
Tak tahan dengan intimidasi Raka, Resti mendorong pria itu. Sayangnya, perbedaan tenaga di antara mereka, membuat pria itu tetap berdiri teguh di hadapan Resti. Sebuah tamparan pun melayang indah ke pipi Raka.
Raka tertegun sesaat. Apalagi, ketika ia menatap kedua mata Resti. Tersirat luka di sana. Perlahan, Raka memundurkan langkahnya.
"Maafkan aku," ucap Raka lirih.
Tak ingin memperpanjang masalah, Resti pergi tanpa sepatah kata. Ia menghentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang.
Wanita itu menutup mata sesaat, sekedar meredakan amarah di dadanya. Kemudian, menyebutkan tujuannya pada supir taksi.
Sementara Raka, masih terdiam di tempat. Beberapa saat kemudian, "Dasar bodoh!" umpat Raka pada dirinya sendiri.
Ia pun segera meninggalkan rumah Resti. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Beberapa hari kemudian, Raka kembali menemui Resti. Ia membawakan buket bunga untuk mantan istrinya itu. Buket itu terlihat cantik, dengan banyaknya jenis dan warna bunga.
Saat ia tiba, terlihat sebuah mobil yang terparkir cantik di jalanan rumah sang mantan. "Mobil siapa ini?" tanya Raka pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Pria itu pun turun dari mobilnya. Ia sangat ingin tahu tamu yang tengah mengunjungi rumah wanita yang dicintainya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, ya," ucap seseorang dari dalam.
Dari suaranya, Raka tahu bila tamu Resti adalah seorang pria. Tak lama kemudian, seorang pria muncul dari dalam. Sesaat, keduanya saling terkejut.
"Loh, Pak Raka!" ucapnya berbinar.
"I-iya," jawab Raka dengan senyum yang dipaksakan.
Sejujurnya, Raka tidak ingat siapa orang yang menyapanya ini. Apa aku mengenalnya? Tapi ... siapa, ya? Aku tidak ingat, gumam Raka dalam hati.
"Ah, saya baru ingat kalau, Pak Raka sempat kecelakaan waktu di Yogya. Sudah begitu, Bapak, juga mengalami amnesia." Pria itu terlihat sedikit sedih.
"Maaf, ya, Pak. Saya tidak bermaksud melupakan, Anda," ucap Raka.
"Gak apa, Pak. Saya mengerti, kok! Semoga, Bapak cepat pulih," harap pria itu.
"Terima kasih doanya," ucap Raka tulus.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pamit dulu." Pria itu menepuk bahu Raka. "Resti, jangan lupa dengan ucapan saya!" peringat pria itu pada Resti.
"Baik, Pak. Hati-hati di jalan." Resti tersenyum manis melepas kepergian pria tersebut.
Melihat senyum Resti yang seperti itu, membuat Raka kembali terbakar api cemburu. Dadanya terasa amat panas menahan gejolak. Sabar, Raka, sabar!
"Siapa dia? Apa aja yang kalian bicarain tadi?" cecar Raka setelah melihat Resti kembali.
Resti memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan itu. "Mas, kita itu sudah bukan suami istri. Jadi, tidak ada kewajiban bagiku untuk mengatakan semua hal padamu!"
Ia melangkah masuk, meninggalkan Raka yang berdiri mematung. Mungkin, pria itu tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Beberapa detik kemudian, Raka menyadari kesalahannya. "Salah lagi!" gerutu Raka. Ia pun menyusui Resti masuk ke dalam.
"Aku bawa ini untuk kamu." Raka menyerahkan buket bunga tadi pada Resti.
"Untuk apa?" tanya Resti.
"Sebagai permintaan maaf. Maaf, karena perilakuku yang tidak sopan kemarin. Begitu juga dengan hari ini," jelas Raka.
__ADS_1
Resti menatap bunga tersebut. Kemudian, mengambilnya dari tangan Raka.
"Sayangnya, aku terlalu hapal sifatmu. Sebentar lagi, kamu akan kembali mengulangnya!"