Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 21 ~ Periksa Kehamilan


__ADS_3

Melihat ekspresi sang suami, membuat Resti memilih diam. Ia pun melewati sang suami begitu saja. Baru beberapa langkah Resti berjalan, Raka memeluknya dari belakang. Membuat Resti diam terpaku.


"Terima kasih, aku sangat senang dengan berita ini. Terima kasih," ucap Raka berkali-kali di telinga sang istri.


Resti menghela napas lega mendengar ucapan Raka. Ia sempat berpikir, bila Raka tak menginginkan anak ini. Air mata pun menetes karena rasa haru.


"Aku pikir, Mas, gak senang dengan kabar kehamilanku."


"Bukan aku tidak senang. Aku terlalu terkejut. Tidak percaya, bila kita mendapat kepercayaan begitu cepat. Maaf, karena belakangan ini, aku sedikit menjauh darimu. Tapi, mulai sekarang aku akan selalu ada untukmu." Raka mengeratkan pelukannya.


Sejenak, mereka melepaskan kerinduan yang terpendam melalui pelukan itu. Tanpa kata yang terucap. Hanya sentuhan dan gerak tubuh yang bicara.


***


Raka mengajak Resti untuk memeriksakan kandungan ke dokter. Mereka segera menuju rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, Raka mencium punggung tangan sang istri berkali-kali.


Tiba di sana, Resti dan Raka dipersilakan memasuki ruang pemeriksaan. Resti terkejut, saat mereka dengan mudah masuk ke sana.


"Kita gak perlu antri, Mas?" tanya Resti heran.


Raka hanya tersenyum. Keduanya pun duduk di depan seorang dokter wanita paruh baya. Wanita itu membalas senyum mereka.


"Jadi, sudah menghasilkan?" tanyanya.


Raka terbahak mendengar pertanyaan itu. Sementara Resti tersipu malu mendengarnya. Dokter pun mulai menanyakan pertanyaan dasar. Mulai dari hari terakhir haid, dan gejala yang mungkin Resti rasakan.


"Oke! Sekarang, ayo berbaring di ranjang, ya," ucap Dokter.

__ADS_1


Resti pun membaringkan tubuhnya. Perawat membantu Resti dengan mengoleskan gel di bagian perutnya.


"Kita periksa dulu, ya," ucap Dokter lembut.


Dokter mulai menggerakkan transducer di bagian yang sudah dioleskan gel. "Ini kantung kehamilannya. Dan ini, bayinya."


Raka menatap takjub kehidupan baru yang muncul di sana. Resti pun ikut tersenyum haru melihat buah cinta mereka tumbuh di sana.


"Kecil sekali," gumam Raka.


"Wajar. Ini masih usia satu minggu. Jadi, masih berbentuk kacang," jawab Dokter. Dokter kemudian, memberi isyarat pada perawat untuk membersihkan gel tadi. Kemudian, kembali ke meja kerjanya.


Raka membantu Resti turun dari ranjang. Senyum bahagia terukir indah di wajah calon orang tua itu. Keduanya pun, kembali duduk di depan Dokter.


"Karena ini kehamilan pertama, tolong dijaga baik-baik, ya. Trimester awal, adalah kehamilan paling rentan."


"Apa ada larangan yang harus dipatuhi, Tan?" tanya Raka antusias.


Raka menganggukkan kepala mengerti. Tangannya menggenggam jemari Resti erat.


"Kalau napsu makannya berkurang, gimana, Dok?" tanya Resti.


"Itu hal yang wajar bagi ibu hamil, di trimester awal. Tapi, kamu harus bisa memaksa untuk tetap makan. Tidak perlu dalam porsi besar. Sedikit, tetapi sering, adalah saran yang tepat. Kalau terlalu mual, kamu bisa mengkonsumsi apa pun yang bergizi." Dokter kembali menjelaskan.


"Apa ada makanan yang harus dihindari, Tan?" Raka kembali bertanya.


"Tidak ada. Semua bisa. Hanya saja, kurangi makanan yang dibakar, ya. Kurang baik bagi ibu hamil. Kurangi juga makanan yang manis. Agar tidak memicu mual dan muntah."

__ADS_1


"Kami mengerti. Terima kasih banyak untuk nasihatnya, Tan," ucap Raka.


"Sama-sama. Ini ada resep beberapa vitamin yang harus di minum. Silakan di ambil ke bagian farmasi, ya," ujar Dokter.


"Baik, Dok."


"Sekali lagi, selamat untuk kehadiran calon malaikat kecil di keluarga kalian. Dijaga dengan baik, ya."


Mereka pun berpamitan dan segera kembali ke rumah dengan rasa bahagia yang membuncah di hati.


"Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Raka.


Resti memikirkan apa yang mungkin saja ingin ia makan. Namun, ia sedang tidak menginginkan apa pun.


"Gak ada, Mas. Aku lagi gak pengen apa-apa sekarang," jawab Resti.


"Nanti, kalau mau sesuatu, segera hubungi aku, ya."


Resti menganggukkan kepala setuju. Ia bergelayut manja pada lengan Raka. Langkah mereka terhenti, saat melihat seorang wanita dengan kepala di perban.


"Bukannya itu Riska?" tanya Resti.


"Kau benar," jawab Raka.


"Dia kenapa, Mas?" tanya Resti lagi.


Raka mengendikkan bahunya sebagai jawaban. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada mantannya itu. Beberapa kali Riska memang menghubunginya. Namun, Raka tak menanggapi. Saat itu, ia masih merasa bimbang. Sekarang, Raka sudah memutuskan untuk merajut rumah tangganya dengan baik.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pergi," bisik Raka.


Resti menganggukkan kepala dan mengikuti langkah sang suami. Namun, langkah mereka terhenti karena Riska menghadang mereka.


__ADS_2