Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 30 ~ Mari bercerai!


__ADS_3

Raka menggenggam tangan Resti. Mengecupnya bertubi-tubi. Wajah pucat Resti, membuat Raka menitikkan air mata. Tangan lainnya, mengusap lembut perut sang istri.


Dewi yang belum beranjak dari ruang rawat Resti sejak pagi, menatap marah pada putra semata wayangnya. Sementara Raka, tak menanggapi sedikit pun. Dewi menghela napas dalam.


"Raka! Mama ingin bicara di luar!" tekan Dewi pada setiap kata-katanya.


Raka menatap sang ibu, kemudian mengikutinya keluar, meski tidak rela. Setelah menutup pintu, Raka dan Dewi duduk di depan ruangan Resti. Tanpa keduanya sadari, Resti membuka mata. Ia menatap nanar pintu ruangan yang tertutup rapat. Bulir bening pun lolos dari sudut matanya.


"Sampai kapan kau akan mengacuhkanku, Mas? Apa benar, tidak pernah ada aku dalam hatimu?" Resti menghapus air matanya.


Sejak awal, Resti sudah sadar dari pingsannya. Akan tetapi, kedua mata wanita itu terasa berat, hingga akhirnya, ia memilih untuk memejamkan mata. Berharap, apa yang terjadi hanyalah mimpi. Ia akan kembali waktu sebelum ini terjadi.


Ingin aku berandai-andai. Namun, itu hanya akan menyakiti diriku sendiri.


***


Dewi sudah mendengar cerita dari ibra, tentang keberadaan Raka malam tadi. Hal itu juga membuatnya kesal setengah mati.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila?" Dewi berbicara dengan nada pelan, tetapi sarat akan kemarahan.


Raka tahu kemana arah pertanyaan ibunya. "Aku tidak melakukan apa pun. Hanya berniat membantu! Apa itu salah?"


"Tidak ada yang salah, bila kau berniat membantu. Yang salah adalah, apa kau mengabari istrimu?" Dewi semakin geram mendengar jawaban Raka sebelumnya.


Wanita paruh baya itu, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ingin ia memakinya, tetapi Dewi menahan diri. Dewi pun menarik napas dalam.


"Jangan berbuat bodoh, Nak! Riska sudah menyakitimu dengan dalam. Keledai saja, tidak akan mau jatuh di lubang yang sama. Apa kau harus mengulangi kesalahan dulu lagi?"


"Riska benar-benar sakit, Ma. Raka sangat tahu itu," bela Raka pada mantan kekasihnya.


"Tidak! Karena aku terlalu mengenal Riska dengan baik. Dia tidak mungkin menipuku," kekeh Raka.


Dewi mengepalkan tangannya mendengar pembelaan Raka. Satu tamparan melayang, ke arah Raka.


"Jika Resti memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kalian, maka kau tidak bisa menyalahkan orang lain." Dewi berbalik dan meninggalkan Raka.

__ADS_1


Raka kembali menghela napas berat, ia mendaratkan bokongnya di kursi. Kepalanya terasa semakin berdenyut kencang. Membuatnya sulit bernapas.


***


Sore hari, Dokter datang untuk melakukan visit. Wajah Resti, terlihat sudah lebih berwarna. Raka juga sudah berada di dalam kamar.


"Resti, sebagai seorang ibu, Tante hanya bisa menyarankan. Jika sulit, maka hentikan. Ada nyawa lain, yang harus kamu lindungi sekarang. Dia, adalah bagian dari dirimu."


Resti yang mendengar ucapan Dokter sekaligus bibi dari suaminya, menganggukkan kepala membenarkan. "Iya, Dok."


"Bagus. Tante bangga padamu. Untuk beberapa hari ke depan, ada baiknya kau bedresrt di sini."


Resti hanya tersenyum ringan. Demi kepentingan anaknya, ia akan melakukan banyak hal.


***


Entah sudah berapa lama Resti dan Raka hanya diam. Raka yang tenggelam dalam rasa bersalahnya, sementara Resti, memilih untuk mengontrol dirinya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka.

__ADS_1


"Setelah anak ini lahir, mari kita bercerai. Aku tidak akan menbebanimu dengan keberadaan anak ini. Jalanilah hidupmu seperti sebelum kita saling mengenal."


__ADS_2