa buku nikah kami." Raka berhenti sejenak. "Apa Resti tidak mengatakan tentang siapa aku?"
Dimas menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat pucat. Tatapan Dimas, bahkan tak lagi berseri.
Mati? Ya, semua karena aku. Raut wajah Raka berubah sendu.
Perkelahian mereka pun terhenti. Dimas memilih masuk ke dalam mobil dan pergi. Tak peduli dengan wajahnya yang mulai membiru. Melihat lawannya pergi, Raka pun meninggalkan tempat itu. Dari kejadian tadi, Raka tahu Resti tidak ada di sana.
***
Keesokkan harinya, Resti keluar dari kantor. Ia menatap seluruh area parkir. Sepertinya, tengah mencari sesuatu. Tak berapa lama, ia masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Ke mana Dimas?" gumam Resti.
Tak ingin memikirkan hal lain, Resti segera meninggalkan area parkir. Di pertengahan jalan, ponsel wanita itu berdering. Ia segera memasang handsfree bluetooth.
"Halo," sapanya.
Senyum di wajah Resti terbit. Suara yang di dengarnya sungguh merdu. Ia adalah Adam, keponakan Dimas.
"Tante, Om Dimas sakit."
Resti terkejut mendengar ucapan pertama Adam. Sakit? Apa karena aku menolaknya kemarin? Tidak mungkin.
"Sakit apa, Sayang?" tanya Resti tenang.
"Demam. Tapi, muka om biru-biru, Tante."
Mendengar ucapan Adam, Resti mengerutkan dahinya dalam. Ia semakin bingung dengan yang terjadi.
"Res, ini Chyntia. Sepertinya, Dimas habis berkelahi. Sayangnya, kami tidak bisa menginterogasi dia sekarang. Dia, belum sadarkan diri. Kami akan bawa dia ke rumah sakit."
"Ah, iya, Mbak. Aku, langsung ke sana, ya," jawab Resti.
__ADS_1
Panggilan pun terputus. Resti segera menuju rumah sakit yang dikatakan Chyntia. Dimas berkelahi dengan siapa?