
Raka berusaha melupakan apa yang dilihatnya tadi. Namun, seberapa keras ia mencoba, bayang Dimas yang menatap penuh cinta pada Resti, terus menari indah di pelupuk matanya.
"Ah, brengsek!" makinya.
Ia menyugar kasar rambutnya. Rasa frustasi semakin menderanya. Bayu datang dan menyerahkan laporan yang Raka minta. Raut wajahnya terlihat kesal, membuat Bayu menghela napas dalam.
"Kenapa Lo?" tanya Bayu. Kali ini, ia menggunakan bahasa informal pada Raka.
Tak ada jawaban dari Raka. Ia hanya diam, seakan fokus pada berkas di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia menutup berkas itu dengan kasar. Membuat Bayu terjingkat kaget.
"Arrgghh, kenapa gak bisa dilupain, sih!" kesal Raka. Ia semakin mengacak rambutnya.
"Lo kenapa, sih?" ulang Bayu.
Sebelum menceritakan semua, Raka menghela napas dalam. Kemudian, mengalirlah cerita yang ia lihat tadi. Bayu mendengarkannya dengan seksama.
"Begitulah. Menurut Lo, apa yang harus gue lakuin?" Raka menatap Bayu penuh harap.
Bayu mengerucutkan bibirnya. Mungkin, ia sedang memikirkan cara yang terbaik. Dengan sabar, Raka menanti jawaban dari sahabatnya itu.
"Kau butuh usaha yang lebih keras lagi!" Bayu menatap Raka dengan tatapan serius.
__ADS_1
Seketika, Raka memukul pundak Bayu kuat. Tak peduli dengan rintihan sang sahabat. Ia bahkan mengusir Bayu keluar dari ruangannya.
"Biar Lo tahu gimana sulitnya Resti meraih hati Lo dulu!" teriak Bayu dari ambang pintu.
Mendengar hal itu, Raka yang masih kesal pun melempar pena yang ada di tangannya ke arah Bayu. Pria itu tertawa melihat reaksi Raka. Usai menggoda sahabatnya, ia pun menutup pintu.
Lagi, Raka termenung. Ia kembali teringat dengan kejadian hampir satu tahun lalu. Namun, semua tak lagi bisa kembali.
***
Resti baru saja selesai membuat pesanan. Semenjak di Jakarta, Resti kembali menggeluti dunia memasak. Entah itu cake, ataupun makanan, ia dalami.
Beberapa teman yang mengetahui cita rasa kue dan makanan buatan Resti, sering memesan padanya. Dimas bahkan sering datang ke rumah Resti, untuk sekedar makan.
Wanita itu segera mengganti pakaiannya. Setelah mengoleskan sedikit makeup, Resti segera mengantarkan kue tersebut.
"Mau ke mana?" tanya sebuah suara.
Resti menoleh cepat, saat terdengar suara yang begitu familiar. Raka tersenyum pada mantan istrinya itu.
"Sejak kapan, Mas Raka, di sini?" tanya Resti balik.
__ADS_1
"Baru saja," jawabnya singkat.
Setelah memastikan pintu terkunci, Resti berbalik menatap Raka. "Apa ada titipan dari mama lagi?"
"Tidak ada." Raka menggelengkan kepalanya.
Suasana hening pun tercipta. Pasalnya, setiap Raka datang, pasti membawa sesuatu yang dibuat oleh Dewi untuknya. Namun, ketika pria itu datang tanpa membawa sesuatu, membuat Resti sedikit terkejut.
"Terus, kenapa, Mas, di sini?" tanya Resti lagi.
"Ingin bertemu kamu," jawab Raka tanpa sedikit pun keraguan.
"Mas, lupa, ya? Tadi pagi kita, 'kan udah ketemu." Resti mencoba mengingatkan. Mungkin saja Raka lupa akan hal itu.
"Aku tahu." Raka melangkah perlahan ke arah Resti.
Jantung Resti berdegup cepat saat melihat tatapan Raka yang terlihat tajam. Tanpa sadar, wanita itu memundurkan langkahnya.
Apa, Mas Raka, tahu, kalau yang terjadi tadi pagi itu hanya sandiwara? tanya Resti dalam hati.
"M-mas, ... jangan terlalu dekat!" pinta Resti.
__ADS_1
"Kenapa? Apa hanya Dimas yang boleh berdekatan dengan kamu?" tanya Raka.
Kali ini, Resti bisa mendengar kalimat sarkas dari Raka. Pria itu, mengurung tubuh mungil Resti dengan kedua tangannya.