Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 97 ~ Kedatangan Dimas


__ADS_3

"Kamu mau coba lihat ke kantornya?" tawar Raka, setelah ia berhasil menetralisir rasa cemburu itu.


Resti menoleh cepat, saat mendengar tawaran dari Raka. Ia menatap dalam mata pria itu.


"Kamu ... serius?" tanya Resti memastikan. Ia bisa melihat kecemburuan di mata Raka.


Dengan berat hati, Raka terpaksa menganggukkan kepalanya. Resti merangkum wajah pria yang selalu mengisi relung hatinya. Memaksa Raka untuk melihat matanya.


"Aku memang merindukan Dimas. Tapi, bukan seperti yang kamu pikirkan." Resti menghela napas perlahan. Raut wajahnya berubah serius. "Aku merasa, ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku," lanjut wanita itu.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Raka. Dahinya berkerut dalam mendengar penuturan sang kekasih.


Sebuah benda pipih Resti sodorkan pada Raka. Sesaat, Raka menatap benda tersebut dan Resti secara bergantian. Kemudian, ia mengambil ponsel itu.


Sebuah aplikasi pesan sudah terbuka. Itu adalah isi pesan antara Resti dan Dimas. Di sana, ada banyak pesan dari Dimas yang terlihat seperti orang bingung. Berkali-kali, pria itu selalu menanyakan hal yang sama.


"Apa maksudnya dengan isi pesan dia?" tanya Raka ikut bingung.


"Kamu yang sesama lelaki aja gak tahu, apalagi aku," jawab Resti jujur.

__ADS_1


"'Apa yang harus aku lakukan'?" Raka membaca isi pesan Dimas itu sekali lagi.


Ia terlihat berpikir keras. Namun, hanya satu jawaban yang bisa ia pikirkan. Akan tetapi, ia enggan memberitahunya pada Resti. Bukan tidak mungkin, wanita itu akan lebih khawatir pada Dimas.


"Entahlah." Raka mengembalikan ponsel Resti. "Jadi, apa kamu mau ke sana?" tanya Raka lagi.


Belum sempat Resti menjawab, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Raka dan Resti saling bertukar pandang. Keduanya pun bangkit dan berniat melihat tamu yang datang.


"Dimas!" ucap Resti terkejut. "Panjang umur banget," gumam Resti seraya tertawa.


Seketika senyum Resti menghilang, saat melihat raut wajah Dimas yang gundah. Begitu pun dengan Raka.


Sayangnya, gumaman Raka masih tertangkap jelas oleh telinga Dimas. Pria itu menatap kesal pada kekasih sahabatnya itu. Raka hanya mengendikkan bahu tak peduli.


"Kamu ke mana aja? Terus, itu di chat, kok, ngomong begitu? Ada masalah?" cerocos Resti.


"Tanya satu, satu bisa, 'kan?" pinta Dimas dengan raut memohon.


"Oke!"

__ADS_1


Mereka pun duduk di ruang tamu. Dimas mulai menceritakan kejadian beberapa minggu yang lalu. Bahkan, semua yang terjadi ia ceritakan. Namun, tidak dengan rasa patah hatinya pada pasangan di depannya.


"Begitu ceritanya," ucap Dimas mengakhiri ceritanya.


Resti terkejut mendengar cerita itu. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Sementara Raka, tak memberi respon apa pun. Entah dengan hati dan pikirannya.


"Terus, kamu biarin dia pergi?" tanya Resti.


"Dia gak minta aku tanggung jawab. Padahal jelas aku mau tanggung jawab, loh." Dimas membela diri.


"Dasar bodoh!" maki Resti.


Raka menoleh terkejut, mendengar Resti memaki. Ia mencoba untuk merangkul Resti, untuk meredakan amarah sang kekasih.


"Gimana kalau dia hamil? Emang kamu pikir mudah? Aku gak mau tahu! Cepat cari dia, lalu kalian menikah!" titah Resti.


"Aku mau cari dia ke mana?" Dimas semakin frustasi. "Aku udah cari dia. Tapi gak ada hasilnya," ujar pria itu.


"Sayang, tenang," sela Raka yang melihat gelagat Resti akan kembali mengamuk. "Bagaimanapun, ini masalah Dimas dan perempuan itu. Mereka yang berhak memutuskan tentang menikah atau tidak. Bagus, kalau pada akhirnya mereka saling cinta. Kalau tidak, siapa yang harus disalahkan?" ucap Raka bijak.

__ADS_1


__ADS_2