
Resti menatap Dimas yang masih memalingkan wajah darinya. Belum habis rasa terkejutnya, wanita itu mendekati Resti dan memeluknya erat. Hal itu semakin membuat Resti bingung.
Penerimaan keluarga Dimas yang begitu terbuka, membuat Resti merasa tak berdaya. Namun, pikiran buruk mulai menghantuinya. Bisakah mereka menerima status Resti yang hanyalah seorang janda?
Tunggu! Aku tidak berniat memberi Dimas peluang. Kenapa aku harus peduli pendapat mereka tentang statusku?
"Ayo, sini, Nak!" Wanita itu menuntun Resti untuk duduk di samping ranjang Dimas. "Dimas itu kalau sakit, manjanya minta ampun. Jadi, kamu harus terbiasa, ya," ujarnya kemudian.
"Maaf, Tante, tapi kami hanya berteman. Jadi, saya rasa ini gak pantes," tolak Resti secara halus.
Benarkan, status mereka hanya berteman? Tidak ada salahnya bila Resti menolak untuk merawat Dimas. Tidak ada kewajiban baginya, untuk melakukan itu.
"Dari teman, 'kan bisa jadi pacar?"
Resti menatap Dimas yang kini terlihat menahan tawa melihat apa yang terjadi pada dirinya. Sorot mata wanita itu seakan meminta bantuan Dimas.
"Mami, ini apaan, sih! Ayo, kita tinggalkan mereka." Pria paruh baya itu menarik istrinya untuk keluar dari dalam ruang rawat Dimas.
Di belakang mereka, Chyntia hanya tertawa melihat tingkah konyol orang tua Dimas. Ia pun, mengikuti mereka keluar. Kini, tinggallah Resti dan Dimas di sana.
__ADS_1
Suasana canggung seketika mendominasi. Resti berdeham sesaat untuk mencairkan suasana. Ia meletakkan karangan bunga yang dibawanya di atas nakas.
"Dimas, sebaiknya kamu beritahu orang tuamu mengenai diriku. Jujur, aku tidak bisa memberimu kesempatan. Aku pernah mencobanya, tapi tidak bisa. Aku tahu, kamu sempat kecewa karena ternyata, perasaanku pada Raka tidak berkurang." Resti berhenti sesaat.
Ia menatap Dimas yang hanya menundukkan pandangan dan memperhatikan jemarinya. Dari raut wajahnya, Resti tahu Dimas tidak ingin mendengar kelanjutan ucapan Resti.
"Aku masih mencintainya," lanjut Resti.
Dimas tertegun mendengar pengakuan Resti. "Bukankah kau bilang kau membenci dia?" tanya Dimas begitu ia tersadar.
"Tapi nyatanya, saat aku melihat dia terbaring lemah, hatiku goyah. Aku bahkan kecewa, saat tahu Raka tidak mengingatku," ucap Resti. Air matanya jatuh berderai, saat mengingat kejadian itu.
"Ya. Ingatan terakhirnya, berhenti sebelum pernikahan kami." Resti menghapus air matanya.
Dimas mengambil tisu yang ada di atas nakas, lalu memberikannya pada Resti. Tangan Resti terulur menerima tisu itu.
"Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Dimas lagi.
"Dia sudah kembali ke Jakarta. Dokter bilang, amnesianya hanya sementara."
__ADS_1
"Maaf, aku tidak menemanimu disaat seperti itu," ucap Dimas.
Entah mengapa, Resti merasa Dimas masih menaruh perhatian penuh padanya. "Dim, aku mau kamu melupakan aku. Jangan biarkan hatimu terluka hanya karena aku. Tolong, lupakan aku," pinta Resti.
"Aku tahu, sejak awal aku bertemu mantan suamimu, aku sangat yakin kau mencintai dia. Tapi, entah mengapa aku ingin tetap berusaha, meski tahu aku akan terluka pada akhirnya. Sama sepertimu yang tidak mudah menghapus jejak dia, biarkan aku tetap menyimpan jejakmu di hatiku." Dimas terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus tersakiti. Aku harap, kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri. Ini, terakhir kalinya kita bertemu."
Resti bangkit berdiri dan meninggalkan ruang rawat Dimas. Di depan, ia bertemu dengan orang tua Dimas.
"Tante, maaf karena aku sudah menyakiti Dimas. Aku tidak bisa membalas perasaannya. Aku masih mencintai mantan suamiku," ucap Resti.
Raut wajah ibu Dimas terkejut. "Kamu ... janda?" tanyanya.
"Iya," jawab Resti singkat.
Ibu Dimas tak lagi menatap Resti. Ia segera meninggalkan Resti di sana, disusul ayah Dimas. Sementara Chyntia masih sedikit syok mendengar pengakuan Resti.
"Aku pamit, Mbak. Terima kasih untuk semua kebaikan, Mbak." Resti tersenyum getir dan berlalu.
__ADS_1