
Satu minggu sudah Resti menemani Riska di rumah sakit. Meski operasi dinyatakan berhasil, wanita itu tak jua sadarkan diri. Dimas sendiri, masih dalam masa pemulihan. Namun, tetap setia menemani Resti di sana.
Kabar tentang kejadian ini pun akhirnya sampai ke telinga Raka. Meski terlambat mengetahuinya, ia segera menuju ke rumah sakit, untuk memastikan kondisi Resti. Ya, bukan Riska yang ia khawatirkan, melainkan mantan istrinya sendiri.
Tiba di rumah sakit, Raka bergegas mencari keberadaan Resti. Saat tahu Resti berada di ruang ICU, menemani Riska, Raka segera menuju ruangan itu. Benar saja,wanita itu duduk di depan ruang ICU bersama Imas.
"Kamu gak apa-apa, 'kan? Gak terluka, 'kan?" cecar Raka seraya memeluk Resti.
Rasa terkejut, membuat Resti terdiam membisu, dengan tatapan mata yang membola sempurna. Ia bisa melihat kekhawatiran di mata mantan suaminya itu. Bolehkah aku merasa senang? batinnya.
Kembali, Raka menatap Resti dari ujung kepala hingga ujung kaki. Memastikan wanita yang begitu dicintainya tidak mengalami luka sedikit pun. Dimas yang sempat terkejut, segera tersadar. Ia mendorong tubuh Raka menjauh.
"Resti baik-baik saja. Anda, tidak perlu khawatir berlebih seperti itu," ujar Dimas.
"Syukurlah." Raka menghela napas lega, kemudian, "Terima kasih sudah menjaga Resti," lanjutnya.
"Itu kewajiban saya sebagai seorang pria yang mencintai dia. Menjaga, melindungi, dan memastikan kebahagiaannya!" Dimas terlihat tengah menyindir Raka.
__ADS_1
Seketika Raka terdiam mendengar kalimat itu. Ia tahu, Dimas tengah menyindir dirinya. Terlihat jelas dari mimik wajahnya. Sementara itu, Resti baru tersadar dari rasa bingungnya.
"Kamu ... sudah mengingat semuanya?" tanya Resti.
Melihat reaksi Raka yang langsung memeluknya, bahkan reaksi Raka yang disindir oleh Dimas, membuatnya menarik sebuah kesimpulan. Yaitu, ingatan Raka telah pulih. Ada rasa bahagia, yang terpancar dari bola mata Resti.
"Ya. Aku sudah ingat semuanya," bohong Raka. Pria itu tak ingin Resti mengetahui yang sebenarnya.
"Sejak kapan?" tanya ya lagi.
"Syukurlah. Aku minta maaf, karena sudah membuatmu marah dan berakhir dengan ...." Ucapan Resti terhenti, saat Raka menutup mulut wanita itu dengan telapak tangannya.
Mata mereka pun saling bertatapan untuk beberapa waktu. Sampai Raka tersadar dan menarik tangannya. "Maaf," ucapnya.
Dimas terlihat tidak suka dengan interaksi mereka. Akhirnya, ia memilih menggenggam tangan Resti hangat. Hal itu berhasil mengalihkan perhatian Resti.
"Kekasihmu koma. Karena sekarang kau sudah ada di sini, sebaiknya kami pulang. Resti butuh istirahat," pamit Dimas. Ia tak ingin Resti berada di dekat Raka terlalu lama.
__ADS_1
"Ya, silakan." Raka mempersilakan mereka untuk kembali. Meski sudut hatinya belum merelakan hal itu.
"Kami pergi, dulu," pamit Resti.
Wanita itu segera menyambut genggaman Dimas di tangannya. Kemudian, melangkah pergi dari sana. Sesekali, ia menoleh pada Raka.
Aku senang, kau sudah pulih. Semoga tidak ada hal buruk yang menimpamu lagi, harap Resti dalam hatinya.
Sepeninggal Resti, Raka menatap Riska yang terbaring lemah di ruangan ICU. Kepalanya terbalut perban yang cukup banyak. Raut wajahnya terlihat datar cenderung dingin.
"Aku ingin bertemu dengan Dokter sebentar," ucap Raka pada Bayu.
Bayu hanya menundukkan kepalanya. Raka segera menemui Dokter yang menangani Riska. Tanpa membuang waktu, Raka segera mengetuk pintu, lalu masuk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter tersebut.
"Boleh saya tahu, kapan pasien bernama Riska akan sadar?"
__ADS_1