
Dimas kembali menaruh ponselnya di atas meja. Matanya menatap penuh selidik pada Resti. Untuk beberapa saat, Resti hanya diam. Ia terlihat seakan tengah bimbang dengan keputusan yang harus diambilnya.
"Aku ... takut," ucap Resti kemudian.
Kedua alis Dimas terangkat tinggi mendengar ucapan Resti. Akan tetapi, Resti tahu apa yang Dimas pikirkan saat ini. Ia pun menjelaskan, bagaimana Riska mengancamnya tadi. Mendengar cerita Resti, Dimas menghela napas dalam.
"Kalau begitu, tidak perlu kita beritahu. Tidak ada kesalahan, yang bisa disembunyikan terlalu lama. Sekali pun Raka mengetahui dan memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya, itu bukan urusanmu. Lagi pula, kejadian itu terjadi setelah kalian bercerai." Dimas kembali mengambil garpu dan sendok. Ia mulai melahap makanan di depannya.
Sesaat, Resti merenungkan ucapan Dimas. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Semua keputusan, ada di tangan Raka. Seandainya kuberitahu pun, semua itu tidak berguna. Raka terlalu mencintai dia. Karena itu, Riska bisa berbuat sekehendak hatinya, gumam Resti dalam hati.
Wanita itu pun memilih diam dan mengabaikan tindakan Riska. ia ikut menyantap hidangan yang sudah tersedia di hadapannya.
***
Satu minggu berlalu. Bayu sudah mendapatkan informasi, tentang kecelakaan yang Raka alami. Saking terkejutnya, ia berjalan cepat menuju ruangan Raka. Namun, ia membeku, ketika mendapati Riska di sana.
__ADS_1
"Dasar gak sopan! Emang kamu gak bisa ketuk pintu dulu?" maki Riska padanya.
Sementara itu, Raka hanya memfokuskan diri pada pekerjaannya. Bayu pun melirik pada Raka. Senyum tipis terukir di sudut bibir pria itu.
"Maafkan saya." Bayu melangkah mendekati meja Raka. "Ini laporan yang, Bos, minta," ucap Bayu menyerahkan file tersebut.
Raka meliriknya dengan ujung mata. Kemudian, mengambil file tersebut. Bayu masih berdiri dengan setia di samping Raka. Sudut bibirnya berkerut menahan senyum. Riska sendiri masih duduk dengan santai di sofa.
"Kau boleh pergi!" titah Raka.
"Baik, Bos." Bayu menundukkan kepala sedikit, lalu meninggalkan ruangan Raka.
"Sepertinya, kau harus pergi dan menghilang dari hadapanku selamanya," ucap Raka, begitu pria itu duduk di sofa.
Riska tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia menatap Raka dengan bola mata yang membesar. Sekian detik, Riska terdiam membeku.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Riska.
"Setelah menyakiti hatiku, kau ingin membunuhku juga?" pekik Raka.
Tubuh Riska membeku mendengar teriakan Raka. Lebih terkejut, saat Raka melemparkan laporan yang tadi dibawakan sang asisten. Ada banyak foto dirinya dengan orang yang ia minta untuk mencelakai Raka. Belum lagi, foto orang tersebut yang kini sudah berada di balik jeruji besi.
"A-aku bisa jelasin semuanya, Raka," ucap Riska.
"Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Mencoba berkelit dari kesalahanmu?" pekik Raka lagi.
"Apa kau pikir aku akan melakukan semua itu, jika kau melupakan mantan istri sialanmu itu dan kembali padaku?" Riska balas berteriak.
Tak lama, Riska menutup mulutnya. Ia lupa, bila Raka mengalami amnesia dan tak mengingat tentang Resti.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan kembali padamu. Sekali pun Resti tidak memaafkan aku," desis Raka.
__ADS_1
Lagi, tubuh Riska membeku. Ia menatap Raka dalam. Pria itu berjalan mendekati Riska, lalu menyudutkannya.
"Aku tidak mengalami amnesia! Aku hanya berpura-pura selama beberapa bulan ini. Sayangnya, aku tidak bisa mengorek apa pun dari mulut manis, tapi beracun milikmu!" Raka yang sempat mencengkeram pipi Riska, kembali menghempaskannya dengan kasar.