Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 82 ~ Hampir saja


__ADS_3

Secepat kilat Riska meninggalkan ruangan Raka. Tubuhnya bergetar hebat, kala mendapati sikap Raka yang tak pernah ia lihat. Raka sendiri, masih mencoba menahan amarahnya yang hampir meledak.


Tak lama, pintu ruangannya kembali terbuka. Kali ini, Bayu datang menemuinya. Beberapa saat, ia hanya berdiri dalam diam. Menanti Raka memberikan perintah selanjutnya.


"Bay, segera buat laporan tentang kecelakaan ini. Riska terlalu berbahaya, bila harus tetap berkeliaran." Raka menyerahkan semua bukti pada Bayu.


"Okay! Gue cukup lega, dengan keputusan Lo ini. Awalnya, gue sempat ragu, apa Lo akan memaafkan, atau menindak lanjuti perkara ini," jujur Bayu.


Sejenak, Raka terdiam. Ia menatap kosong meja yang ada di depannya. "Awalnya, gue emang mau maafin Riska. Berharap, dia belajar dari kesalahannya dulu. Tapi, saat dia bilang semua karena gue, itu bikin gue ngerasa kalau dia itu gak akan pernah berhenti, sampai tujuannya tercapai." Raka menatap Bayu.


"Lo benar. Dia adalah orang yang cukup ambisius." Bayu terdiam sesaat, kemudian, "Baiklah. Gue lanjutkan pekerjaan dulu," pamit Bayu.


Raka hanya menjawab dengan berdeham. Setelah Bayu menutup pintu ruangannya, Raka kembali termenung.


***

__ADS_1


Resti baru saja keluar dari sebuah toko. Berkali-kali wanita itu mengenduskan penciumannya pada paper bag. Aroma roti yang menggugah selera, membuatnya tak sabar untuk segera memakan roti tersebut.


Ia terus menelusuri jalan menuju tempat kerja Dimas. Sebelumnya, pria itu meminta bantuan Resti untuk membeli roti yang tengah viral karena Dimas tak bisa keluar. Pria itu, tengah mengadakan meeting penting.


Sialnya, Resti tak melihat ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya. Saat menyadarinya, Resti tak lagi mampu untuk menghindar.


"Arrgghh," pekik Resti sekuat tenaga.


Terdengar suara benturan keras yang membuat sakit telinga. Seketika, banyak orang berkerumun di sekitar mobil itu. Bagian depan mobil sudah rusak parah karena menghantam pagar pembatas jalan.


Wanita itu selamat! Ia jatuh menimpa sesuatu yang cukup kuat menahan berat tubuhnya. Matanya masih terpejam karena rasa takut. Tak hanya itu, tubuhnya pun bergetar hebat.


"Kamu gak apa, 'kan?" tanya orang yang menyelamatkan Resti terbata.


Perlahan, matanya mulai terbuka. Menyadari orang yang menolongnya Dimas, Resti langsung memeluk pria itu. Dimas tersenyum geli mendapati reaksi Resti yang memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Saat Dimas ingin membalas pelukannya, ia berteriak kesakitan.Namun, tangan kanan Dimas tak bisa digerakkan. Ada rasa sakit yang begitu luar biasa di sana hingga membuat Dimas berteriak.


Resti segera berdiri dan memeriksa kondisi tangan Dimas. "Maaf, ya, Dim. Karena aku kamu jadi celaka," ucap Resti di sela tangisnya.


"Sstt, bukan salah kamu. Jangan nangis lagi, ya," bujuk Dimas.


Tak lama, terdengar ambulance datang. Mereka segera mengangkat tubuh Dimas ke atas brankar. Kemudian, petugas beralih pada pengemudi yang juga tertimpa kejadian naas itu


Resti menutup mulutnya tak percaya. Di sana, tubuh Riska sudah berlumuran darah. Ambulance pun meninggalkan lokasi kejadian.


***


Di rumah sakit, dokter segera menangani pasiennya. "Pasien tidak apa. Hanya terkilir di bagian bahu. Kami akan memasang gips, sampai bahunya pulih," ujar sang Dokter.


"Terima kasih banyak, Dok," ucap Resti. "Dok, boleh saya bertanya tentang pasien satu lagi?" tanya Resti.

__ADS_1


"Oh, pasien yang dibawa bersama dengan teman, Anda?"tanya Dokter. Melihat Resti menganggukkan kepala, Dokter pun mengatakan, "Pendarahannya cukup hebat, Dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Doakan saja, semoga kami berhasil menyelamatkan dia," harap Dokter itu.


__ADS_2