
Dimas dan Adam duduk di bangku lain bersama kedua orang tua Adam. Mereka menatap meja Resti yang sedang berbincang dengan seseorang. Ia adalah orang yang menangkap Adam tadi.
"Kamu kenal dia?" tanya Bagas ayah Adam.
Dimas menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang kakak. Ia pun baru mengetahui, bila Resti mengenal seorang model yang cukup ternama di industri hiburan. Apa mereka memang dekat? tanya Dimas dalam hati.
Sementara itu di meja Resti, kedua wanita yang kini duduk berhadapan, belum juga memulai pembicaraan mereka. Keduanya terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bagaimana kabarmu?" Lawan bicara Resti, lebih dulu bersuara.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja," jawab Resti datar.
Suasana hening kembali merajai. Dimas yang melihat dari meja lain, dibuat gemas karenanya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Tante."
Suara Adam menginterupsi pembicaraan mereka. Resti menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum. Ia mengangkat tubuh mungil Adam dan memangkunya.
__ADS_1
"Kenapa ke sini?" tanya Resti lirih.
"Habis, Tante, lama banget ngobrolnya. Adam, 'kan pengen main sama, Tante!" seru Adam dengan gaya merajuk.
"Apa dia keponakanmu?" tanya wanita di hadapan Resti.
"Ya," jawab Resti singkat. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga Adam. Tak lama, Adam turun dari pangkuannya. Anak itu berlari menuju meja ayah dan pamannya.
"Tante Resti bisikin apa sama kamu?" tanya Dimas penasaran.
"Rahasia." Anak itu pun duduk diam dengan senyum merekah.
Senyum sinis terukir di wajah wanita yang duduk di hadapan Resti. Ia memajukan tubuhnya sedikit.
"Bagus. Aku tak perlu berbasa-basi. Aku hanya ingin kau jauhi Raka!"
"Bukankah aku sudah menjauh dari kalian? Kenapa? Kau tidak yakin dengan perasaan Raka padamu?" tanya Resti beruntun.
__ADS_1
Resti terkekeh melihat warna wajah Riska yang memerah. Ya, wanita itu adalah mantan kekasih Raka, Riska. Resti tidak menyangka, bila wanita itu mengejarnya hingga ke kota Yogyakarta.
Beberapa menit kemudian, dahi Resti berkerut dalam melihat ekspresi sendu dari wajah Riska. Drama apalagi yang sedang dia mainkan? Dalam hati, Resti menghela napas lelah.
"Aku tahu aku bersalah pernah meninggalkan Raka. Tapi, aku masih sangat mencintai dia." Riska terisak. Kemudian, "Aku juga tahu, sudah salah merusak kebahagiaan kalian. Sekarang, Raka ingin kembali padamu." Riska semakin menangis tergugu.
Banyak mata mulai melirik ke arah mereka. Adam yang sejak tadi terlihat tenang, mulai gelisah. Resti pun meminta Dimas untuk membawa Adam pergi dari sana, dengan isyarat. Dimas mengangguk dan pergi dari sana bersama sang kakak dan keponakannya.
Setelah memastikan Adam keluar dari sana, Resti kembali menatap Riska. "Berhenti bermain drama. Aku tidak akan tersentuh dengan air matamu," ujarnya dingin.
"Dengar! Meski kau menyadari kesalahanmu, itu tidak akan merubah apa yang sudah terjadi padaku. Lagi pula, aku tidak berniat kembali pada Raka sedikit pun. Jika kau datang untuk mengancam dengan cara seperti ini, sebaiknya lupakan."
Riska terdiam mendengar penuturan Resti. Beberapa saat, ia terlihat tertegun mendengar jawaban dari mulut Resti. Sayangnya, Resti tak berhenti sampai di situ.
"Pergi dan jangan pernah temui aku lagi! Anggap saja, pertemuan kali ini tidak pernah terjadi!" Resti bangkit meninggalkan Riska lebih dulu.
Riska segera menghapus air mata yang membasahi pipinya. Tidak ada raut kesal atau marah di sana. Wanita itu hanya menatap Resti yang mulai menjauh.
__ADS_1
"Satu masalah, terselesaikan!"