Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 86 ~ Lebih baik


__ADS_3

Raka hanya mampu menatap punggung Resti yang terus menjauh. Dering ponsel, mengalihkan perhatiannya. Pria itu pun mengambil benda pipih tersebut.


"Ya," ucap Raka begitu panggilan itu tersambung.


Untuk sesaat, ia hanya diam mendengarkan. Beberapa detik kemudian, ia memutus panggilan tanpa sepatah kata, lalu berlari menuju ruang ICU.


Bayu terkejut melihat reaksi Raka yang seperti itu. Kemudian, ia pun ikut berlari ke arah yang sama. Keduanya melewati Resti begitu saja. Tanpa Raka dan Bayu sadari, Resti dan Dimas pun mengikuti mereka.


Keempatnya terkejut melihat apa yang terjadi. Bahkan, Dokter pun sudah mengkonfirmasi kematian Riska. Aku memaafkan mu Riska. Pergilah dengan tenang! batin Resti.


Wanita itu tidak pernah mengharapkan hal buruk seperti ini terjadi pada Riska. Namun, takdir berkata lain. Mungkin inilah jalan terbaik baginya. Resti pun berharap, Riska bisa pergi dengan tenang.


***


Langit berubah gelap, kala Raka keluar dari gedung kantornya. Tanpa menoleh ke kana dan kiri, ia segera menuju mobilnya. Tak butuh waktu lama bagi Raka keluar dari area itu. Sebelum pulang, ia mampir lebih dulu ke supermarket.

__ADS_1


Sejak memutuskan untuk tinggal di rumah yang pernah ditinggali bersama Resti, Raka selalu menyempatkan diri untuk memasak hidangan sederhana. Meski rasanya tidak sama persis dengan yang Resti buat, setidaknya hal itu membuat dia mengingat Resti.


"Resti," sapa Raka yang kebetulan melihat wanita itu.


Resti yang juga sedang berbelanja pun menoleh. Seakan sudah melupakan masa lalu, wanita itu tersenyum ramah pada Raka. Sontak, Raka terpana melihat senyum itu. Senyum, yang sudah lama tak ia lihat.


"Sudah lama aku tidak melihat senyum itu," gumam Raka.


"Benarkah?" tanya Resti.


"Jarak kita sedekat ini, jika aku tidak mendengarnya, mungkin aku butuh memeriksakan diri pada spesialis THT," canda Resti.


Suara tawa terdengar dari Raka. Sudah lama rasanya ia tak tertawa seperti ini. Apalagi, Resti bersikap jauh lebih ramah dibanding satu bulan yang lalu.


"Aku duluan, ya. Aku sudah selesai," pamit Resti seraya menunjukkan trolinya.

__ADS_1


"Ah! Aku juga sudah. Gimana kalau kita berjalan bersama ke kasir." Raka mengangkat keranjangnya.


"Boleh," jawab Resti seraya tersenyum.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju kasir. Raka merasa sedikit canggung. Namun, ada satu pertanyaan. yang begitu membuat Raka penasaran. Perlahan, ia pun memulai pembicaraan.


"Aku senang kamu tidak lagi terlihat membenciku. Tidak seperti sebelumnya," ungkap Raka.


"Semua ini berkat Dimas. Dia mengajarkan aku untuk melepas masa laluku. Jika aku terus menggenggamnya, aku akan semakin terluka. Karena itu, aku berusaha keras untuk berdamai dengan masa laluku. Termasuk mencoba untuk memaafkan kamu." Resti menatap Raka.


Terlihat kesungguhan di mata Resti. Mendengar ungkapan itu, membuat rasa bersalah Raka kembali. Sejujurnya, ia belum meminta maaf secara tulus pada wanita yang sudah ia sakiti.


"Sebelumnya aku selalu tidak punya kesempatan untuk melakukan ini. Aku minta maaf padamu."


Resti bisa melihat ketulusan Raka. Tidak seperti sebelumnya, kini ucapan pria itu terdengar jauh lebih baik.

__ADS_1


"Semua sudah berlalu. Tidak ada gunanya kita terus berkubang dalam rasa penyesalan. Ambil sisi positifnya. Mungkin, itu salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan bila kita tidak bisa bersama." Resti terdengar begitu bijak.


__ADS_2