
Setelah menyusuri beberapa kota, kini Raka akan menuju kota terakhir. Cabang yang baru saja dibuka. Sebelum ia berangkat, Riska menghubunginya.
"Halo," sapa Raka begitu panggilan tersambung.
"Aku menemukan Resti di Yogya."
Seketika, Raka terdiam membisu. Ia tak lagi mendengar setiap kata yang diucapkan Riska selanjutnya. Tanpa pikir panjang, pria itu memutus panggilan sepihak. Ia bergegas membereskan barang-barangnya.
Dengan langkah terburu-buru, Raka menuju bandara. Wajahnya tersenyum cerah sejak menerima kabar keberadaan sang mantan istri. Tunggu aku. Aku akan datang padamu! gumamnya dalam hati.
Sementara di Yogya, Riska tersenyum miring menatap ponselnya. Kemudian, segera merendam tubuhnya yang lelah ke dalam bath up.
***
Sesaat setelah pergi, Resti menghampiri Dimas, Adam serta ayah dari Adam yang menunggunya di minimarket. Ia tersenyum pada ketiga pria yang menantinya di sana.
"Sudah selesai?" tanya Dimas.
Resti hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kemudian, mengulurkan tangannya pada Adam. Dengan senyum manisnya, Adam menyambut uluran tangan Resti. Mereka pun berjalan lebih dulu dari para pria dewasa di belakang mereka.
__ADS_1
"Mereka mau kemana?" tanya ayah Adam.
Dimas hanya mengendikkan bahu. Sejujurnya, ia memang tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Pada akhirnya, kedua pria itu mengikuti Adam dan Resti.
Mereka berhenti di depan kedai es krim yang sedang viral. Dimas dan sang kakak hanya menghela napas lelah melihat kelakuan Resti yang mirip dengan Adam.
"Padahal, aku melarang Adam memakan es krim terlalu banyak. Astaga! Chintya bisa ngamuk kalau tahu nanti," keluh ayah dari Adam.
Dimas hanya menepuk pundak kakak sepupunya lembut. "Aku ikut prihatin dengan kondisimu," ucapnya lirih.
Keduanya pun masuk ke dalam kedai tersebut. Terlihat, Resti dan Adam yang duduk menunggu pesanan datang. Mereka pun ikut bergabung.
"Kalau, Papa, gak bilang, mama gak akan tahu," jawab Adam.
"Memang, Mbak Chintya marah, ya, kalau Adam banyak makan es krim?" tanya Resti polos.
Ayah dari Adam menganggukkan kepala dengan wajah memelas. Resti beralih menatap Dimas yang duduk di sampingnya. Pria itu pun melakukan hal yang sama.
"Oh my God!" seru Resti lirih.
__ADS_1
Namun, Resti tak bisa berbuat apa-apa saat pelayan datang dan menghidangkan es krim yang dipesannya tadi. Bahkan, Adam segera melahapnya dengan semangat. Tidak butuh waktu lama bagi Adam untuk menghabiskan es krim dalam porsi besar itu.
"Hmmm ... enak!" Wajah Adam terlihat berbinar.
***
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, Raka tiba di Yogyakarta. Raka bisa melihat Riska yang menunggu kedatangannya. Mereka saling melempar senyum satu sama lain.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Riska ketika mereka berdampingan.
"Cukup melelahkan. Tapi, aku bersemangat!" bisik Raka di akhir kalimatnya.
Riska terkekeh mendengar penuturan pria itu. Mereka segera menuju rumah yang akan Raka tempati selama tinggal di Yogya. Dalam perjalanan ke sana, Riska menceritakan pertemuannya dengan Resti.
Raut wajah Raka berubah sendu setelah mendengarkan cerita mantan kekasihnya itu. Haruskah aku menyerah? Tidak! Aku belum mencobanya sedikit pun, gumam Raka dalam hati.
"Jadi, dia tidak menerima permintaan maafmu, tapi malah mengusirmu?" Raka menarik kesimpulan dari cerita Resti.
"Ya, begitulah." Riska menundukkan kepala dalam.
__ADS_1
Raka mengusap lembut puncak kepala Riska. "Tidak apa. Mungkin, Resti belum bisa membuka pintu maaf sekarang. Lagi pula, aku yang seharusnya meminta maaf pada dia."