Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 76 ~ Penghalang


__ADS_3

Resti menatap ruangan Haris, atasannya, gamang. Lagi-lagi, ia meyakinkan hati, bila apa yang sudah ia putuskan adalah yang terbaik. Resti pun mengetuk pintu besar di depannya. Setelah dipersilakan masuk, Resti mendorong pintu itu.


"Selamat pagi, Pak," sapa Resti.


"Pagi. Ada apa, Resti?" tanya Haris, sang atasan, to the point.


Resti menyerahkan sebuah amplop ke atas meja di depan Haris. Pria itu menatap amplop tersebut dan Resti bergantian.


"Saya ingin mengundurkan diri," ucap Resti seakan mengerti maksud tatapan Haris.


Dahi pria itu berkerut dalam mendengar ucapan Resti. "Kenapa tiba-tiba?" tanya Haris.


Hening. Resti terdiam selama beberapa waktu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin Resti mengatakan tentang masalah pribadinya dengan Dimas, bukan?


"Saya ingin kembali ke Jakarta," jawab Resti.


Haris pun terdiam sesaat. Pria itu seakan tengah memikirkan sesuatu. Resti masih berdiri di hadapannya. Dalam hati ia berharap Haris segera mengabulkan permintaannya.

__ADS_1


"Begini saja, bagaimana kalau kamu ambil cuti?" saran Haris.


Kedua mata Resti terpejam sesaat. Apa yang diharapkannya, tidak terjadi. Kembali ia menghela napas dalam.


"Maaf, Pak. Tapi, saya mungkin tidak akan kembali ke kota ini," tolak Resti.


"Apa di sana kamu mendapat tawaran kerja yang lebih dari perusahaan ini?" tanya Haris.


Resti kehabisan akal. Sebenarnya, perusahaan yang menaungi Resti saat ini, jauh lebih besar dibandingkan tempatnya bekerja dulu. Gaji yang diberikan pun, jauh lebih tinggi. Namun, mengingat ia tak bisa berada di ruang lingkup yang sama dengan Dimas, membuat Resti mengambil keputusan itu. Ia tak ingin, Dimas semakin menaruh harapan padanya.


Lagi pula, gajinya yang besar itu, tidak bisa ia berikan pada kedua orang tuanya. Resti memutar otak kembali. Keputusannya sudah bulat, untuk meninggalkan Yogya.


Haris pun menganggukkan kepala mengerti. "Baiklah, kalau begitu!"


Pria itu mengambil pena yang ada di dekatnya. Menandatangani surat tersebut, lalu memberikannya pada Resti. Kemudian, meminta Resti menyerahkannya pada pihak HRD. Resti pun berpamitan, meninggalkan ruangan Haris.


***

__ADS_1


Hari ini adalah hari terakhir Resti bekerja. Setelah mendapat persetujuan, Resti memiliki waktu selama satu minggu untuk menyerahkan pekerjaan pada orang yang akan menempati posisinya nanti.


Setelah itu, semua staf yang bekerja dengannya pun, mengucapkan salam perpisahan. Ada rasa haru yang begitu mendalam saat mereka berpelukan, lalu mengucapkan 'selamat tinggal' pada rekan kerja mereka. Sepertinya, Resti begitu disayangi.


Tak hanya itu, para karyawan yang lain pun, ikut merasa sedih, saat berpisah dengan Resti. Di saat itulah, Dimas yang entah sejak kapan datang, terkejut melihatnya.


Pria itu menarik lengan Resti, lalu membawanya menjauh dari mereka. Resti terkejut melihat kehadiran Dimas. Selama beberapa saat, ia tertegun melihat kehadiran pria itu.


"Lepas, Dim!" titah Resti dengan nada rendah.


Dimas seakan tak mempedulikan ucapan Resti. Ia terus membawa wanita itu menjauh. Sadar Dimas tak mungkin melepas, ia pun menghentakkan tangan dengan kuat. Ia pun berbalik menatap Resti.


"Ada apa kau ke sini?" tanyanya dingin.


"Jadi kau ingin menyelesaikan masalah kita dengan lari?" Bukannya menjawab, Dimas justru balik bertanya.


"Masalah? Masalah kita sudah selesai!" Resti bersedekah, seraya menatap Dimas dengan datar.

__ADS_1


"Itu menurutmu! Dengar, aku tidak akan menyerah semudah itu. Dia adalah orang yang sudah menyakitimu. Maka aku, yang akan menjadi obat untuk menyembuhkan hatimu!"


__ADS_2