Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 67 ~ Kecelakaan


__ADS_3

Dimas menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Perbincangan antara dirinya dan Resti kembali terngiang.


Ingin rasanya Dimas menghapus luka di hati Resti. Tak lama, ia mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan ke nomor Resti.


Sementara itu, Resti yang baru selesai mandi, terduduk menatap cermin. Sejujurnya, ia tak menyangka bila Dimas menyimpan rasa untuk dia.


"Seandainya kau datang sebelum Raka, mungkin tidak seperti ini jadinya hatiku. Mungkin, sudah jalan hidupku harus begini," gumamnya.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Resti. Ia menuju nakas dan membuka ponselnya. Terlihat, sebuah pesan dari Dimas.


Dimas


Aku tahu hatimu masih merasakan luka. Tapi, bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuktikan, kalau aku bisa mencintaimu lebih baik dari dirinya?


Resti menghela napas kasar. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.


***


Beberapa hari berlalu. Raka kembali mencoba menemui Resti. Kali ini, pria itu sengaja mendatangi ruangan Resti. Tak peduli dengan tatapan karyawan lain.

__ADS_1


"Aku ingin bicara denganmu. Terserah, kau mau bicara denganku di mana." Raka menarik kursi di depan meja Resti.


Resti yang terkejut melihat kedatangannya, terdiam beberapa saat. Beberapa hari ini, Resti sengaja menghindari Raka.


"Kita bicara di luar." Resti bangkit berdiri meninggalkan ruangannya.


Melihat mantan istrinya pergi, Raka pun mengikuti. Mereka menuju kantin yang masih sepi karena memang belum memasuki waktu makan siang.


"Bicaralah," ucap Resti setelah duduk di salah satu tempat yang jauh dari pendengaran orang lain.


"Aku hanya ingin tahu, pernahkah kamu merasakan kebahagiaan bersamaku, meski sedikit?" tanya Raka.


"Baiklah. Aku tidak perlu bertanya hal seperti itu. Pertanyaan ku yang sebenarnya, Benarkah kau sudah tidak mencintaiku lagi?"


Raka melihat air mata yang tertahan di pelupuk mata Resti. "Jangan menangis! Aku hanya ingin kau memaafkan aku. Jika memang tak ada lagi kesempatan untukku, maka aku akan menyerah. Aku akan segera memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu."


Sebelah tangan Raka terangkat menghapus air mata itu. Setelah itu, ia bangkit berdiri dan pergi. Resti menatap punggung Raka yang semakin menjauh. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan itu.


"Nyatanya, aku tidak sepenting itu untukmu, 'kan?" gumam Resti. Wanita itu pun menangis tertahan.

__ADS_1


***


Raka segera masuk ke mobil. Ia berniat kembali ke kantor cabang, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tak lupa, ia menghubungi Bayu untuk segera memesan tiket ke Jakarta begitu pekerjaan rampung.


"Lo yakin, mau balik ke Jakarta?"


"Ya. Gua sadar, Resti tersakiti terlalu dalam. Oh, iya. Tolong minta pengacara kita untuk mempersiapkan berkas pengalihan beberapa harta untuk Resti," imbuh Raka.


"Untuk apa? Harta gono-gini?"


"Hmm. Sudah, ya. Kita omongin di kantor aja." Raka memutus panggilan. Kemudian, melajukan mobilnya.


Mobil Raka meninggalkan gedung kantor Resti. Di lampu merah, ia tak mampu menghentikan mobilnya hingga mobil tersebut terus melaju tanpa henti.


"Ada apa ini. Kenapa remnya tidak berfungsi?" gumam Raka.


Dari arah kiri, sebuah truk yang melaju tak melihat mobil Raka yang melintas. Kecelakaan pun tak terhindarkan.


Banyak orang mengelilingi jalan tersebut. Raka pun sudah tak sadarkan diri. Luka pria itu, cukup parah.

__ADS_1


Resti yang sudah kembali ke ruangannya, tiba-tiba merasa dadanya sakit. Rasanya teramat sakit, hingga ia jatuh pingsan.


__ADS_2