Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 95 ~ Akibat patah hati


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Resti dan Raka hanya saling diam. Resti ingin mempertanyakan tentang pernyataan wanita yang mengaku sebagai teman Raka semasa kuliah. Namun, ia takut itu hanyalah kesalahpahaman.


Sementara Raka, entah apa yang tengah pria itu pikirkan. Yang pasti, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Tak lama, mobil yang Raka kendarai memasuki halaman rumah Resti.


"Makasih, ya, Mas," ucap Resti dengan tersenyum.


"Seharusnya aku yang terima kasih. Kamu sudah mau menemani aku hari ini." Raka membalas senyum Resti.


Sesaat, keduanya kembali diam. Mereka disibukkan dengan pikiran masing-masing. Suara dehaman Raka, membuat Resti menoleh.


"Tentang ucapan temanku tadi ...." Ucapan Raka terhenti.


"Gak masalah, kok, Mas. Aku tahu itu hanya candaan," sela Resti. Sejujurnya, Resti hanya tidak siap mendengar kenyataan, bila apa yang teman Raka katakan adalah hal yang salah.


"Aku belum menyelesaikan ucapanku. Apa kamu tidak mau mendengarnya langsung dariku?" tanya Raka.


Pria itu menatap Resti dalam. Membuat wanita yang pernah menjadi istrinya itu salah tingkah. Jantung Resti juga berdegup cepat, mendapati tatapan Raka yang begitu dalam padanya.

__ADS_1


"A-aku ...."


Seketika, tubuh Resti membeku kala Raka mencuri sebuah kecupan di bibir Resti. Hanya beberapa detik, tetapi cukup membuat Resti bungkam.


"Dia benar. Aku memang mencintaimu. Lebih tepatnya, aku yang terlambat menyadari rasa cintaku padamu," ucap Raka.


Sebelah tangan Raka menyingkirkan anak rambut Resti yang menutupi wajah cantiknya. Resti menatap ke dalam bola mata Raka. Ia bisa melihat, betapa pria itu kini mencintai dirinya.


"Aku tahu, luka yang dulu kuberikan akan sulit untuk disembuhkan. Tapi, apa benar kamu tidak lagi mencintaiku?" tanya Raka.


"Kali ini, aku akan benar-benar melepasmu, seandainya kau tidak menginginkanku lagi," ucap Raka sedih.


Sayangnya, Resti tak juga merespon ucapan pria yang pernah menempati hatinya. Bahkan, yang sampai detik ini masih menempatinya.


Raka pun membuka pintu sampingnya. Kemudian, ia berputar dan membuka pintu samping Resti. Setiap gerakan pria itu, tak lepas dari pandangan Resti.


Resti pun turun dari mobil Raka. Wanita itu menarik napas dalam, lalu menghelanya perlahan.

__ADS_1


"Terima kasih karena kamu sudah sudih menemaniku hari ini. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi muncul di depanmu," putus Raka.


Pria itu menundukkan kepala dan hendak berlalu. Namun, Resti menahannya. Di luar dugaan Raka, wanita itu pun mencium bibirnya. Bukan sekedar kecupan seperti yang Raka berikan, melainkan ciuman.


Untuk beberapa saat, Raka begitu terkejut. Selanjutnya, ia membalas setiap hal yang Resti lakukan. Resti bahkan merangkul leher Raka. Sementara pria itu, merangkul pinggangnya.


Tanpa mereka sadari, seseorang melihat hal itu. Ia memang tersenyum, tetapi raut wajah terlihat begitu terluka.


"Seandainya aku yang ada di posisi itu." Secepat kilat, ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Menepuk kedua pipinya, agar tersadar. "Tidak! Aku tidak boleh bersedih. Dia adalah orang yang Resti cintai. Aku harus berbesar hati menerimanya. Ya, kebahagiaan Resti adalah kebahagiaanku."


Tak ingin melihat apa yang akan terjadi berikutnya, ia memutar mobilnya menjauh. Entah ke mana arah yang ingin ditujunya. Ia hanya mengikuti nalurinya.


Mobil itu berhenti disebuah bar. Dimas pun mencoba menghilangkan bayangan Resti yang bercumbu dengan Raka menggunakan alkohol.


Tanpa sadar, ia pun sudah meminum banyak alkohol. Seorang wanita yang terlihat polos, duduk di sampingnya. Tanpa pikir panjang, Dimas membawanya ke hotel terdekat. Malam panas yang tidak seharusnya terjadi pun, harus terjadi.

__ADS_1


__ADS_2