
Untuk sesaat, Resti tertegun mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Raka. Berbagai asumsi kembali ia kembangkan dalam benaknya. Sejujurnya, ia tak menyangka bila ingatan Raka akan kembali secepat ini.
"Sebelumnya, kita pernah bertemu di kota Yogya," lanjut Raka.
Tepat di tengah kegembiraan di hatinya, Raka kembali menghempaskannya dalam jurang kesedihan. Euforia kebahagiaan itu pun lenyap seketika. Membuat Resti kembali menelan pil kekecewaan.
"Ya. Anda, benar," jawab Resti.
Dimas yang berdiri di samping Resti, bisa melihat kesedihan di wajah wanita itu. Ia pun menggenggam jemari Resti dengan erat. Entah bagaimana, Resti bisa menahan air matanya yang akan jatuh.
"Apa, Anda, mengenal orang tua saya?" tanya Resti setelah mereka terdiam sesaat.
Dimas bisa melihat, tatapan Raka yang beralih pada genggaman tangan antara dirinya dan Resti. Melihat itu, sudut bibir Dimas terangkat tipis. Ia pun semakin mendekatkan diri pada Resti.
"Tidak. Hanya saja, saya ingat pernah menabrak orang saat kecelakaan." Raka menatap mata Resti.
"Ya, saya tahu hal itu. Terima kasih sudah mengunjungi makam orang tua saya." Resti terlihat mulai menguasai diri. Ia tak lagi terlihat goyah.
__ADS_1
Tanpa sepatah kata, Raka meninggalkan tempat itu diikuti oleh Bayu. Resti menatap nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya. Ia tak lagi menoleh pada Raka yang kini semakin menjauh. Perlahan, air mata Resti jatuh membasahi pipinya.
"Apa yang kau tangisi, Res? Kedua orang tuamu, atau sikap mantan suami yang sekarang sudah melupakanmu?" tanya Dimas, seraya berjongkok mengikuti Resti.
Pria itu ikut menatap nisan di hadapannya. Mendengar suara Resti yang tertahan, Dimas bangkit berdiri dan membelakangi wanita itu.
"Menangis lah! Aku tidak akan melihat ke arahmu. Tapi, kau harus berjanji, jika setelah ini kau tidak akan pernah lagi menangisi sesuatu yang menyakiti hatimu," ujar Dimas.
Tak lama, tangis Resti pun pecah. Ia mengeluarkan semua emosi yang tertahan selama ini.
***
"Sekarang makanlah! Kau butuh energi untuk menghadapi kehidupan," titah Dimas.
Pria itu menyodorkan makanan yang telah dipesannya ke hadapan Resti. Bahkan, menaruh sendok tepat di tangannya. Resti menatap Dimas sesaat. Dalam hati, ia membenarkan ucapan pria yang selalu ada untuknya itu.
Dasar bodoh! Apa kamu gak bisa lihat betapa Dimas mencintaimu? Dia bahkan selalu meluangkan waktu untuk dirimu! Resti memakai dirinya sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Dim," panggil Resti.
"Hmm," sahut Dimas seraya mengangkat pandangannya.
"Terima kasih untuk kebaikanmu selama ini. Aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya. Bisakah aku meminta waktumu sedikit lagi, untuk bisa meyakinkan diri sendiri?" pinta Resti.
"Ambil waktu yang kau butuhkan, untuk melihat perasaan itu. Aku tidak akan memaksamu. Sebagai balasannya, jangan minta aku pergi dari sisimu!" jawab Dimas.
Ada kesungguhan di mata Dimas. Resti pun tersenyum seraya menganggukkan kepala. Kemudian, keduanya pun melahap makanan yang ada di depan mereka.
Sementara itu, Raka meminta Bayu menyelidiki kecelakaan yang terjadi padanya di Yogya secara diam-diam. Mendengar perintah atasan sekaligus sahabatnya, Bayu merasa bila Raka tidak dalam kondisi amnesia.
"Bay, tolong selidiki kecelakaan mobil yang terjadi padaku di Yogya kemarin. Oh, iya, rahasiakan hal ini dari papa dan mama. Bahkan, siapa pun," titah Raka.
Apa aku salah? Bagaimana dia bisa ingat tentang kecelakaan di Yogya? batin Bayu.
Tak mendapat sahutan dari asisten sekaligus sahabatnya, Raka menepuk pundak Bayu. "Kenapa? Lo berpikir kalau gue udah sembuh dari amnesia?" tebak Raka.
__ADS_1
Bayu tergagap. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Nyatanya, hal itu memang mengganggu pikirannya saat ini. Belum sempat ia menjawab, Raka lebih dulu menyela.
"Gue emang gak amnesia. Gue baik-baik saja." Raka menatap Bayu.