Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 42 ~ Tak sama


__ADS_3

Raka tengah menatap foto yang masih tersimpan dalam galerinya. Ia sempat mengabadikan kebersamaan dengan Resti, yang kini berstatus sebagai mantan istrinya. Kenangan demi kenangan bermunculan dalam benaknya.


Dulu, Resti selalu memprioritaskan dirinya. Menghubungi dia untuk sekedar mengingatkan makan siang, menyiapkan bekal, menyiapkan pakaian, bahkan melayani setiap kebutuhan Raka. Sementara bersama Riska, ia tak mendapatkan semua itu.


Resti jugalah yang selalu bersabar menghadapi keegoisannya. Bersama Riska, justru sebaliknya. Raka lah yang harus mengerti dia. Di tengah lamunannya, Raka terkejut dengan kecupan yang mendarat di pipi.


"Kamu sudah kembali?" tanyanya setelah melihat siapa orang yang mengecupnya.


"Aku kangen kamu soalnya," jawab Riska seraya memeluk Raka dari belakang.


Senyum di wajah Raka terbit. Ia mengusap lembut lengan Riska. Kemudian, membalik posisi dan menghadap sang kekasih.


"Jadi, kapan kita menikah?" Riska bergelayut manja pada Raka.


"Sabar, ya. Aku mau mama dan papa terima kamu sepenuhnya, baru kita menikah."


Wajah Riska berubah masam. Kalau mereka terima. Kalau gak, sampai kapan gue nunggu? Gue bosen kerja terus. Tapi ... gak apa deh. Paling gak, gue dapat hal yang lain, ucap Riska dalam hati.

__ADS_1


Seketika, wajah masam itu berubah cerah. Hal itu, membuat Raka mengernyit dalam. Ia sama sekali tak bisa menebak apa isi hati sang kekasih.


"Kenapa tiba-tiba tersenyum?" Raka pun memutuskan bertanya.


"Hmm, gak apa. Kamu benar. Kalau tante dan om terima aku sepenuhnya, mereka akan menganggapku menantu kesayangan." Riska berkilah.


Raka pun tersenyum. Tangannya menyampaikan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang kekasih. Sepersekian detik, mereka saling menatap. Tak lama, terlihat Riska mengambil inisiatif untuk mencium Raka. Menyadari hal itu, Raka menghindar.


"Kenapa kamu menghindar?" Riska terlihat kesal.


"Ini di kantor. Gak pantas kita melakukan hal seperti itu di sini. Bagaimana kalau karyawan lain melihatnya?"


"Gak bisa gitu, Sayang. Kalau begitu caranya, aku yang akan dipecat mama dan papa," jelas Raka.


Helaan napas kasar, terdengar dari Riska. Lagi-lagi, benak Raka membandingkan Riska dan Resti. Namun, ia tetap memaklumi perbuatan Riska.


"Makan, yuk! Aku laper," ajak Riska.

__ADS_1


"Mau makan di mana?" tanya Raka.


"Ah, aku punya satu tempat yang enak banget. Kita ke sana, ya." Riska bangkit berdiri, lalu menarik lengan Raka.


Raka segera mengambil kunci mobil dan dompet dari atas meja, sebelum mengikuti langkah Riska. Keduanya tak segan menunjukkan kemesraan di depan banyak orang. Termasuk Bayu. Pria itu memutar bola matanya melihat kelakuan mereka.


"Kaya gak ada tempat aja buat mesra-mesraan," gumam Bayu.


Riska yang mendengar hal itu, menghentikan langkah. Kemudian, ia berbalik dan menatap Bayu tak suka.


"Lo gak suka? Gak usah kerja di sini!" ucap Riska kesal.


Bayu mengendikkan bahunya tak peduli. Raka yang merasa tak enak dengan karyawan yang lain, mencoba menenangkan Riska. Sayangnya, wanita itu sudah terlanjur marah.


"Aku udah gak pengen makan." Riska menghempaskan tangan Raka yang menahan dirinya.


Sadar tak bisa membujuk Riska, ia pun melepaskan pegangannya. Tatapan tajam Riska berikan pada Raka. Kemudian, ia menghentakkan kaki keras dan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Gimana, bedakan dari Resti? Resti, lebih baik dari dia," bisik Bayu setelah Riska pergi.


Raka terdiam mendengar ucapan Bayu. Namun, ia tak menampiknya sedikit pun. Mereka sangat berbeda.


__ADS_2