
Raka hanya menatap punggung Resti hingga menghilang. Wanita cantik di sampingnya pun, menarik Raka pergi dari sana. Namun, Raka menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.
Wanita itu menoleh. Ia melihat tatapan tajam yang kekasihnya berikan. Kedua alisnya bertaut, melihat sikap Raka yang berubah drastis, dalam waktu singkat.
"Kamu kenapa liat aku kayak begitu?" tanyanya terbata.
"Apa yang tadi kau bilang pada sepupuku? Pacar?"tanya Raka.
"Loh, aku gak salah dong. Kamu, 'kan emang pacar aku. Bagian mana yang salah?"
Mereka saling melempar pertanyaan. Raka menghela napas kasar. Ia pun menghampiri wanita itu, mengikis jarak antara mereka. Hal itu membuat sang wanita tersenyum jumawa. Sayangnya, Raka mendekatinya bukan untuk meminta maaf.
"Aku rasa, hubungan kita cukup sampai di sini. Mulai detik ini, jangan pernah temui aku lagi!" bisik Raka tajam. Ia pun berbalik hendak meninggalkannya.
Namun, baru satu langkah ia berjalan, pria itu kembali berbalik. "Aku lupa. Sejak awal, aku tidak pernah menyukai wanita sepertimu. Kau, memamerkan tubuhmu pada pria lain, dengan mudahnya! Selamat tinggal!"
Raka pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan wanita itu. Ia paling tidak suka, seseorang mengaku sebagai kekasihnya. Sejak awal Raka sudah mengatakan, bahwa ia tidak ingin lebih dari sekedar teman dekat.
Wanita itu pun mengamuk. Ia melontarkan cacian, bahkan sumpah serapah pada Raka. Sedikit pun, Raka tak peduli. Ia terus saja melangkah pergi.
"Suatu saat, kamu pasti akan ditinggalkan dengan sangat menyakitkan!" teriak wanita itu.
Hanya kata itu yang terakhir Raka dengar. Raka tertawa mendengar kata-kata wanita itu. Tidak ada yang tahu, bila sumpah dari wanita tadi, pernah ia lalui. Kini, ia bahkan menyakiti wanita sebaik Resti.
"Tanpa kau sumpahi pun, aku sudah ditinggalkan wanita yang kucintai!" geram Raka.
Ia memacu mobilnya menuju apartemen. Ia sedang tak ingin bertemu dengan Resti saat ini.
***
Pagi harinya, Raka pergi bekerja dari apartemennya. Tidak sekali pun, ia menghubungi Resti. Bahkan, untuk sekedar meminta maaf pun tidak. Perubahan wajah Raka, bisa terlihat jelas oleh Bagas.
__ADS_1
"Ada apa sama lo?" tanya Bagas.
"Gak ada," jawabnya singkat.
Bagas menggelengkan kepalanya. "Gue ngerasa udah gak kenal sama lo. Perubahan lo, gak berdasar. Gue yakin, Resti gak mungkin menyakiti hati lo!"
"Berisik! Ini kantor, gak seharusnya lo nasehatin gue! Kecuali, lo mau gue pecat!" seru Raka.
"Silakan! Gue gak takut!" Bagas memilih keluar dari ruangan Raka.
Setelah kepergian Bagas, Raka memijit pelipisnya. "Kenapa semua orang hanya memikirkan perasaan Resti? Apa mereka gak peduli sama yang gue rasain?" Raka merasa geram sendiri.
Sementara itu, Bagas memikirkan Raka. Ia mencoba mencaritahu, apa yang terjadi pada Raka. Ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat sekaligus sahabatnya itu.
"Ada apa dengan Raka?" gumamnya.
Di ruangannya, Raka kembali memfokuskan diri pada pekerjaan. Ia mengesampingkan urusan pribadi, untuk saat ini. Sampai waktu kerja berakhir, Raka masih ada di ruangannya. Ketukan pintu, membuat Raka mengalihkan perhatian.
"Pulanglah. Bicarakan pada Resti dengan baik. Jika kau ingin mengakhirinya, maka akhiri dengan baik." Bagas pun meninggalkan ruangan Raka.
"Aku harap, Resti akan mengajukan perceraian, setelah kejadian kemarin. Dengan begitu, aku tidak perlu menjelaskan apa pun padanya," harap Raka.
***
Setelah menempuh satu jam perjalanan. Raka tiba di rumah. Ia menatap rumah itu selama beberapa menit. Kemudian, melangkah masuk.
Resti yang sedang menyiapkan makan malam, terkejut melihat kedatangan Raka. Ia menghentikan gerakannya sesaat. Keduanya saling tatap.
"Mas, sudah pulang? Mau mandi dulu, atau makan?" tanya Resti ramah.
Melihat Resti tetap berperilaku baik, Raka menghela napas berat. Ia tidak mengerti jalan pikiran Resti.
__ADS_1
"Aku mandi dulu," jawab Raka.
Resti meletakkan pisau di tangannya. Ia mengikuti langkah Raka. Menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami. Selesai mengerjakan tugasnya, ia kembali melanjutkan memasak.
Sepuluh menit kemudian, Raka sudah terlihat segar. Ia duduk di ruang tamu. Sesekali, ia melihat Resti yang sedang memasak di dapur.
"Ayo, Mas, makan dulu!" ajak Resti.
Wanita itu sudah meletakkan beberapa hidangan di atas meja. Raka melangkah ke ruang makan. Mereka pun makan dalam diam.
Raka lebih dulu menyelesaikan makan. Ia segera meninggalkan meja dan masuk ke ruang kerja. Resti menatap nanar punggung sang suami. Ia pun segera membereskan meja makan. Selesai dengan urusan dapur, Resti segera mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Apa aku coba bicara saja dengan Mas Raka, ya?" tanya Resti pada dirinya.
Setelah memantapkan hati, Resti pun menuju ruang kerja Raka. Sebelumnya, ia sengaja menyiapkan teh hangat untuk sang suami. Ia pun mengetuk pintu. Setelah itu, terdengar suara Raka yang memintanya masuk.
"Ini, Mas, teh hangat," ucapnya.
"Terima kasih," jawabnya datar.
Raka kembali menatap layar laptopnya, setelah menyeruput sedikit teh dari gelasnya. Namun, ia sadar Resti masih berada di sana.
"Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Raka.
Resti menarik napas dalam sesaat. "Apa salahku, sampai kau memperlakukanku seperti ini? Tolong katakan! Aku pasti akan memperbaiki diriku," ujarnya.
Raka menatap mata Resti lekat. Terlihat jelas kesungguhan di sana.
"Tidak ada. Aku hanya senang bermain-main dengan mereka," jawab Raka ketus.
Ia segera mengalihkan pandangan dari Resti. Apa kau akan membenciku, jika kau mengetahui alasan yang sebenarnya? batin Raka.
__ADS_1
Resti yang mendengar jawaban Raka yang tidak masuk akal, hanya bisa menahan sakit di hatinya. Sementara, Raka merasa gagal membuat Resti menjauh darinya.
*M*enjauhlah. Pergi dari hidupku. Aku tidak ingin kau semakin terluka, ucap Raka dalam hati.