Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 69 ~ Panik


__ADS_3

Suasana ruang tunggu terasa begitu mencekam. Semua yang menanti Raka, begitu cemas hingga tak ada satu pun yang beranjak dari sana. Dimas yang sejak tadi ikut menunggu, menghampiri Resti. Ia menggenggam tangan wanita yang dicintainya itu hangat.


Resti menoleh pada Dimas. Seketika, air mata Resti jatuh membasahi pipinya. Dimas menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Mengusap bahu Resti yang berguncang.


"Raka pasti selamat," ucap Dimas menenangkan.


"Siang tadi, kami bertemu, Dim. Dia baik-baik saja. Tapi sekarang?" Resti kembali menangis.


Ia memegang kemeja Dimas dengan erat hingga terlihat lecek. Dimas membiarkan Resti meluapkan kesedihannya.


"Seharusnya, kami bicara baik-baik saja. Tapi aku selalu menolaknya. Aku juga tida pernah mau mendengarkan ucapannya," lanjut Resti di sela tangisnya.


"Semua bukan salahmu. Sebaiknya kita berdoa saja, semoga Raka bisa melewatinya dengan baik."


Lampu ruang operasi pun padam. Resti menghapus air matanya dan menanti Dokter keluar. Tak lama, pintu terbuka. Mereka segera menghampiri Dokter.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Ibra.

__ADS_1


Meski Ibra pernah menghukum Raka, tetapi sebagai ayah ia tetap mengkhawatirkan anaknya. Dewi pun melakukan hal yang sama.


"Kondisinya saat ini masih dalam pemantauan. Untuk sekarang, pasien akan berada di ruang ICU," jawab Dokter.


"Tapi, operasinya berhasil, 'kan, Dok?" tanya Dewi.


"Operasinya memang berhasil. Tapi, kondisi pasien saat tiba cukup kritis. Jadi, mari kita tunggu sampai pasien sadar." Dokter pun berpamitan pada pihak keluarga.


Mereka tidak diizinkan melihat Raka ke dalam ruang ICU. Jadi, mereka hanya bisa melihat dari kaca penghubung.


"Res, atas nama Raka, mama minta maaf, ya," ucap Dewi.


"Mama, jangan ngomong gitu. Kita harus yakin, Mas Raka akan bangun lagi," jawab Resti.


Kedua wanita itu saling berpelukan. Dalam hati, keduanya berharap Tuhan memberikan Raka kesempatan hidup. Ada sesuatu yang menusuk relung hati Dimas.


"Apa tidak ada tempat untukku di hatimu?" lirih Dimas.

__ADS_1


Ia pun memilih meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan. Tidak ada di antara mereka yang menyadari kepergiannya.


***


Beberapa hadir berlalu. Tidak ada tanda-tanda Raka akan bangun. Setiap hari Resti selalu datang ke sana dan menunggui Raka. Tak bisa ia pungkiri, rasa cinta untuk Raka, masih bertahta di hatinya.


Sekeras apa pun Resti mencoba untuk menguburnya, rasa cinta itu seakan menemukan jalan pada sang pemilik.


"Nyatanya, cintaku tak pernah padam, Mas. Meski aku membencimu, cinta itu tetap ada dalam hatiku. Saat tau kamu mengalami kecelakaan, hatiku terasa sangat sakit. Apalagi, melihat keadaanmu yang seperti ini." Secepat mungkin ia menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Dari belakang, seseorang menepuk pundaknya. Resti menoleh dan mendapati Dewi, mantan ibu mertuanya di sana.


"Raka pasti sadar, Sayang. Mama tahu, kamu bukan wanita yang mudah berpaling." Dewi mengusap bahu Resti lembut.


Beberapa perawat datang bersama Dokter. Kedua wanita itu pun berubah panik. Mereka takut terjadi


sesuatu pada Raka. Dewi dan Resti saling menggenggam satu sama lain. Tak lama, Ibra ikut bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Ada apa dengan Raka, Ma?" tanya Ibra.


"Mama gak tahu, Pa. Kita tunggu Dokter keluar saja," jawab Dewi.


__ADS_2