
Serangkaian pemeriksaan Raka jalani. Resti dan orang tua Raka pun menunggu di ruang tunggu. Tidak butuh waktu lama, untuk mengetahui hasil pemeriksaan.
"Bagi pasien dengan cedera otak, amnesia adalah hal yang wajar. Biasanya, hanya bersifat sementara. Tapi, mohon diingat untuk tidak memaksakan pasien mengingat kejadian yang hilang. Bantu saja dia mengingatnya sendiri. Seperti tempat yang sering dikunjungi, foto, atau apa pun yang berkaitan dengan waktu yang tidak dia ingat." Dokter menyarankan.
"Apa resikonya, bila kami memaksa dia mengingat kejadian yang hilang, Dok?" tanya Ibra.
"Dia akan mengalami sakit kepala hebat hingga menyebabkannya muntah. Yang paling parah, pembuluh darahnya bisa kembali pecah dan mengakibatkan kematian," jelas Dokter.
Resti yang mendengar penjelasan Dokter pun, hanya bisa menghela napas dalam. Kenapa takdir seolah mempermainkan aku? Apakah kami memang tidak bisa bersatu? Air mata Resti jatuh tak tertahan.
"Baik, Dok. Kami mengerti," jawab Ibra.
Mereka pun kembali ke ruang rawat Raka. Kini, pria itu tengah tertidur, akibat pengaruh obat. Dewi mengusap punggung Resti lembut.
"Mama tahu kamu kecewa karena Raka hanya mengingat Riska. Jika kamu mau menunggu dengan sabar, mama janji akan membuat Raka mengingatmu lagi," janji Dewi.
Resti tersenyum getir. Sejujurnya, ia tidak yakin Raka bisa kembali mengingatnya. Merasa tak lagi memiliki kepentingan, Resti pun memilih berpamitan.
"Kalau begitu, sebaiknya aku pulang. Mama bisa kabari aku kapan saja, mengenai kondisi Mas Raka," pamit Resti.
"Iya, Nak. Mama akan terus mengabarimu mengenai kondisinya. Kamu hati-hati, ya. Jangan lupa hubungi mama, saat kamu sudah sampai!" pinta Dewi.
"Iya, Ma." Resti pun mencium punggung tangan Dewi dan Ibra. Setelahnya, meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
***
Raka mulai membuka matanya. Ia menatap sekelilingnya dan melihat senyum sang ibu.
"Ma," sapa Raka.
"Iya, Bak," jawab Dewi.
"Di mana Riska?" Lagi, lagi, Raka mempertanyakan keberadaan Riska.
Dewi menarik napas dalam. "Apa yang terakhir kamu ingat sebelum terjadi kecelakaan?" Dewi ingin menguji sejauh mana ingatan Raka yang ada.
"Aku melihat dia berdua dengan laki-laki lain tanpa pakaian," jawab Raka. Kali ini, raut wajah Raka terlihat murung.
Untuk sesaat, Raka terdiam. Ia membuang pandangannya ke arah jendela. Terlihat, awan putih yang saling berarak.
"Raka," panggil Dewi lembut.
"Sebenarnya, ada yang ingin Raka tanyakan pada dia," jujur Raka.
"Apa itu?" tanya Dewi penasaran.
"Raka hanya ingin tahu, alasan dia menduakan Raka," jawabnya.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Raka ingin tahu, apa yang kurang dari diri Raka, sampai Riska memutuskan berselingkuh. Jika memang masih bisa diperbaiki, Raka ingin memperbaikinya, Ma.
"Jika tidak?" tanya Dewi.
"Raka akan memutuskan hubungan kami. Setidaknya, kami bisa berpisah dengan cara baik-baik," jawab Raka.
Dewi sedikit tak percaya dengan apa yang Raka ucapkan. Ibra yang turut mendengar penuturan sang putra pun menyetujuinya.
"Tidak apa, Ma. Suruh saja dia ke sini," ucap Ibra.
"Baiklah." Dewi mengambil ponselnya dan menghubungi Riska. Ia meminta gadis itu untuk datang ke rumah sakit.
Satu jam kemudian, Riska datang dengan tergopoh-gopoh ke ruang rawat Raka. Sebelum membuka pintu, Riska meneteskan obat tetes mata.
"Raka, Sayang. Kamu gak apa, 'kan?" Riska terlihat sangat panik
"Aku gak apa-apa. Boleh aku bertanya sesuatu?"
Sepertinya, Raka tak ingin berbasa-basi. Ia langsung mengatakan apa yang mengganjal di hatinya. Riska pun menganggukkan kepala menyetujui.
"Sejak kapan kamu menduakan aku?"
__ADS_1