Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 38 ~ Keinginan Resti


__ADS_3

Resti menatap rumah yang ia tempati bersama kedua orang tuanya dulu. Usapan lembut di punggungnya, membuat Resti menoleh dan tersenyum. Mereka pun memasuki rumah itu bersama.


Ia memang tidak datang seorang diri. Ada Dewi dan Ibra yang menemaninya. Sejak perceraian antara Raka dan Resti didaftarkan ke pengadilan, Dewi dan Ibra lebih banyak memperhatikan Resti, yang sudah mereka anggap seperti putri sendiri.


Resti menyiapkan air minum, untuk keduanya. Kemudian, ia mendudukkan diri di samping Dewi. Wanita yang berstatus sebagai ibu dari Raka itu pun, mengusap lembut rambut Resti.


"Panggilan pengadilan sudah datang," ucap Dewi mengawali pembicaraan.


"Secepat itu?" tanya Resti dengan raut heran.


"Segala sesuatu bisa berjalan cepat dengan uang, Nak." Kali ini, Ibra yang menjawab.


Resti menganggukkan kepala mengerti. Di dunia ini, uang memang memegang kuasa penting. Tidak heran, bila perceraian antara dirinya dan Raka, bisa berjalan cepat.


"Apa aku harus hadir?" tanya Resti lagi.


"Hadirlah! Karena Raka pasti tidak akan hadir." Dewi meyakinkan Resti.


Mendengar jawaban Dewi, Resti pun menganggukkan kepala mengerti. Matanya menerawang jauh. Dewi menghela napas dalam melihat itu.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, Nak?" Dewi mengusap punggung tangan Resti.


Wanita itu tersenyum lembut pada wanita, yang akan berubah status menjadi mantan mertuanya itu. Menggenggam balik tangan tua yang selalu mendukungnya.


"Setelah ketuk palu nanti,a ku ingin meninggalkan kota ini," jawab Resti lirih. Ia menatap Dewi sungguh-sungguh.


Dewi yang mendengar jawaban Resti, tampak termangu. Ibra menegakkan tubuh dan mencondongkannya.


"Kota mana yang ingin kamu datangi?" tanya Ibra.


"Ke mana saja, Pa. Asal jauh dari sini." Resti mengalihkan tatapan pada Ibra.


"Tapi ...."


"Kamu takut bertemu dengan Raka?" Melihat anggukkan kepala Resti, Ibra terkekeh. "Dia tidak akan bisa menemukanmu." Ibra terlihat sangat yakin.


"Jangan takut! Papa selalu menepati janjinya," ucap Dewi meyakinkan.


Resti pun menganggukkan kepala. Ia percaya, kedua orang tua dari mantan suaminya ini, pasti akan menjaga dan menepati janjinya.

__ADS_1


***


Sudah beberapa hari Raka tidak kembali ke rumah, yang biasa ia tempati bersama Resti. Tak ada lagi kehangatan di sana. Rumah itu terasa hampa dan dingin. Helaan napas kasar terdengar dari Raka. Bahkan, asisten rumah tangga yang sempat bekerja, berhenti saat Resti dan Raka memutuskan berpisah.


"Sayang, tolong ambilkan mas handuk!" teriak Raka. Begitu memasuki kamar, pria itu segera membersihkan diri.


Tak mendapat sahutan, Raka pun menyadari yang telah terjadi. Ia menghela napas kasar. Selesai mandi, Raka menuju ruang makan. Tidak ada apa pun yang tersedia di atas meja. Kembali terdengar helaan napas dari mulutnya.


"Sadarlah, Raka! Kau harus mengurus dirimu sendiri mulai sekarang!" Raka berjalan ke arah lemari pendingin. Sayangnya, tidak ada apa pun yang bisa ia makan.


Dengan malas, Raka mengambil kunci mobil. Ia akan mencari makan di restoran terdekat.


"Aku harus cari asisten rumah tangga yang baru," gumamnya.


***


Sudah lebih dari dua jam Raka berusaha memejamkan mata. Namun, matanya tak kunjung terpejam. Sejak Resti masuk ke rumah sakit dan kedua orang tuanya tidak mengizinkan Raka menemui wanita itu, ia kesulitan untuk tidur. Raka bahkan lebih memilih menghabiskan waktu dengan bekerja.


"Sial! Aku gak bisa tidur!" umpat Raka kesal. Ia pun membuka nakas dan mengambil sebutir pil, untuk membantunya tidur.

__ADS_1


Tanpa Raka sadari, kehadiran Resti menjadi peran penting dalam hidupnya.


__ADS_2