
Resti melempar dirinya ke sofa. Raut wajahnya tak seburuk sebelum ia bertemu dengan Raka. Senyum mulai merekah di wajah cantiknya. Dimas menatap wanita itu dengan gelengan kepala.
"Cih! Bertemu begitu saja, kamu sudah terlihat senang begini. Apalagi kalau dia ngajak jalan," cibir Dimas dengan nada kesal.
Entah apa yang ada dipikiran wanita yang duduk di depannya ini. Dimas sama sekali tak bisa merabanya. Resti tak peduli dengan cibiran sahabatnya itu.
"Biarin aja," ucapnya. Resti pun bangkit dan masuk ke kamarnya.
Dimas hanya menatap punggung Resti hingga menghilang di balik pintu. "Seandainya aku Raka," gumamnya.
Pria itu teringat akan kejadian setelah Riska pergi. Saat itu, Dimas kembali menyatakan cintanya pada Resti. Namun, dengan cepat wanita itu menolak dirinya.
"*Maaf, Dim. Aku sudah berusaha membuka hati untukmu. Tapi, aku tetap tidak bisa merubah perasaan ini," ucap Resti saat itu.
"Apa kamu masih takut terluka? Aku terlalu mencintaimu, hingga tidak terpikirkan cara menyakitimu," ujar Dimas meyakinkan Resti.
"Aku tahu. Sayangnya, seluruh hatiku sudah dipenuhi dengan Raka. Meski dia sudah menyakitiku berkali-kali, aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini." Resti menitikkan air mata.
Dimas menghapus jejak air mata di pipi Resti, lalu memeluk wanita itu. Meski Resti tak membalas pelukan Dimas, pria itu tetap memeluknya penuh rasa cinta.
"Jadi, aku sama sekali tidak punya tempat di hatimu?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Kamu punya tempat tersendiri di hatiku. Tapi, sebagai sahabat, kakak, dan saudara. Apa kamu keberatan?" Resti menatap Dimas lekat.
Dimas hanya tersenyum kaku. Hampir dua bulan, hubungan antara Dimas dan Resti sempat merenggang. Setelahnya, ia bisa bersikap seperti biasa*.
Senyum getir terlihat di wajah Dimas, ketika lamunannya berakhir. Helaan napas panjang Dimas embuskan.
"Res, aku pulang, ya," pamit Dimas dengan sedikit berteriak.
Baru beberapa langkah berjalan menjauh, terdengar pintu kamar Resti terbuka. Dimas menoleh pada wanita itu.
"Ya, udah. Hati-hati, ya," ucap Resti. "Oh, iya. Tolong tutup pintunya sekalian," pinta Resti kemudian. Pintu kamar Resti kembali tertutup.
***
Raka memasuki ruang kantornya. Baru saja ia duduk di kursi kebesarannya, pintu terbuka. Rupanya, Dewi dan Ibra yang datang.
"Ma, Pa," sapa Raka.
Pria itu menghampiri kedua orang tuanya dan menyambut mereka hangat. Dewi dan Ibra tersenyum melihat perubahan Raka. Kini, putra semata wayang mereka sudah kembali.
"Kenapa langsung ke kantor? Memang gak capek?" tanya Dewi. Mereka duduk bersama di sofa.
__ADS_1
"Kerjaan Raka udah numpuk banget, Ma," jawab Raka.
"Ya, udah. Jangan lupa minum vitamin, ya. Kamu dari luar kota, langsung kerja begini. Bikin mama khawatir," ucap Dewi.
"Raka gak selemah itu, Ma," bela Ibra.
Dewi pun hanya memutar bola matanya malas. Bagaimanapun, Raka memang memiliki sifat yang sama dengan ayahnya dalam hal pekerjaan.
"Oh, iya. Mama punya janji sama Resti?" tanya Raka.
Dewi mengangkat kedua alisnya, pertanda ia bingung. "Tidak. Kenapa?" tanya Dewi penasaran.
"Tadi, Raka ketemu dia di lobi. Katanya, ada janji mau ketemu, Mama. Tapi, ada yang aneh," ujar Raka. Ia sampai mengerutkan dahinya, mengingat kejadian di lobi tadi.
"Aneh, gimana?" tanya Ibra dan Dewi bersamaan.
"Dia bilang, gak jadi ketemu karena, Mama, gak ada di sini," jawab Raka.
Dewi yang mendengar hal itu, seketika tertawa geli. Ibra pun tersenyum mendengar penuturan Raka.
"Dasar gak peka!" seru Dewi dan Ibra hampir bersamaan.
__ADS_1