Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 73 ~ Berubah


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Raka tak lagi memaksakan diri untuk mengingat waktu yang terlupa. Sesekali, Resti juga datang menemui dirinya. Tak ada penolakan yang Raka lakukan. Ia seakan sudah menerima kehadiran Resti.


Sementara hubungannya dengan Riska, juga tidak begitu baik. Beberapa kali, wanita itu mendatangi Raka dan meminta maaf. Namun, Raka hanya menanggapinya dengan dingin. Satu yang tak bisa Raka lupakan, rasa cintanya pada Riska.


"Raka," panggil seseorang dari balik pintu.


Raka menoleh, ketika pintu terbuka lebar. Di sana, Riska muncul dan tersenyum padanya. Sedetik kemudian, Raka kembali fokus pada pekerjaannya. Riska pun melangkah masuk ke ruangan Raka.


"Aku bawa makanan kesukaan kamu," ucap Riska seraya meletakkan kotak bekal ke depan pria itu.


Sejenak, Raka menghentikan pekerjaannya. Ia membuka kotak bekal itu. Benar yang Riska katakan, itu adalah makanan kesukaannya. Namun, entah mengapa Raka tak berselera.


"Terima kasih, nanti kumakan," ucap Raka. Pria itu menutup kembali kotak bekal tersebut, lalu menyingkirkannya.


Terdengar helaan napas kasar dari Riska. Wanita itu menghentakkan kakinya kesal. "Kau belum memaafkan ku, 'kan? Apa kau tidak ingin kita memperbaiki hubungan kita? Apa kita putus saja?" tanya Riska beruntun.

__ADS_1


"Bisa tidak, kamu tidak merengek seperti ini? Pekerjaanku sudah sangat menumpuk sejak kecelakaan. Aku tidak bisa hanya diam dan menonton," ujar Raka sedikit kesal.


Pria itu tetap mempertahankan nada suaranya, agar tak terdengar marah. Meski sejujurnya, ekspresi Raka sudah menunjukkan suasana hatinya. Ia sangat tidak menyukai sikap Riska yang seperti ini. Wanita itu pun hanya bisa diam tanpa mengucapkan apa pun. Raut wajahnya terlihat tak suka dengan ucapan Raka.


Raka mendengus keras melihat ekspresi Riska. Ia kembali menyambar kotak bekal tadi, lalu membuka dan memakan isinya. Riska yang melihat itu, tidak bereaksi. Mungkin ia tidak terima dengan perlakuan Raka.


Sementara itu, di kota Yogya, Resti kembali pada rutinitas hariannya. Hari ini, ia akan bertemu dengan Dimas. Bukan sebagai teman seperti biasa, tetapi sebagai klien dari perusahaan tempatnya bekerja.


Ia tiba lebih dulu di tempat yang sudah mereka sepakati. Sambil menunggu, resti mengirim pesan pada ibu Raka. Ia menanyakan kondisi terbaru Raka. Jujur saja, ia sangat mengkhawatirkan pria yang telah berstatus sebagai mantan suaminya itu.


Resti mengangkat pandangannya dan tersenyum. Ia segera menyimpan ponsel ke dalam tas. "Gak masalah. Silakan duduk."


Dimas duduk di hadapan Resti. Tak ingin berbasa-basi, pria itu segera membicarakan pekerjaan dengannya. Meski merasa aneh, Resti tak ambil pusing. Ia beranggapan, bila Dimas sedang ingin serius mengenai pekerjaan.


Satu jam berlalu. Pembicaraan mereka pun usai. Dimas segera menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Sesekali, Resti meliriknya.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi," pamit Dimas dengan nada datar.


Kali ini, Resti tahu pasti bila Dimas menghindarinya. "Tunggu!" seru Resti.


Dimas yang baru saja berdiri, tak melanjutkan langkahnya. Ia berpaling dan menatap Resti. Sesaat, keduanya saling menatap.


"Kau menghindari ku?" Melihat tak ada sahutan dari Dimas, Resti melanjutkan ucapannya. "Boleh aku tahu alasannya?"


Dimas masih bungkam. Resti terus menatap mata Dimas. Terlihat jelas rasa kecewa yang terpancar di sana. Resti pun menghela napas dalam.


"Sepertinya, aku penyebabnya." Resti menundukkan kepala dalam.


"Mungkin bukan dirimu. Aku saja yang terlalu berharap lebih." Dimas menatap Resti yang masih tertunduk.


"Kenapa kau selalu menyalahkan diri sendiri? Tidak bisakah kau menimpakan kesalahan itu padaku? Setidaknya, kau tidak akan tersiksa seperti ini. Jika kau membenci aku, itu akan jauh lebih baik!"

__ADS_1


__ADS_2