Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 65 ~ Ungkapan Dimas


__ADS_3

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak," pamit Resti. Wanita itu tak membalas senyum Raka dan Bayu.


Setelah mendapat persetujuan, ia mengayunkan langkah keluar. Raka hanya menatap punggung wanita itu hingga menghilang di balik pintu.


Resti melanjutkan pekerjaannya. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan kehadiran Raka. Meski sejujurnya, hati Resti merasa gelisah tak menentu.


Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Resti pun segera merapikan pekerjaannya dan memilih makan di dekat kantor. Ia sedang tak ingin berada di lingkungan kantor.


Semenjak kehadiran Raka, ada banyak gosip yang beredar tentang dirinya. Bahkan, mereka menyebut Resti adalah penggoda. Resti tak ambil pusing dengan omongan orang lain tentang dirinya. Selama ia tak menanggapi Dimas atau pun Raka.


Ia pun menuju sebuah kafe yang menyediakan berbagai macam dessert, camilan dan kopi. Kali ini, Resti sedang tidak ingin makan. Karenanya, ia lebih memilih dessert dan camilan.


Setelah memesan, wanita itu pun duduk tak jauh dari meja kasir. Sambil menunggu pesanan, Resti memainkan ponselnya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang.

__ADS_1


Resti mengangkat pandangannya. Senyum Dimas terlihat merekah. Resti pun menghela napas kasar. Matanya menatap sekeliling. Sayang, kafe tersebut sedang penuh. Hanya dirinya yang duduk sendiri.


"Silakan," jawab Resti.


Tak lama, pesanan Resti datang. "Mbak, tolong dibungkus aja, ya. Saya buru-buru mau balik ke kantor," pinta Resti.


"Baik. Silakan ditunggu," sahut waiters.


Setelah waiters itu pergi, terdengar dengusan dari Dimas. "Sampai kapan kau akan menghindari ku?" tanya Dimas.


Genggaman di jemari Resti, membuatnya menoleh pada Dimas. Untuk sesaat, mereka saling menatap satu sama lain.


"Aku sudah menyukaimu sejak kita duduk di bangku SMA. Tapi, aku terlalu takut menyatakan perasaanku padamu. Terlebih, kamu gadis yang pintar saat itu. Akhirnya, aku ingin memantapkan diri. Merubah diriku, agar sepadan denganmu. Belajar sungguh-sungguh dan memilih untuk tetap setia mencintaimu.


"Setelah lulus kuliah, aku mencari keberadaan mu ke Jakarta. Sayangnya, aku terlambat. Tetanggamu bilang, kamu pergi setelah kepergian orang tuamu. Hanya sesekali kamu kembali ke sana. Aku tanya tempat tinggalnya pada teman-teman yang lain. Mereka bilang, tidak tahu. Kamu menghilang bak ditelan bumi. Karena itu, aku kembali ke kota ini. "

__ADS_1


Dimas menjeda ucapannya. Kembali mengangkat pandangan ke arah Resti. Kemudian, menggenggam kedua tangan wanita itu lembut.


"Salahku memang, yang terlalu percaya pada ucapan dia. Karena dia bilang, kau adalah istrinya bukan mantan istrinya," lanjut Dimas. "Salahku juga, yang tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan semua.


"Saat itu, aku tidak ingin menjadi orang yang merusak rumah tanggamu. Aku tidak ingin, kau menjadi istri yang ... kau pasti tahu maksudku." Dimas kembali menatap Resti dalam.


"Aku mengerti," ucap Resti kemudian. "Kau tahu alasanku menjauhimu?" tanya Resti.


Dimas menggelengkan kepalanya. Resti tersenyum pahit saat mengenang kebersamaannya dengan Raka. Luka itu, seakan kembali menganga.


"Karena hanya luka yang kudapat saat menikah dengan Raka dulu. Dia bahkan dengan tega, memutuskan untuk membiarkan anak kami diambil." Resti menghapus air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.


"Aku tahu, saat itu kondisinya tidak memungkinkan untuk mempertahankan dia. Tapi, saat itu Raka sedang menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Itu yang membuat aku terluka. Hingga akhirnya, aku memilih untuk pergi.


"Aku juga tak berniat membuka hatiku pada siapa pun. Termasuk dirimu." Resti menatap Dimas.

__ADS_1


Dimas terperangah. Dalam benaknya, muncul berbagai pertanyaan. Sedalam itukah luka yang Resti miliki? Namun, ia tidak melontarkannya.


__ADS_2