Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 68 ~ Rumah sakit


__ADS_3

Resti mulai membuka matanya perlahan. Ia menatap sekeliling dengan linglung. Kemudian, Resti mendudukkan diri di ranjang tersebut.


"Ini rumah sakit," gumamnya.


"Bu Resti, udah sadar," ucap seseorang yang baru masuk.


"Kamu yang bawa saya ke sini?" tanya Resti.


"Bukan, Bu. Tadi, kebetulan Pak Haris masuk ruangan, Ibu. Dia kaget, waktu liat, Ibu, pingsan. Saya diminta untuk tungguin, Ibu, di sini," jawabnya.


Resti mengangguk mengerti. Tak lama, seorang dokter masuk. Ia pun memeriksa kondisi Resti.


"Bagaimana, Dok?" tanya Resti.


"Ibu, mengalami stress berlebih. Coba untuk kelola stress dengan baik," saran Dokter.


"Baik, Dok," jawab Resti lemah.


"Sekarang, saya resepkan vitamin saja. Ibu, bisa pulang setelah cairan infusnya habis." Dokter menuliskan resep untuk Resti.


"Terima kasih, Dok," ucap Resti.


Dokter dan perawat pun segera meninggalkan Resti.


***


Cairan infus Resti telah habis. Perawat yang berjaga di IGD segera melepas jarum tersebut. Selesai dengan itu, ia menuju apotik untuk menebus vitamin yang diresepkan Dokter tadi.

__ADS_1


Saat menunggu, seseorang menubruk tubuhnya dari belakang. Sekejap, Resti tertegun. Pelukan erat itu, menandakan rasa takut.


"Aku kira kamu mengalami sesuatu yang membahayakan. Aku takut. Sangat takut," ujarnya.


"Dim, ini tempat umum. Tidak pantas kamu peluk aku kayak gini," bisik Resti.


Orang yang memeluknya adalah Dimas. Ya, pria itu tengah mengekspresikan rasa takut kehilangan yang dialaminya.


"Aku gak peduli dengan mereka. Bagiku, kamu yang terpenting," ucapnya.


"Kamu tahu, 'kan hubungan kita hanya teman?" tanya Resti.


"Salah. Kamu adalah kekasihku." Dimas melepas pelukannya dan membalik tubuh Resti menghadapnya.


"Sejak kapan?" Dahi Resti berkerut dalam mendengar pernyataan Dimas.


Wajah Resti bersemu mendengar jawaban Dimas. "Ngawur aja!" seru Resti menutupi kegugupannya.


Wanita itu mendorong Dimas menjauh, saat terdengar namanya dipanggil. Ia menuju loket apotik untuk mengambil obat.


Dimas mengikuti Resti hingga loket pembayaran. Bahkan, mengeluarkan kartu miliknya untuk membayarkan obat serta administrasi lainnya.


"Dimas!" Resti menatap tajam pria itu.


"Gak apa-apa, Sayang. Buat kamu, apa sih yang gak." Dimas mengedipkan sebelah matanya pada Resti.


Melihat itu, Resti mendengus kesal. Ia pun meninggalkan Dimas yang terkekeh melihat dirinya. Akan tetapi, Dimas menyusul dan merangkul bahu Resti.

__ADS_1


Resti melepaskan rangkulan tangan Dimas dari bahunya. Namun, pria itu kembali meletakkan tangannya di sana. Langkah Resti terhenti, kala melihat orang yang sangat ia kenal.


"Mama," gumamnya.


Dimas menghentikan tingkah konyolnya dan melihat ke arah depan. Sepasang suami istri terlihat menangis dan menghampiri Resti.


"Mama, kok, di sini?" tanya Resti ketika mereka saling berhadapan.


"Raka, Res. Raka," ucap Dewi di sela tangisnya.


"Mas Raka ... di sini?" Resti tak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Entah mengapa, jantungnya berdegup cepat.


Dewi menganggukkan kepala. Ibra menghampiri Resti dan istrinya. Ia mengusap bagi sang istri lembut.


"Raka ada di ruang operasi, Ma. Ada Bayu yang menunggu di sana," ucapnya.


"Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?" tanya Resti semakin bingung.


"Ikut saja ke ruang operasi. Papa dan mama akan cerita di sana." Mereka pun melangkah menuju ruang operasi.


Dimas yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pun, mengikuti mereka. Cukup penasaran, dengan apa yang sedang terjadi. Tiba di sana, Bayu menyambut mereka dengan wajah khawatir.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Bay?" tanya Ibra.


"Polisi bilang, rem mobil Raka tidak berfungsi dengan baik. Jadi, kecelakaan itu tak bisa terhindar."


Resti menatap kosong pintu ruang operasi yang tertutup. Tidak menyangka, bila Raka bisa mengalami kecelakaan setelah mengatakan dia menyerah.

__ADS_1


__ADS_2