Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 63 ~ Kiriman bunga


__ADS_3

Resti menghentikan langkahnya begitu mendengar kata-kata Dimas. Kesalahan yang Dimas lakukan, memang tidak sebesar itu hingga membuat Resti harus menjauhinya. Namun, salahkah Resti bila harus menjaga hatinya?


"Aku dan dia tidak sama. Bolehkah kamu memberi aku satu kesempatan?" pinta Dimas.


Pria itu sudah berdiri di hadapan Resti. Menatap wanita yang sudah ia sakiti. Dimas memegang bahu kecil Resti. Perlahan, Resti mengangkat wajahnya menatap Dimas.


"Sudah kukatakan, bila hatiku terlanjur mati. Bukan karena aku masih mencintai mantan suamiku." Resti melepaskan pegangan Dimas di bahunya.


Dimas memejamkan matanya setelah Resti pergi. Entah apa yang pria itu pikirkan. Sepertinya, ia harus bekerja keras untuk meluluhkan hati Resti.


***


Bayu kembali ke rumah yang Raka tempati. Pria itu terlihat semakin menyedihkan di mata Bayu. Ia pun mendekati Raka.


"Apa lo benar-benar mencintai Resti?" tanyanya pada Raka.


"Ya. Baru kali ini gue ngerasa sangat kehilangan. Dulu, saat Riska pergi, rasanya tak sesakit ini." Raka mengusap wajahnya kasar.


"Kalau begitu, buktikan cinta Lo ke Resti. Lo pikir, dengan cara Lo down kaya gini bisa menggugah hati Resti? Gak akan, Ka. Resti butuh bukti kuat. Lo tahu, 'kan kalau kesalahan yang Lo lakukan sudah di luar batas?"

__ADS_1


Raka menganggukkan kepalanya. Ia menatap Bayu, sahabatnya. "Apa yang harus gue lakukan?" tanya Raka.


"Apa aja. Asalkan dengan cara yang benar. Mengirim bunga, makanan, coklat, apa pun. Lo pasti tahu gimana caranya mengejar wanita." Bayu memberikan saran.


"Lo yakin? Kalau Resti tetap ingin berpisah?" Raka terlihat sangat pesimis.


"Lo,'kan belum coba?" protes Bayu.


"Gue takut gagal," jawab Raka jujur.


"Apa pun hasilnya nanti, setidaknya Lo sudah berusaha. Kalau pun Resti tetap ingin berpisah, anggap kalian tidak berjodoh," ucap Bayu panjang lebar.


"Ka, Lo gak boleh egois. Bagaimana pun, keputusan tetap ada pada Resti. Paling tidak, Lo gak akan menyesal saat Resti memilih yang lain nantinya." Bayu menepuk pundak Raka lembut.


"Lo benar. Kala gue udah mencoba, dan berakhir dengan perpisahan, setidaknya Resti udah lihat gue berusaha. Kalau gue menyerah, apa pun yang gue bilang ke Resti, hanyalah omong kosong," sahut Raka.


Bayu tersenyum dan menganggukkan kepalanya melihat Raka mengambil keputusan mengejar matan istrinya. "Ini baru, Raka, yang gue kenal!"


Keduanya melakukan tos ala laki-laki.

__ADS_1


***


Ada yang berbeda di ruangan Resti, saat ia tiba pagi ini. Di mejanya, suda terdapat dua buket bunga yang berbeda. Satu dengan bunga mawar merah, satu lagi bunga Casablanca atau lili.


"Wah, Bu. Pagi-pagi, mejanya udah cerah aja," goda salah satu staf Resti.


Ia hanya tersenyum menanggapi godaan mereka. Di dalam buket bunga itu, ada kartu yang terselip. Resti mengambil kartu pertama dari bunga lili.


Sebagai permohonan maafku, aku terima hukuman darimu. Tidak masalah kau mendiamkan aku. Tapi, ingatlah satu hal, aku selalu ada untukmu. -Dimas-


Kemudian, Resti melihat kartu kedua.


Maafkan aku, Sayang. Mawar merah ini, melambangkan rasa cintaku yang begitu membara padamu. -Raka-


Resti menghela napas lelah. Kemudian meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Tak lupa, ia juga membuang kedua bunga itu.


"Entah apa yang mereka pikirkan!" gumam Resti dengan kesal. Ia mengangkat gagang telepon di meja dan menghubungi meja resepsionis. "Mbak, lain kali kalau ada kiriman bunga yang bukan dari klien, tolong ditolak. Tolong sampaikan juga pada pihak security, ya. Terima kasih."


Resti pun memulai pekerjaannya setelah membereskan satu masalah.

__ADS_1


__ADS_2