
Riska tergagap seketika. Ia tak bisa mengelak. Namun, tak jua membenarkan. Resti melangkah perlahan ke arah wanita itu, membuat Riska mundur teratur.
Namun, di luar dugaan Resti, Riska berbalik menantangnya. "Kalau iya, kenapa? Toh, dia lupa sama Lo, 'kan? Itu artinya, Lo gak ada artinya di hati Raka."
Mendengar setiap ucapan dari Riska, membuat Resti menghentikan langkahnya. "Lo benar. Tapi, seenggaknya gue gak pernah berniat membunuh orang. Bagaimana kalau Raka tahu, dalang di balik kecelakaan yang menimpa dia adalah mantan kekasih yang dia cintai?"
"Yang pasti, dia gak akan mungkin ninggalin gue. Dia itu udah tergila-gila sama gue!"
Melihat sikap Riska yang penuh percaya diri, membuat Resti tersenyum miring. "Tergila-gila? Tunggu! Apa karena Raka mulai berpaling, makanya kamu menciptakan kecelakaan itu?" tembak Resti tepat sasaran.
Tubuh Riska terlihat membeku. Ia juga tak bisa berkata-kata. Melihat reaksi yang Riska berikan, membuat Resti terbahak. Dugaannya tepat sasaran.
"Dengar, cepat atau lambat bangkai yang kau simpan akan tercium," bisik Resti.
"Jangan coba-coba Lo ngadu masalah ini ke Raka! Kalau gak, gue bisa bunuh Lo!" ancam Riska.
Wanita itu bahkan menjambak rambut Resti kuat. Membuatnya meringis, menahan rasa sakit. Ia baru melepas Resti, ketika ada orang yang masuk ke toilet itu. Bahkan, merubah sikapnya.
__ADS_1
"Ah, rambut kamu berantakan. Sini, biar aku bantu," ucapnya lembut.
Resti mengerutkan keningnya. Namun, ketika Riska membalik tubuhnya, ia pun tahu alasan dari perubahan sikap Riska. Aku terlanjur mengetahui sifat aslimu, pembohong!
"Sudah." Riska tersenyum begitu manis.
Pengunjung yang masuk ke toilet itu menatapnya dengan mata berbinar. Mereka terlihat memuja sikap Riska yang dipertontonkan. Namun, Resti sebaliknya.
"Terima kasih untuk fakta yang sudah, Anda, tunjukkan pada saya. Semoga karir, Anda, tetap cemerlang," harap Resti.
"Kenapa? Kok, mukanya ditekuk?" tanya Dimas yang melihat perubahan di wajah Resti.
"Tadinya, aku mau batalin pesanan, terus ganti restoran," ucap Resti. "Sayangnya, pesanan kita udah datang." Resti menatap hidangan yang tersedia di hadapannya.
"Ada yang membuat kamu gak nyaman?" Dimas menatap Resti.
Resti tak serta merta menjawab pertanyaan Dimas. Ia terdiam sesaat dan menatap mata Dimas. Dengan setia, pria itu menanti jawaban dari Resti.
__ADS_1
"Aku tahu dalang di balik kecelakaan Raka," ungkap Resti.
Dimas terkekeh, mendengar ucapan pertama Resti. "Bukannya kamu mau melupakan dia? Mana Resti yang katanya mau berdamai dengan masa lalu?" cecar Dimas.
"Aku gak bilang mau melupakan dia," protes Resti. "Tapi, aku memang sudah berdamai dengan masa lalu," lanjutnya lagi.
"Terus, untuk apa kamu ngomongin dia lagi?" tanya Dimas bingung.
Ya, ia tidak mengerti maksud ucapan Resti. Karena itu saat Resti menyebut nama Raka, Dimas menganggap bila Resti masih dibayangi masa lalunya.
"Aku gak sengaja dengar obrolan Riska dan temannya. Dia bilang, dialah orang yang membuat Raka mengalami kecelakaan di Yogya kemarin." Resti menatap Dimas dalam.
"Maksud kamu, kecelakaan itu disengaja?" Dimas mulai tertarik.
"Iya."
"Kalau begitu, kita harus kasih tahu Raka secepatnya." Dimas sudah menyambar ponsel yang terletak di atas meja. Akan tetapi, Resti menghentikan gerakannya. "Kenapa?" tanya Dimas.
__ADS_1