Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 49 ~ we are friend


__ADS_3

Jika saja waktu bisa diputar kembali, siapa yang tidak ingin memperbaiki masa lalu? Setiap orang, pasti akan melakukan hal itu. Sayangnya, penyesalan tinggallah penyesalan.


Raka menatap foto Resti yang ada dalam ponselnya. Tanpa terasa, air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Maaf." Hanya itu kata yang terucap dari bibir Raka. Sungguh, ia ingin bertemu dengan Resti kembali.


"Tuhan, beri aku satu kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku benar-benar ingin meminta maaf padanya." Raka menangis tersedu. "Aku tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa bertemu dengannya lagi." Raka kembali menyalakan semangatnya.


Pria itu pun menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Kemudian, menghubungi Bayu. Pada dering pertama, orang yang Raka hubungi langsung menjawabnya.


"Bay, cabang kita tersebar di mana saja?" tanyanya tiba-tiba.


"Kenapa Lo tiba-tiba nanyain perusahaan cabang? Bukannya lo lagi fokus mencari Resti?"


"Iya, tapi sulit." Raka mendesah lelah.


"Terus, Lo nyerah?"


Dari nada suara Bayu, Raka bisa menangkap bila asistennya itu tengah mengejek dirinya. Tidak tahukah Bayu seberapa besar usaha Raka mencari Resti?


"Terserah! Gue butuh healing!" Raka memutuskan panggilan secara sepihak.

__ADS_1


Tak lama, sebuah pesan masuk. Raka membukanya. Rupanya, Bayu mengirimkan lokasi perusahaan cabang yang dimiliki perusahaannya. Ia juga mengirimkan data tentang perusahaan-perusahaan itu.


"Kau pasti ada di salah satu kota ini," ucap Raka seraya menatap pesan yang Bayu kirimkan.


***


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Resti setelah pertimbangan yang cukup panjang.


Dimas menganggukkan kepala. Keduanya pun menjauhi kerumunan itu. Mereka berdiri saling berhadapan.


"Apa sebenarnya maumu?" tanya Resti to the point.


Resti mengerutkan dahi dalam. "Setahuku, kau tidak pernah ingin dekat dengan wanita," ujar Resti.


"Bukan tidak ingin. Hanya menjaga batasan. Saat itu, aku tidak ingin menjalin hubungan lebih dari teman." Dimas mengutarakan alasannya.


"Lalu sekarang?" tanya Resti lagi.


"Sudah saatnya aku membuka hati untuk seseorang." Dimas menatap lembut pada Resti.


"Jujur saja, sejak SMA, aku suda menyukaimu. Tapi, aku ingin fokus dengan studiku dulu. Apalagi, aku akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri," ujar Dimas.

__ADS_1


Pria itu melangkah lebih dekat ke hadapan Resti. Mata keduanya saling bertatapan satu sama lain. Resti bisa melihat kejujuran di sana.


Kenapa kau harus hadir, disaat hatiku sudah mati? gumam Resti dalam hati.


Raut wajah Resti berubah sendu. Dimas bisa melihat kesedihan di mata wanita itu. Apa yang membuatmu bersedih? tanya Dimas dalam hati.


"Aku tahu, ucapanku terlalu terburu-buru. Terlebih, kita tidak pernah berinteraksi sebelumnya. Tapi, kita bisa mulai dengan hubungan pertemanan. Bagaimana?"


Resti mengangkat pandangannya. Ia menatap Dimas lekat. Pria itu menunjukkan kesungguhannya. Helaan napas dalam pun terdengar.


"Hanya teman?" Nada suara Resti terdengar seperti bertanya.


"Saat ini, biarkan hubungan kita menjadi teman. Ke depannya, biarkan mengalir seperti air." Terlebih, jika kau mengijinkan aku memiliki hatimu, lanjut Dimas dalam hati.


"Oke!" jawab Resti.


Mulai saat itu, mereka pun menjalin hubungan pertemanan. Resti berharap, bisa memulihkan rasa sakit yang masih menderanya. Meski ia sudah merelakan hubungannya dengan Raka, tetapi rasa sakit itu tetap ada.


Tidak bisa dipungkiri, perpisahan selalu meninggalkan luka di hati. Terlebih, perpisahannya dengan Raka karena kehadiran orang ketiga.


Aku harap, aku tidak salah mengambil keputusan ini.

__ADS_1


__ADS_2