Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
part 62 ~ Kedatangan Bayu


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, tepatnya di dalam sebuah klub, seorang wanita tengah tertawa bahagia. Ia sudah mendapatkan kabar, bila Resti sudah menolak Raka berkali-kali. Ia bahkan berpesta ria dengan para pria.


"Kau terlihat sangat bahagia," ucap seorang pria.


"Tentu saja." Riska menjawab dengan singkat.


Wanita itu kembali meliukkan tubuhnya seiring hentakkan musik yang dimainkan. Riska berada di sana, hingga pagi menjelang. Setelah itu, ia kembali ke apartemennya.


Sementara itu, Raka terlihat semakin frustasi. Ia tak tahu harus berbuat apa. Pria itu tenggelam dalam kesedihannya. Bayu yang baru tiba di Yogya, segera mendatangi rumah yang Raka tempati.


Ia terkejut melihat Raka yang tersungkur di lantai. Bayu segera mendekati sahabat, sekaligus atasannya itu.


"Lo baik-baik aja, 'kan?" tanyanya.


"Bay, dia gak mau maafin gue. Apa yang harus gue lakukan?" Raka menangis tersedu.


Ini kali kedua Bayu melihat Raka menangis karena wanita. Namun, kali ini jauh lebih terpuruk. Bayu merasa iba. Ia pun membantu Raka kembali ke kamarnya.


"Gue juga gak tahu gimana caranya bantu Lo. Gue yakin, Resti sangat kecewa dengan perbuatan Lo dulu. Karena itu, dia sulit untuk maafin Lo." Entah pada siapa Bayu berbicara.


***


__ADS_1


Beberapa hari berlalu, Resti benar-benar tidak merespon setiap panggilan atau pun pesan yang Dimas kirim. Saat pria itu datang pun, Resti memilih tak menegur, dan menganggapnya makhluk tak terlihat.


Sementara Raka, sama sekali tak terlihat. Mungkin, pria itu sudah menyerah setelah kejadian terakhir, pikir Resti saat ini. Wanita itu merasa sedikit tenang, ketika tak melihat Raka.


Siang itu, Resti tengah sibuk mengurus pekerjaan. Telepon di mejanya berdering, mengalihkan fokus Resti. Sambil membaca berkas, ia mengangkat panggilan itu.


"Halo," sapa Resti.


"Bu, ada tamu untuk, Ibu, yang menunggu di lobby."


"Siapa?" tanya Resti.


"Bayu, Bu."


"Bagaimana, Bu?"


"Tolak saja. Saya sedang sibuk." jawab Resti.


Ia pun menaruh kembali gagang telepon. Kemudian, kembali fokus pada pekerjaannya. Setelah sekian jam berlalu, Resti pun bisa menyelesaikan semua pekerjaan.


Ia berniat pulang awal. Saat di lobby, seorang pria muda, sudah menunggunya. Ingin mundur, tetapi pria itu lebih dulu mengenalinya.


"Resti! Bisa kita bicara sebentar?" tanya Bayu.

__ADS_1


Ya, Bayu adalah orang yang mencari Resti sejak tadi. Wanita itu pun menghela napas berat. "Jika, Mas, ke sini hanya untuk membicarakan Raka, maka silakan pergi," usir Kania.


"Maaf, tapi aku hanya ingin membantu sahabatku. Itu saja," bujuk Bayu.


"Mas, tahu bagaimana perilaku dan perbuatan Mas Raka padaku, 'kan?" Melihat Bayu mengangguk, Resti pun melanjutkan investigasinya.


"Tapi, dia berhak dapat kesempatan, 'kan?" Bayu terus membujuk Resti.


"Sudah berkali-kali aku memberinya kesempatan. Apa itu belum cukup?" Resti menatap Bayu dalam.


"Tapi, Raka selalu menyia-nyiakannya. Jadi kesempatan itu sudah habis. Saya permisi." Resti meninggalkan Bayu yang terpaku di sana.


"Sekali ini saja!" mohon Bayu. "Raka terlihat sangat menderita saat ini."


"Tidak, Mas. Aku pergi dulu." Resti segera meninggalkan lobby.


Bayu menatap punggung Resti yang mulai menjauh. "Aku tahu, kau pasti sangat menderita selama ini."


"Hai," sapa seorang pria.


Resti menghela napas kasar melihat kemunculan Dimas. Ia segera melewati pria itu.


"Aku tahu aku salah. Apa kau tidak bisa memaafkanku? Sebesar itukah kesalahanku, sampai kau tidak bisa memaafkanku?" tanya Dimas dengan nada frustasi.

__ADS_1


__ADS_2