
Resti terus tersenyum sejak Raka pergi. Selama Raka di sana, Resti berusaha keras mengendalikan diri. Ia bahkan merasa seperti remaja labil, yang tengah jatuh cinta.
Lamunan Resti buyar, kala ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk terlihat di layar. Nama Raka terlihat jelas di sana. Segera, ia membuka pesan tersebut.
"Apa Sabtu ini kamu punya waktu? Aku punya tiket nonton bioskop. Kalau kamu gak keberatan, mau menemaniku menonton bersama?" tulis Raka dalam pesannya.
Pria itu juga mengirimkan gambar tiket yang ada padanya. Resti mencoba mencari tahu tentang film yang akan mereka tonton, sebelum menjawab ajakan Raka.
"Ini film thriller?" tanya Resti melalui pesan singkat dengan simbol gagang telepon.
Tak butuh waktu lama bagi Raka untuk menjawab pesan itu. "Iya! Kamu gak suka, ya? Aku bisa ganti sekarang. Kamu mau nonton apa?" tanya Raka.
Mereka pun saling membalas pesan. Pembicaraan mereka bahkan berlanjut hingga hampir tengah malam. Tanpa sadar, Resti lebih dulu tertidur.
***
Raka kembali membuka aplikasi pesan yang digunakan sejuta umat. Membaca ulang pesan di nomor Resti berkali-kali. Senyum terus tersungging di bibir tipisnya.
"Ah! Kenapa aku jadi seperti ABG, ya?" gumamnya masih dengan senyum yang tak juga menghilang.
__ADS_1
"Raka!"
Panggilan itu mengalihkan fokus Raka dari ponselnya. Pria itu turun dari ranjang, lalu membukakan pintu. Terlihat Ibra yang berkacak pinggang menatap putra semata wayangnya.
"Ada apa, Pa?" tanya Raka.
Ibra menghela napas sejenak. "Kali ini, kamu ambil cuti untuk apalagi?" Ibra balik bertanya.
Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, seraya tersenyum kikuk. "Aku ... mau deketin Resti lagi, Pa," jawabnya.
Ibra menggaruk pelipisnya pelan. "Papa gak ngelarang kamu mendekati Resti. Tapi, bedakan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Kamu sadar, 'kan kalau pekerjaan yang kamu tinggal keluar kota kemarin masih menumpuk?"
"Maaf, Pa,"ucap Raka menundukkan kepala.
Mendengar ucapan sang ayah yang tak tuntas, Raka mengangkat pandangannya. Raut wajah Ibra terlihat begitu serius. Raka pun meneguk salivanya yang terasa pahit.
"Pastikan kau bisa merebut hati Resti dan menjadikannya menantu papa lagi," lanjut Ibra seraya menepuk pundak putra kesayangannya.
Senyum Raka langsung merekah sempurna, saat mendengar kelanjutan kata-kata beliau. Raka pun memeluk sang ayah dan menyanggupi permintaannya.
__ADS_1
***
Malam minggu pun tiba. Resti membuka lemari pakaiannya. Wanita itu tengah mencari outfit yang cocok untuk berkencan dengan Raka. Kencan? Apa ini bisa disebut dengan kencan? tanya Resti dalam hati.
Ini adakah kali pertama Resti menerima ajakan seorang pria. Meski banyak pria yang menyukai dia, Resti tidak pernah menerima mereka. Bisa dibilang, ini kencan pertama Resti. Yang semakin membuatnya tertawa geli, ia melakukan kencan pertama dengan mantan suaminya.
"Astaga ... kenapa aku ngerasa geli sendiri, ya?" Resti mengendikkan bahunya.
Sementara itu, Raka juga sudah mematut diri di cermin. Kali ini, pria itu memilih menggunakan outfit santai. Sayangnya, apapun yang digunakan Raka, tetaplah bagus.
Mereka pun bertemu di mall yang sudah dijanjikan. Banyak pasang mata yang menatap kagum pada mereka.
"Hai, Cantik," sapa Raka bahagia.
Wajah Resti bersemu mendengar sapaan Raka padanya. "Hai, juga, Mas," balas Resti.
"Jadi, 'kan nontonnya?" tanya Raka dengan berteriak.
"Yuk!" ajak Resti.
__ADS_1
Keduanya pun bersiap menuju bioskop. Namun, langkah mereka terhenti, saat seseorang memanggil Resti. Keduanya pun menoleh ke arah yang sama.
"Ini siapa Lo?" tanya seorang wanita yang tadi memanggil Resti.